JAKARTA - Perkembangan motor listrik di Indonesia menunjukkan tren positif. Penjualan kendaraan roda dua listrik sepanjang 2025 tercatat lebih dari 59.000 unit. Namun, angka tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kesiapan seluruh masyarakat untuk meninggalkan motor berbahan bakar bensin.
Minat terhadap motor listrik memang mulai tumbuh seiring harga yang semakin terjangkau dan biaya operasional yang dinilai lebih hemat. Pemerintah juga terus mendorong penggunaan kendaraan listrik melalui pengembangan Ekosistem Motor Listrik Nasional atau Molinas.
Meski demikian, di tengah optimisme industri, sebagian masyarakat masih berada di ambang keraguan. Motor konvensional dinilai masih lebih familiar dan sesuai dengan kondisi kehidupan masyarakat saat ini.
Baca Juga: 5 Bonsai Termahal di Dunia, Ada yang Dijual Rp22 Miliar dalam Satu Lelang
Salah satu tantangan terbesar dalam peralihan menuju kendaraan listrik adalah ketergantungan masyarakat terhadap bensin.
Sejumlah warga mengaku belum terlalu tertarik mengganti motor konvensional dengan motor listrik. Alasannya bukan semata-mata soal teknologi, tetapi juga karena aktivitas ekonomi masyarakat masih banyak bergantung pada bahan bakar minyak.
Ada masyarakat yang memperoleh penghasilan dari aktivitas penjualan bensin. Karena itu, perubahan besar menuju kendaraan listrik dinilai tidak bisa dilakukan secara instan.
Baca Juga: Bonsai Termahal di Dunia, Pinus Berusia 1.000 Tahun Terjual Rp18 Miliar
Kondisi ekonomi masyarakat juga menjadi pertimbangan. Kemampuan setiap keluarga berbeda, mulai dari tingkat pendapatan hingga kebutuhan pengeluaran sehari-hari. Hal tersebut membuat keputusan membeli kendaraan listrik tidak bisa disamaratakan.
Bagi sebagian warga, motor bensin masih menjadi pilihan yang dianggap paling realistis untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari.
Meski keraguan masih muncul, bukan berarti seluruh masyarakat menolak kendaraan listrik. Sebagian warga justru mulai melihat kelebihan motor listrik, terutama dari sisi efisiensi.
Biaya penggunaan yang lebih murah menjadi salah satu alasan utama. Pengguna juga tidak perlu mengeluarkan biaya bensin setiap kali melakukan perjalanan. Motor listrik juga dinilai memiliki kelebihan karena tidak menghasilkan polusi seperti kendaraan berbahan bakar bensin.
Kemudahan tersebut membuat motor listrik mulai dipertimbangkan, terutama oleh masyarakat yang menginginkan kendaraan dengan biaya operasional lebih rendah.
Presiden Prabowo Subianto bahkan menyebut penggunaan motor listrik dapat menghemat biaya mobilitas minimal 50 persen dibandingkan motor bensin. Penghematan tersebut dalam kondisi tertentu disebut dapat mencapai 70 persen.
Di tengah perbedaan pandangan masyarakat, industri motor listrik tetap optimistis terhadap perkembangan pasar nasional.
Baca Juga: Rafaelson Masuk Rumor Pemain Asing ke-11 Persebaya, Tavares Tak Mau Asal Isi Slot
Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli), Budi Setiadi, menilai dukungan pemerintah menjadi faktor penting dalam mempercepat pertumbuhan industri.
Menurut Budi, peluncuran Ekosistem Motor Listrik Nasional menunjukkan komitmen pemerintah untuk mengembangkan kendaraan listrik secara jangka panjang. Saat ini, sebanyak 36 brand disebut telah berada dalam ekosistem Molinas dan siap mendukung pengembangan industri.
Dukungan pemerintah melalui regulasi dan pembiayaan diyakini dapat meningkatkan kepercayaan pasar serta investor. Industri juga terus didorong untuk meningkatkan kualitas kendaraan agar semakin sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Baca Juga: Pencairan PKH BPNT September 2026 Disebut Dipercepat, KPM Harus Cek Status KKS
Perkembangan penjualan menunjukkan motor listrik memiliki peluang besar di Indonesia. Namun, proses menggantikan motor bensin tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.
Harga, kondisi ekonomi, kebiasaan masyarakat, serta kesiapan ekosistem menjadi sejumlah faktor yang akan menentukan cepat atau lambatnya peralihan tersebut.
Dengan dukungan pemerintah dan semakin banyaknya pilihan kendaraan, motor listrik berpeluang menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat Indonesia. Tantangannya kini adalah mengubah minat menjadi keputusan nyata untuk beralih dari kendaraan konvensional.
Editor : Cecilia Dzakira Pasha