JAKARTA - Apple menghadirkan sejumlah pilihan MacBook dengan rentang harga dan kemampuan yang berbeda, mulai dari MacBook Neo untuk kebutuhan dasar hingga MacBook Pro M5 Max yang ditujukan bagi pekerjaan komputasi berat.
Dalam ulasan David, kelima model yang dibandingkan adalah MacBook Neo, MacBook Air M5, MacBook Pro M5, MacBook Pro M5 Pro, dan MacBook Pro M5 Max. Perbedaan harga di antara model tersebut tidak hanya berkaitan dengan kecepatan prosesor, tetapi juga kapasitas memori, layar, konektivitas, sistem pendingin, dan kebutuhan penggunanya.
Harga yang disebut dalam video dimulai dari sekitar Rp13 juta untuk MacBook Neo. Sementara itu, MacBook Air M5 berada di kisaran Rp25 jutaan, MacBook Pro M5 sekitar Rp37 jutaan, dan MacBook Pro M5 Pro sekitar Rp50 jutaan.
Adapun MacBook Pro M5 Max disebut memiliki harga awal sekitar Rp87 juta. Konfigurasi tertingginya, dengan RAM 128GB, penyimpanan 8TB, serta layar nano-texture, diperkirakan dapat menembus Rp200 juta lebih.
Baca Juga: 5 Tablet 2 Jutaan Terbaik 2026, Ada Keyboard hingga Baterai 10.000 mAh
MacBook Neo untuk Pelajar dan Pengguna Pemula
MacBook Neo menjadi pilihan paling terjangkau dalam perbandingan tersebut. Laptop ini menggunakan chip A18 Pro yang juga dipakai pada iPhone 16 Pro.
Meski menggunakan prosesor dari lini ponsel, David menilai performanya cukup mulus untuk kebutuhan harian. Aktivitas seperti membuka aplikasi, browsing, mengedit foto, hingga menyunting video sederhana masih dapat dijalankan dengan nyaman.
MacBook Neo juga memiliki bodi aluminium, layar 13 inci beresolusi 2,4K dengan kecerahan hingga 500 nits, serta cakupan warna 100 persen sRGB. Daya tahan baterainya disebut mampu mencapai lebih dari 10 jam untuk penggunaan kantor, browsing, dan mengetik.
Keunggulan lainnya adalah desain tanpa kipas yang membuat laptop relatif jarang panas dalam penggunaan yang sesuai dengan kemampuannya. Kualitas keyboard, trackpad, speaker, webcam, dan mikrofon juga mendapat apresiasi dari reviewer.
Namun, kapasitas RAM hanya 8GB dan tidak dapat ditambah. Pilihan penyimpanannya juga terbatas pada 256GB atau 512GB. Pengguna yang membutuhkan kapasitas lebih besar harus mengandalkan SSD eksternal.
Konektivitasnya terdiri dari dua port USB-C dengan kecepatan berbeda. Salah satunya menggunakan USB 2, sedangkan port lainnya mendukung USB 3 hingga 10Gbps. Laptop ini juga hanya mendukung satu monitor eksternal hingga 4K 60Hz.
Dengan keterbatasan tersebut, MacBook Neo dinilai sesuai untuk pelajar, mahasiswa, pengguna pemula, dan pekerja dengan kebutuhan komputasi yang belum terlalu kompleks.
MacBook Air M5 untuk Kebutuhan Sehari-hari
MacBook Air M5 disebut sebagai pilihan yang dapat memenuhi kebutuhan banyak pengguna. Model ini menggunakan chip seri M5, dengan RAM mulai 16GB dan penyimpanan awal 512GB.
Menurut David, perbedaan performanya dengan MacBook Neo terasa ketika menjalankan banyak aplikasi sekaligus, mengedit proyek yang lebih rumit, atau melakukan rendering. Dalam skenario pengujian membuka 30 aplikasi, keduanya masih dapat berjalan, tetapi MacBook Air terasa lebih cepat.
MacBook Air tersedia dalam ukuran layar 13 inci dan 15 inci. Layarnya mendukung color gamut P3, sedangkan keyboard sudah dilengkapi lampu latar. Fitur MagSafe juga tersedia untuk pengisian daya.
Dua port Thunderbolt memberikan konektivitas lebih luas dibandingkan MacBook Neo. Dalam ulasan, MacBook Air disebut dapat mendukung dua monitor eksternal sekaligus, selain layar laptopnya sendiri, dengan konfigurasi resolusi dan refresh rate tertentu.
David menilai MacBook Air cocok untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pekerjaan kantor hingga pengeditan foto dan video. Baterainya juga disebut mampu menemani aktivitas seharian tanpa harus terus terhubung ke charger.
Baca Juga: Tablet 5-10 Jutaan Terbaik 2026, Ada iPad hingga Tablet Gaming
MacBook Pro M5 dan M5 Pro untuk Pekerjaan Kreatif
MacBook Pro M5 dibanderol sekitar Rp37 jutaan dalam ulasan. Dibandingkan MacBook Air, model ini menawarkan sistem pendingin aktif dengan kipas, kapasitas penyimpanan awal 1TB, serta konektivitas yang lebih lengkap.
Laptop ini memiliki layar Mini LED XDR berukuran 14,2 inci dengan refresh rate 120Hz. Kecerahan layar disebut mencapai 1.000 nits, dan tersedia opsi nano-texture untuk membantu mengurangi pantulan cahaya.
Sektor audio juga menjadi pembeda. Reviewer menilai speaker MacBook Pro menghasilkan suara lebih berisi dibandingkan MacBook Air, sesuatu yang dapat berguna bagi pengguna yang kerap mengedit audio atau video.
Meski begitu, MacBook Pro M5 masih menggunakan chip dan kapasitas RAM yang sama dengan MacBook Air dalam konfigurasi yang dibandingkan. Karena itu, David menilai peningkatan harganya perlu dipertimbangkan berdasarkan kebutuhan layar, pendinginan, dan port tambahan.
Sementara itu, MacBook Pro M5 Pro ditujukan untuk beban kerja yang lebih berat. Chip M5 Pro memiliki konfigurasi CPU dan GPU lebih besar, dengan pilihan RAM mulai 24GB dan bandwidth memori hingga 300GB per detik.
Model ini juga mendukung Thunderbolt 5 dan memiliki sistem pendingin dengan kipas ganda. Menurut reviewer, perangkat tersebut lebih relevan untuk produksi video, pembuatan aset 3D, pengembangan perangkat lunak, simulasi, dan pekerjaan kreatif profesional.
MacBook Pro M5 Max untuk Beban Kerja Ekstrem
MacBook Pro M5 Max menjadi model tertinggi dalam perbandingan. Chip ini menawarkan jumlah core GPU lebih banyak, bandwidth memori hingga 600GB per detik, serta pilihan RAM hingga 128GB dan penyimpanan hingga 8TB.
David menyebut kapasitas tersebut dapat berguna bagi pekerjaan yang membutuhkan pemrosesan besar, termasuk menjalankan model AI secara lokal atau produksi video berskala tinggi.
Namun, harga awal sekitar Rp87 juta dan konfigurasi yang dapat melampaui Rp200 juta membuat model ini berada pada segmen pengguna dengan kebutuhan khusus dan anggaran produksi besar.
Secara keseluruhan, perbedaan MacBook Neo, Air, Pro M5, M5 Pro, dan M5 Max terletak pada tingkat kebutuhan yang dilayani. Neo ditujukan untuk penggunaan dasar, Air untuk kebutuhan sehari-hari yang lebih luas, sedangkan lini Pro menawarkan peningkatan layar, pendinginan, konektivitas, dan kemampuan pemrosesan sesuai tingkatannya.
Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : gadgetin