JAKARTA - Fast charging menjadi fitur andalan smartphone modern karena mampu mengisi baterai dalam waktu singkat. Namun, teknologi ini juga memunculkan kekhawatiran mengenai usia baterai, terutama bagi pengguna yang terbiasa mengisi daya hingga 100 persen. Hasil pengujian selama 167 hari terhadap iPhone dan HP Android menunjukkan bahwa fast charging tidak selalu mempercepat penurunan kapasitas baterai secara signifikan. Eksperimen tersebut juga mengungkap pengaruh kebiasaan mengisi daya 30–80 persen, membiarkan baterai penuh, hingga mengganti baterai yang sudah menua.
Pengujian dilakukan dengan mengoperasikan sejumlah smartphone secara otomatis selama ratusan siklus pengisian daya. Tujuannya untuk mengetahui apakah perbedaan daya charger benar-benar memengaruhi kesehatan baterai dan apakah kondisi baterai yang menurun turut memengaruhi performa perangkat.
Fast Charging 120 Watt Tak Selalu Mempercepat Kerusakan
Dalam eksperimen utama, iPhone 12 dibagi menjadi kelompok yang menggunakan pengisian daya cepat dan pengisian daya lambat. Sistem otomatis menguras baterai hingga 5 persen sebelum mengisi ulang sampai 100 persen. Proses tersebut diulang hingga mencapai 500 siklus.
Baca Juga: 10 HP Terbaik untuk Multitasking Harga Rp2 Jutaan, Ada Baterai 7.500 mAh
Pengujian serupa dilakukan pada HP Android menggunakan charger 120 watt untuk kelompok fast charging dan 18 watt untuk kelompok pengisian daya lambat.
Setelah 167 hari, kelompok iPhone dengan charger lambat mengalami penurunan kapasitas baterai sebesar 11,8 persen. Sementara itu, kelompok fast charging mencatat penurunan sebesar 12,3 persen.
Perbedaan keduanya hanya 0,5 poin persentase. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penggunaan charger cepat dalam kondisi pengujian ini menghasilkan tingkat keausan yang hampir sama dengan charger lambat.
Temuan pada Android bahkan menunjukkan hasil berbeda. Kelompok pengisian daya lambat mengalami penurunan kapasitas sebesar 8,8 persen, sedangkan kelompok fast charging hanya kehilangan kapasitas sekitar 8,5 persen.
Meski demikian, hasil tersebut tidak berarti semua charger cepat aman dalam setiap kondisi. Suhu perangkat, kualitas charger, sistem pengaturan daya, dan karakteristik baterai tetap dapat memengaruhi usia pemakaian.
Isi Daya 30–80 Persen Bisa Memperlambat Keausan
Kebiasaan menjaga baterai di rentang 30–80 persen juga menjadi bagian dari eksperimen. Dalam pengujian ini, smartphone hanya menggunakan sekitar setengah kapasitas baterai sebelum kembali diisi hingga 80 persen.
Hasilnya, kelompok iPhone yang menggunakan pola tersebut mengalami penurunan kapasitas sekitar 4 poin persentase lebih rendah dibandingkan kelompok fast charging dengan siklus pengisian penuh. Pada Android, selisihnya mencapai sekitar 2,5 poin persentase.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa membatasi rentang pengisian daya memang dapat membantu mengurangi keausan baterai. Namun, manfaatnya tidak terlalu besar sehingga pengguna tidak perlu merasa wajib mempertahankan persentase baterai dalam rentang tersebut setiap saat.
Bagi pengguna yang memiliki fitur pembatasan pengisian daya, pengaturan ini bisa dimanfaatkan untuk membantu menjaga kesehatan baterai. Sementara itu, pengguna yang membutuhkan daya penuh untuk beraktivitas tetap dapat mengisi baterai hingga 100 persen ketika diperlukan.
Baterai 100 Persen Tidak Langsung Kehilangan Kapasitas
Eksperimen berikutnya menguji anggapan bahwa baterai yang dibiarkan penuh akan langsung mengalami penurunan kapasitas. Sejumlah iPhone 12 disiapkan dengan kondisi baterai 1 persen, 50 persen, dan 100 persen, kemudian dimatikan selama satu minggu.
Setelah pengujian selesai, tidak ditemukan perubahan kapasitas baterai yang terukur pada ketiga kelompok tersebut.
Namun, hasil ini hanya berlaku untuk periode pengujian satu minggu. Penyimpanan baterai dalam kondisi penuh untuk waktu lama, terutama pada suhu tinggi, tetap berpotensi mempercepat penuaan baterai.
Karena itu, pengguna tidak perlu panik jika sesekali membiarkan smartphone terisi penuh. Hal yang lebih penting adalah menghindari panas berlebihan dan tidak menyimpan perangkat dalam kondisi ekstrem untuk waktu lama.
Kesehatan Baterai Turun, Kapan Harus Diganti?
Pengujian juga memperlihatkan dampak baterai menua terhadap daya tahan smartphone. iPhone dengan kesehatan baterai 77 persen mati setelah digunakan selama 3 jam 52 menit dalam pengujian berkelanjutan selama empat jam.
Setelah baterai diganti, sejumlah perangkat menunjukkan peningkatan sisa daya sekitar 5–16 persen. Pada HP Android, penggantian baterai meningkatkan sisa daya sekitar 8–10 persen.
Sementara itu, performa pemrosesan perangkat relatif tidak banyak berubah setelah baterai diganti. Meski demikian, baterai yang sudah menurun kondisinya dapat membuat smartphone membatasi performa lebih awal ketika daya hampir habis.
Kesehatan baterai sekitar 85 persen bisa menjadi tanda awal berkurangnya daya tahan. Ketika kapasitasnya mendekati 80 persen, pengguna dapat mulai mempertimbangkan penggantian, terutama jika baterai cepat habis atau perangkat sering mengalami penurunan performa.
Kesimpulannya, fast charging bukan sesuatu yang harus dihindari. Pengguna cukup memakai charger yang sesuai, menjaga suhu perangkat, dan memanfaatkan fitur pembatasan pengisian jika dibutuhkan. Dengan begitu, baterai tetap terawat tanpa membuat aktivitas sehari-hari menjadi lebih merepotkan.
Editor : Maylanni Diana Fitri