Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Deteksi Cedera Lutut dengan Pemeriksaan MRI

M. Subchan Abdullah • Selasa, 12 Desember 2023 | 19:36 WIB
Pemeriksaan Lutut dengan mri
Pemeriksaan Lutut dengan mri

BLITAR-Penyebab cedera lutut dapat bermacam-macam, seperti robekan pada meniskus atau pada ligamen. Meniskus merupakan tulang rawan pada lutut yang berada di atas tulang kering, sedangkan ligamen merupakan suatu organ mirip pita atau tali yang mengikat dan menahan tulang-tulang sekitarnya. Robekan pada meniskus merupakan salah satu yang paling sering terjadi pada kasus cedera lutut ini.

Robekan pada meniskus biasanya terjadi pada saat aktifitas olahraga, lutut yang terpelintir atau mengangkat beban berat yang menyebabkan tekanan berlebih pada lutut. Selain itu, orang dengan berat badan berlebih atau usia lanjut dengan lutut yang mengalami proses degenerasi juga rentan terjadi.

Bagaimana jika kita mengalami cedera lutut? Pemeriksaan fisik oleh dokter Spesialis Orthopedi akan dilakukan sebelum pemberian terapi. Pemeriksaan MRI biasanya juga akan dilakukan untuk memastikan diagnosa cedera lutut. MRI merupakan alat pemindaian yang menggunakan medan magnet dan gelombang radio untuk mendapatkan citra suatu organ.

 Baca Juga: PAD RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar Masih Rendah, DPRD Beri Saran Agar Terus Dilirik Warga saat Persaingan Antar Rumah Sakit Tambah Ketat

Pada cedera lutut ini, pemeriksaan MRI lutut yang disebut MRI Genu merupakan standar dalam investigasi cedera lutut. Dari MRI inilah suatu jaringan lunak dapat digambarkan dengan baik, dapat membedakan antar jaringan lunak seperti ligamen, otot, tendon dan bahkan lemak. Sehingga dapat diketahui apakah penyebab dari cedera lutut tersebut.

Pada MRI Genu, lutut pasien yang cedera akan dilakukan pemindaian. Sebelum pemindaian, radiografer akan melakukan identifikasi pasien dan memeriksa kesesuaian jenis pemeriksaan. Pasien juga akan dilakukan skrining apakah pernah operasi pemasangan pen, operasi pemasangan alat pacu jantung, memakai gigi palsu, mempunyai claustrophobia (takut ruangan sempit). Apabila dari hasil identifikasi dan skrining dinyatakan sudah benar dan aman, selanjutnya pasien akan diberikan penjelasan tentang prosedur pemeriksaan ini.

Sebelum masuk ke dalam ruang MRI, pasien akan diberikan baju ganti terlebih dahulu dan menyimpan atau melepas semua benda logam yang melekat pada tubuh (perhiasan, ponsel, jam tangan) guna menghindari hal yang tidak diinginkan saat pemeriksaan berlangsung. Saat menjalani pemeriksaan MRI Lutut, pasien diposisikan tidur terlentang, posisi kedua lutut lurus, kedua tangan di samping tubuh dan pasien disarankan tidak bergerak selama pemeriksaan guna menghasilkan citra yang bagus dan informatif serta tidak terjadi pengulangan pemindaian yang akan menambah waktu pemeriksaan lebih lama. Lutut yang akan diperiksa akan dipasang RF (Radio Frequency) Coil yaitu suatu komponen pada MRI yang dapat mengirim dan menerima gelombang radio sehingga menghasilkan gambar dari suatu organ yang diperiksa.

 Baca Juga: RSUD Mardi Waluyo Klaim November Sudah Capai 85,95 Persen,Direktur Rsud Mardi Waluyo Sebut Klaim BPJS jadi Faktor Capaian PAD

Pemeriksaan MRI Genu ini akan berlangsung sekitar 40-45 menit. Saat pemeriksaan berlangsung, suara bising dari mesin MRI akan terdengar jelas. Biasanya pasien akan diberikan headset khusus untuk meredam suara bising tersebut. Musik biasanya diperdengarkan melalui headset tersebut agar pasien merasa rileks dan tidak tegang selama pemeriksaan.

Beberapa proses pemindaian akan dilakukan selama pemeriksaan, yang lazim disebut sekuens dalam istilah MRI. Masing-masing sekuens memiliki pola kontras dan gambaran yang berbeda. Sekuens ini berguna untuk memperjelas citra organ yang diperiksa sehingga mudah bagi dokter untuk melihat dan menilai anatomi, morfologi dan patologi serta mendiagnosa kelainan yang nampak. Pada dasarnya, sekuens yang digunakan pada pemeriksaan MRI Genu ini adalah sekuens T1, T2, Proton Density (PD), Short Tau Inversion Recovery (STIR) dan Fat Saturation (FatSat) dengan berbagai variasi yang mempunyai fungsi masing-masing.

Selain pemilihan sekuens, pola irisan gambar juga berperan penting dalam menampilkan citra anatomi beserta kelainan yang ditemukan. Pada umumnya, digunakan irisan axial (melintang), coronal (tampak depan) dan sagital (tampak samping). Masing-masing irisan memiliki fungsi berbeda dan saling berkaitan. Adakalanya digunakan irisan sagital oblik untuk mengevaluasi ligamen cruciatum anterior (Anterior Cruciate Ligamentum/ACL) dan ligamen cruciatum posterior (Posterior Cruciate Ligamentum/PCL).

 Baca Juga: RSUD Mardi Waluyo Tak Sediakan Ruang Khusus Caleg Gagal Di Pemilu 2024, Begini Alasannya..

Menurut Catherine Westbrook dalam buku Handbook of MRI Technique edisi 4 (2014) protokol yang disarankan adalah untuk irisan coronal adalah GRE T1, FSE PD atau FSE T2 dengan/tanpa tissue suppression. Untuk irisan axial menggunakan GRE T2 atau PD dengan tissue suppression, FSE PD/ T2 dengan/tanpa tissue suppression. Untuk irisan sagital menggunakan GRE T2. Untuk irisan sagital oblik menggunakan PD dengan/tanpa tissue suppression.

Dikutip dari sebuah jurnal tentang Teknik MRI Genu (Alexander Chien. dkk. Polish Journal of Radiology 1/2020 (85): e509-e531: Review Paper Magnetic Resonance Imaging of the Knee) menjelaskan bahwa tiap sekuens MRI mempunyai tujuan dan fungsi yang berbeda. Dijelaskan pada sekuens T1 Non FatSat bertujuan untuk untuk mengevaluasi lemak sumsum tulang dan mendeteksi garis fraktur, sedangkan pada sekuens T1 FatSat bertujuan untuk memperjelas gambaran edema tulang dan jaringan lunak. Selain itu, T1 FatSat juga berguna untuk mengkarakterisasi meniskus pasca operasi dengan lebih baik. Sekuens PD merupakan sekuens yang memberikan Signal Noise to Ratio (SNR) dan resolusi spasial yang tinggi dan lebih sensitif dibandingkan sekuens T2 untuk mendeteksi patologis meniskus dan STIR adalah sekuens berguna untuk mendeteksi adanya robekan pada meniscus. Setidaknya pada setiap sekuens T1 atau T2 harus memiliki sekuens PD pada irisan coronal dan sagital.

Selain kelainan pada meniskus, MRI juga dapat mendeteksi kelainan pada ligamen lutut seperti ACL dan PCL. Gambaran anatomi dan kelainan pada ACL dan PCL sangat informatif pada sekuens T2 PD FatSat dengan irisan axial, coronal dan sagital. Penggunaan lapangan medan magnet pada MRI juga berpengaruh pada gambaran yang dihasilkan. Pada MRI 3T dengan kekuatan medan magnet yang lebih kuat, pasti lebih baik dibandingkan dengan MRI 1,5T, baik dari segi waktu pemindaian yang lebih singkat dan detail gambar yang dihasilkan jauh lebih tinggi. Akan tetapi dengan adanya koil lutut akan membuat gambaran terbaik selain kekuatan medan magnet dan pada MRI 1,5T sangat berguna untuk mereduksi artefak logam pada lapangan pemindaian (Field of View).

 Baca Juga: Klaim JKN Belum Terbayarkan Penuh, PAD Mardi Waluyo Blitar Tak Optimal

Keuntungan yang didapatkan dari pemeriksaan ini adalah hasil citra yang sangat baik dan informatif. Selain itu, pemeriksaan ini bebas radiasi karena tidak menggunakan sumber radiasi pengion. Jadi, jika Anda mengalami cedera lutut, segera konsultasi dan periksakan ke dokter Spesialis Orthopedi. (*)

 

 

Editor : M. Subchan Abdullah
#dokter spesialis #mri #cedera lutut #cedera #Kota Blitar