KOTA BLITAR - Belum semua rumah di Bumi Bung Karno memiliki saluran listrik mandiri. Hingga awal tahun ini, ada sejumlah rumah terpaksa numpang listrik dari tetangga maupun kerabat. Mereka biasanya merupakan kategori masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) atau miskin.
Tahun lalu, terdapat sekitar 21 rumah yang sambungan listriknya gabung dengan rumah sebelah. Namun, sebagian di antaranya sudah mendapatkan program sambungan listrik gratis dari pemerintah. Meski begitu, persoalan ini belum tuntas.
"Masih ada, tidak banyak. Tahun ini akan kami upayakan selesaikan," ujar Kepala Bidang (Kabid) Perumahan Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman (DPRKP) Kota Blitar, Widhi Astuti, kemarin (5/3).
Belum mampunya warga memiliki sambungan listrik sendiri tentu jadi pekerjaan rumah (PR) Pemkot Blitar. Itu jika pemkot serius berkomitmen mengurangi kemiskinan tahun ini. Sebab, rumah dalam kondisi tersebut masuk tidak layak huni.
Adapun, penerima bantuan pemasangan listrik sebelumnya diusulkan pihak kelurahan. Bukan hanya yang belum mampu dalam pemasangan listrik, melainkan rumah tidak layak huni masuk dalam database.
"Biasanya yang terjadi, itu rumah hasil bagi waris. Sudah jadi satu, tapi dua keluarga. Satu belum punya listrik, kan masih gabung. Salah satu diusulkan," lanjutnya.
Pemkot bakal menangani 10 rumah untuk dipasang saluran listrik mandiri dengan daya 450 watt dan 900 watt. Penanganan tiap rumah memerlukan anggaran sebanyak Rp 3,5 juta, atau Rp 35 juta untuk 10 rumah.
"Ini bagian dari program menangani kemiskinan di Kota Blitar. Memang kendala sementara ini pada keterbatasan anggaran," paparnya.
Terpisah, Manajer Unit Pelayanan dan Jaringan (UPJ) PLN Blitar, Ocgik Wahyu Dewanto menjelaskan program bantuan pemasangan listrik gratis dari pemerintah itu ada. Tahun ini pihaknya menunggu tindak lanjut dari program tersebut dan usulan dari pemerintah.
"Khusus untuk masyarakat tidak mampu. Datanya dari pemerintah. Dalam hal ini, program dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)," katanya.
Pihaknya tak memungkiri bahwa masih ada masyarakat yang numpang sambungan listrik. Padahal, kondisi itu berpotensi memicu terjadinya korsleting listrik. PLN sendiri tidak mengetahui standar kabel sambungan yang digunakan masyarakat.
"Rumah yang numpang listrik itu sebenarnya sih ya berbahaya. Kami juga tidak tahu standar kabel yang mereka pakai seperti apa. Risiko konsleting bisa terjadi," tandasnya. (luk/din)
Editor : Doni Setiawan