BLITAR – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngudi Waluyo Wlingi mendapatkan kritik kurangnya dokter spesialis, ketika menjabarkan laporan kinerja di hadapanBupati Blitar dan beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) lain, pada Rabu (14/5) lalu.
Merespons hal itu, manajemen akan memberikan rekomendasi studi lanjutan bagi calon dokter spesialis.
Direktur RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, dr Endah Woro Utami mengatakan, salah satu upaya pemenuhan kebutuhan dokterspesialis dilakukan melalui mekanisme pemberian rekomendasi studi lanjutan bagi dokter umum yang berpotensi. Dia memang mengakui bahwa saat ini jumlah dokter spesialis yang tersedia sudah banyak.
Baca Juga: Puluhan Jemaah Haji asal Kabupaten Blitar Kategori Risiko Tinggi Dipantau Ketat Tim Kesehatan
“Sebenarnya di RSUD Ngudi Waluyo sudah banyak dokter spesialis. Namun untuk memenuhi standar kelayakan, usaha kami dengan mengizinkan dan memberikan rekomendasi kepada dokter untuk melanjutkan pendidikan spesialis,” ujarnya, saat ditemui usai kegiatan penyampaian laporan kinerja rumah sakit.
Endah melanjutkan, setelah lulus pendidikan, dokter spesialis iniakan kembali dan menjalani perjanjian kerja sama dengan pihak rumah sakit.
Namun RSUD juga membuka kemungkinan untuk merekrut dokter spesialis dari luar dengan sistem kontrak, asalkan telah mendapat persetujuan dari bupati, wakil bupati, serta dewan pengawas (dewas) RSUD.
Baca Juga: Dinas PUPR Bakal Bangun Sudetan di Jalan Kali Brantas untuk Tangani Banjir di Ruas Jalan Kota Blitar
Hal itu dapat dilakukan jika memang kebutuhan mendesak dan mendapat persetujuan dari pimpinan daerah serta dewas. Maka dari itu, manajemen RSUD bisa melakukan perekrutan dokter spesialis dengan sistem kontrak sesuai kebutuhan.
Dia memastikan skema tersebut telah tertuang dalam rencana strategis (renstra) RSUD Ngudi Waluyo untuk lima tahun ke depan. Artinya, kebutuhan dokter spesialis sudah dipetakan dan akan dipenuhi secara bertahap.
“Kebutuhan dokter spesialis ini menjadi bagian dari perencanaan jangka menengah kami. Harapannya, seluruh layanan rumah sakit bisa optimal dan sesuai standar,” ungkapnya.
Baca Juga: LOGIKA ANAK DESA: RAS TERKUAT DI MUKA BUMI ITU... EMAK-EMAK!
Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Blitar, dr Dedy Ismiranto mengatakan, dari total 257 dokteryang terdaftar di IDI Kabupaten Blitar, sekitar 70 persen adalah dokter umum. Sisanya merupakan dokter spesialis.
Kondisi inijelas menggambarkan kurangnya tenaga dokter spesialis, baik di rumah sakit swasta maupun rumah sakit negeri di Kabupaten Blitar.
“Beberapa bidang spesialisasi yang masih sangat terbatas meliputi spesialisasi jiwa, rehabilitasi medik, bedah saraf, bedahanak, serta sejumlah spesialisasi lainnya yang sangat dibutuhkan,” pungkasnya. (jar/c1/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah