BLITAR - Kabupaten Blitar – Program reforma agraria tak hanya berbicara soal redistribusi tanah, tetapi juga menjadi penggerak pembangunan desa dari berbagai sektor. Desa Kebon Duren di Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, adalah salah satu buktinya. Dengan luasan sawah mencapai 193 hektar, desa ini mampu memadukan sektor pertanian, UMKM kuliner, dan peternakan menjadi tulang punggung ekonomi yang terus bertumbuh.
Kepala Desa Kebon Duren menyampaikan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan reforma agraria yang dijalankan ATR/BPN Kabupaten Blitar. Program ini menghadirkan pendampingan yang terintegrasi mulai dari legalisasi usaha, pelatihan manajemen bisnis, pemasaran digital, hingga pembangunan infrastruktur pendukung. “Reforma agraria membantu kami mengoptimalkan potensi desa, dari sawah hingga produk UMKM yang kini bisa menembus pasar lebih luas,” ujarnya.
Pendampingan dalam rangka reforma agraria di desa ini melibatkan banyak pihak, termasuk Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Blitar, Balai Penyuluh Pertanian, dan pemerintah daerah. Kolaborasi ini membuat program berjalan efektif—memadukan kekuatan sumber daya alam dan kreativitas masyarakat untuk meningkatkan daya saing desa.
Dari sisi pertanian, Desa Kebon Duren mengandalkan komoditas utama seperti padi, jagung, dan hortikultura. Irigasi yang baik dan lahan yang luas membuat sektor ini menjadi penopang utama penghasilan warga. Peningkatan kualitas produksi pun terus dilakukan, terutama dengan adanya rencana penambahan saluran irigasi dan perbaikan ruas jalan yang memudahkan distribusi hasil panen.
Sektor peternakan tak kalah berkembang. Warga mengusahakan ayam petelur, kambing, domba, dan sapi. Hasil ternak digunakan untuk kebutuhan lokal maupun dijual ke pasar di luar desa. Pemerintah desa menilai potensi ini akan semakin besar jika diolah dalam bentuk produk turunan seperti olahan daging, susu, dan telur kemasan yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Tak hanya itu, UMKM kuliner di Desa Kebon Duren juga menjadi kebanggaan tersendiri. Produk seperti aneka keripik, roti, kue basah dan kering, es krim, hingga makanan tradisional mulai dikenal di pasar Kabupaten Blitar. Dengan dukungan sertifikat halal dan Nomor Induk Berusaha (NIB) yang difasilitasi lewat program reforma agraria, produk-produk ini kini lebih dipercaya konsumen.
Baca Juga: Waspadai Hoaks! Ini Fakta soal “cek PIP data tidak ditemukan” di 2025
Menurut data pendampingan, mayoritas warga Desa Kebon Duren bekerja sebagai petani (364 responden), disusul peternak (135 responden) dan pelaku UMKM (101 responden). Sebelum adanya program, banyak pelaku usaha yang belum tergabung dalam kelompok formal dan belum memiliki izin usaha. Kini, setelah melalui proses pendampingan, mereka siap berkompetisi dengan produk yang memiliki kualitas, kemasan, dan izin resmi.
Kegiatan reforma agraria di Desa Kebon Duren tahun 2023 juga mencakup pemetaan sosial, penambahan sarana produksi untuk UMKM, hingga pembangunan tanggul penahan tanah untuk melindungi lahan pertanian. Infrastruktur ini menjadi modal penting agar desa bisa terus mengembangkan sektor-sektor unggulannya secara berkelanjutan.
Kepala Desa menegaskan bahwa keberhasilan ini adalah hasil kerja bersama. “Kami bersyukur Desa Kebon Duren menjadi lokasi prioritas pendampingan. Reforma agraria memberi manfaat bukan hanya pada lahan, tapi juga pada kemampuan warga untuk mengelola usaha,” jelasnya. Ia juga berharap kolaborasi ini terus dilanjutkan agar desa bisa mandiri secara ekonomi.
Baca Juga: Ribuan Orang Cek PIP Data Tidak Ditemukan, Ini Penjelasan & Solusi Resminya
Dengan sinergi antara pertanian, peternakan, dan UMKM kuliner, Desa Kebon Duren kini menjadi contoh desa yang berhasil memanfaatkan program reforma agraria untuk membangun kemandirian ekonomi. Potensi yang dimiliki tidak hanya menjanjikan kesejahteraan bagi warga, tetapi juga membuka peluang desa untuk menjadi sentra ekonomi baru di Kabupaten Blitar.
Jika pengembangan ini berlanjut, bukan mustahil Desa Kebon Duren akan menjadi salah satu ikon desa produktif di Jawa Timur, memadukan kekuatan alam, sumber daya manusia, dan inovasi dalam satu harmoni pembangunan.
Editor : Anggi Septian A.P.