BLITAR-Pemerintah resmi mengumumkan kabar gembira bagi jutaan masyarakat Indonesia. Bantuan sosial berupa bansos beras 10 kg dipastikan berlanjut hingga Desember 2025. Sebanyak 18,2 juta keluarga penerima manfaat (KPM) tercatat akan memperoleh bantuan ini setiap bulannya.
Kepastian tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Pangan Nasional, Arif Prasetio Adie. Ia menegaskan program ini bertujuan untuk meringankan beban masyarakat berpendapatan rendah di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. “Pemerintah memastikan bansos beras 10 kg tetap berjalan hingga akhir tahun. Total ada 18,27 juta KPM yang menjadi sasaran bantuan,” ujarnya.
Program bansos beras ini merupakan lanjutan dari distribusi sebelumnya pada Juni–Juli 2025. Saat itu, pemerintah menyalurkan 20 kg beras untuk dua bulan sekaligus. Pola serupa akan kembali diterapkan pada periode September hingga Desember.
Pada tahap pertama, penyaluran dijadwalkan akhir September dengan alokasi 20 kg beras sekaligus untuk September dan Oktober. Sementara tahap kedua akan dilakukan pada November, juga dengan 20 kg beras untuk alokasi November dan Desember. Dengan demikian, setiap keluarga tetap mendapatkan jatah 10 kg beras per bulan.
Pemerintah menyiapkan anggaran besar untuk memastikan program ini berjalan lancar. Total dana yang digelontorkan mencapai Rp13,8 triliun. Dana tersebut digunakan untuk pembelian beras dari cadangan pangan pemerintah serta biaya distribusi melalui Perum Bulog.
Arif menjelaskan, data penerima bansos terus diperbarui agar lebih tepat sasaran. “Kami menggunakan data dari Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTKS) Kementerian Sosial. Karena ada pembaruan, bisa saja penerima sebelumnya tidak lagi terdata, dan ada keluarga baru yang masuk sebagai penerima,” jelasnya.
Keberhasilan penyaluran bansos beras periode Juni–Juli yang mencapai 99,34 persen menjadi tolok ukur bagi pemerintah. Arif optimistis distribusi kali ini akan berjalan lebih cepat dan rapi. Hal ini karena koordinasi dengan Bulog dan pemerintah daerah semakin matang.
Di lapangan, bansos beras 10 kg ini terbukti sangat membantu masyarakat. Banyak KPM yang merasa terbantu karena tidak perlu lagi membeli beras, kebutuhan pokok utama rumah tangga. Dengan begitu, pengeluaran bulanan bisa dialihkan untuk kebutuhan lauk-pauk dan biaya sekolah anak.
Salah satu penerima manfaat di Blitar, Siti Aminah, mengaku lega dengan perpanjangan program ini. “Alhamdulillah, beras ini sangat meringankan kami. Kalau harus beli setiap bulan, tentu berat. Dengan bantuan ini, paling tidak kebutuhan pokok sudah terjamin,” katanya.
Meski demikian, ada sebagian masyarakat yang sempat bertanya soal kelanjutan penebalan BPNT senilai Rp400 ribu. Pemerintah memastikan bantuan itu tidak diperpanjang. Hingga kini, belum ada keputusan resmi untuk melanjutkannya. Fokus pemerintah adalah pada program bansos beras 10 kg per bulan.
Program ini juga memiliki tujuan strategis lain, yakni menjaga ketahanan pangan nasional. Dengan memastikan distribusi beras merata hingga ke pelosok, pemerintah berharap harga beras di pasaran tetap stabil. Peraturan Presiden Nomor 125 Tahun 2022 tentang Cadangan Pangan Pemerintah menjadi dasar hukum pelaksanaan program ini.
Selain membantu masyarakat miskin, program bansos beras juga memberi dampak positif bagi Bulog. Penyerapan beras dari petani dapat terus berjalan, sehingga stok beras nasional tetap aman. Dengan kata lain, program ini tidak hanya meringankan rakyat, tapi juga mendukung stabilitas sektor pertanian.
Hingga akhir Desember 2025, pemerintah berkomitmen menjaga kelancaran penyaluran bansos beras. Bagi masyarakat yang merasa belum menerima, pemerintah mengimbau untuk mengecek data di aplikasi SIKS-NG atau melalui pendamping sosial di desa. Hal ini penting untuk memastikan data penerima benar-benar valid.
Dengan perpanjangan program ini, harapan besar muncul dari jutaan keluarga penerima manfaat. Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik, bansos beras 10 kg menjadi penyelamat bagi banyak rumah tangga. Pemerintah berharap program ini bisa menjadi bantalan ekonomi sekaligus solusi atas tantangan pangan nasional.
Editor : Anggi Septian A.P.