BLITAR KAWENTAR - Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar gerak cepat menyiapkan pengembangan wisata buatan yang ada di kota. Ini sebagai strategi memperkaya sumber pendapatan asli daerah (PAD).
Ini juga sekaligus melengkapi sektor wisata sejarah yang selama ini telah menjadi identitas Kota Blitar.
Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin mengatakan, pengembangan wisata buatan telah masuk dalam visi pembangunan daerah.
Pemerintah kota berupaya menghadirkan destinasi baru seperti museum peta dan kawasan wisata Joko Pangon, dengan dukungan anggaran yang akan diupayakan dari pemerintah pusat.
“Di visi kami sudah ada pengembangan wisata sejarah. Ke depan, kami juga membangun wisata buatan seperti museum peta dan Joko Pangon. Untuk pembiayaannya, kami akan mengupayakan bantuan anggaran dari pemerintah pusat,” katanya, Selasa (6/1/2026).
Dia menegaskan, konsep wisata buatan tersebut akan dikelola secara komersial dan profesional. Penetapan tiket masuk nantinya sudah mencakup fasilitas pendukung yang tersedia di dalam kawasan wisata.
“Wisata buatan ini bersifat komersial. Pengelolaannya harus profesional, dan tiket masuk sudah termasuk fasilitasnya,” ujarnya.
Mas Ibin, sapaan akrabnya, menyebutkan bahwa pendapatan dari wisata buatan tidak akan menggunakan pola retribusi daerah, tetapi dikelola melalui mekanisme usaha agar lebih fleksibel dan adaptif terhadap jumlah pengunjung.
“Kalau memakai retribusi, tarifnya cenderung tetap. Padahal wisata itu naik turun, semakin ramai pengunjung, nilai ekonominya juga meningkat. Karena itu pengelolaannya tidak menggunakan pola retribusi,” tegasnya.
Untuk mendukung optimalisasi PAD, Pemkot Blitar akan mengajukan pengelolaan wisata buatan tersebut melalui BUMD multiusaha.
“Pengelolaannya akan kami ajukan melalui BUMD multiusaha agar kontribusinya terhadap PAD bisa lebih maksimal,” pungkasnya. (mg2/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah