BLITAR - Fenomena Honda Brio sebagai mobil terlaris di Indonesia memang bukan isapan jempol semata. Sejak melewati masa pandemi, city car andalan Honda ini sukses menggeser dominasi mobil keluarga seperti Avanza dan Xpander. Bagi anak muda atau keluarga muda di Blitar yang sedang mencari kendaraan harian yang praktis, irit, dan tetap bergengsi, memilih antara Honda Brio Satya lama (generasi pertama) atau Honda Brio Satya baru (generasi kedua) seringkali menjadi dilema yang menarik.
Secara desain, Honda Brio Satya memang memiliki daya tarik yang sulit ditampik oleh segmen pasar milenial. Honda Brio Satya generasi kedua hadir dengan ubahan desain yang lebih dewasa dan sporty, terutama pada bagian buritan yang kini memiliki pintu bagasi konvensional. Hal ini berbeda dengan generasi pertama yang ikonik dengan pintu kaca belakang "full glass" yang unik namun seringkali menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan saat terjadi benturan dari belakang.
Meskipun terdapat perbedaan tampilan yang signifikan, kedua generasi Honda Brio Satya ini ternyata berbagi DNA interior yang hampir serupa pada sisi dashboard. Namun, bagi Anda yang mengutamakan kenyamanan penumpang, model terbaru menawarkan keunggulan mutlak. Dengan dimensi wheelbase yang lebih panjang 60 mm, ruang kaki di baris kedua menjadi jauh lebih lega. Tak hanya itu, bagasi pada model baru juga mengalami peningkatan kapasitas yang drastis, sehingga lebih siap diajak membawa barang belanjaan atau perlengkapan hobi warga Blitar sehari-hari.
Performa Mesin dan Efisiensi Bahan Bakar
Dapur pacu kedua mobil ini masih mempercayakan mesin L12 1.200cc 4-silinder i-VTEC yang mampu menyemburkan tenaga 90 DK. Menariknya, meski dimensinya lebih besar, Honda Brio Satya baru justru mencatatkan akselerasi 0-100 km/jam yang sedikit lebih cepat, yakni sekitar 11,6 detik dibandingkan model lama yang berada di angka 11,8 detik. Hal ini diduga karena adanya optimalisasi pada mapping ECU yang membuat penyaluran tenaga menjadi lebih efisien.
Soal konsumsi bahan bakar, Honda Brio tetap memegang predikat sebagai salah satu mobil paling irit di kelasnya. Untuk penggunaan dalam kota yang padat, mobil ini mampu mencatatkan angka 16,6 km/liter hingga 16,9 km/liter. Sementara untuk rute luar kota atau jalan tol dengan kecepatan konstan, efisiensinya bisa menembus 22,6 km/liter. Sangat cocok bagi kantong mahasiswa atau pekerja muda yang mendambakan biaya operasional rendah.
Fitur Keselamatan dan Penyakit Khas yang Perlu Diwaspadai
Bicara soal fitur, kedua model sudah dilengkapi dengan standar keselamatan yang cukup mumpuni seperti Dual Airbags, sistem pengereman ABS (Anti-lock Braking System), dan EBD (Electronic Brakeforce Distribution). Namun, model baru memiliki keunggulan pada sektor kenyamanan kepala penumpang belakang berkat adanya adjustable headrest, fitur yang absen di model lama yang masih menggunakan jok model pocong (menyatu).
Bagi Anda yang berencana meminang unit bekas, ada beberapa hal yang wajib diperiksa. Pada model tahun 2017 kebawah, sering ditemukan masalah pada booster rem yang cenderung rembes. Sementara pada model generasi kedua awal, panel power window di sisi pengemudi seringkali terlihat kusam atau mengelupas seiring pemakaian. Beruntungnya, Honda sering melakukan kampanye product update atau recall untuk masalah-masalah teknis tertentu yang bisa dicek langsung melalui nomor rangka di website resmi Honda.
Cek Harga Bekas Honda Brio di Pasaran
Lantas, berapa anggaran yang harus disiapkan? Untuk Honda Brio Satya generasi pertama tahun 2017, harga di pasar mobil bekas saat ini berada di kisaran Rp120 jutaan. Sedangkan untuk model generasi kedua tahun 2019, Anda perlu merogoh kocek mulai dari Rp140 jutaan. Selisih harga ini tentu sebanding dengan peningkatan ruang kabin dan tampilan yang lebih modern.
Pajak tahunannya pun tergolong ramah di kantong, yakni berkisar antara Rp2 juta hingga Rp2,3 jutaan saja tergantung tahun dan daerah. Dengan biaya perawatan yang murah dan ketersediaan suku cadang yang melimpah, tidak heran jika Honda Brio tetap menjadi primadona di jalanan Kota Blitar hingga saat ini.
Editor : Saifullah Muhammad Jafar