KEJAR TARGET: Penampakan dari udara kompleks Sekolah Rakyat (SR) Kota Blitar di Kelurahan Kauman, Kecamatan Kepanjenkidul, yang terus dikebut pembangunannya.
BLITAR KAWENTAR - Realisasi fisik proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR) di Kota Blitar kini telah melampaui angka 70 persen. Dinas Sosial (Dinsos) Kota Blitar terus mematangkan persiapan agar sekolah berbasis asrama bentukan Kementerian Sosial (Kemensos) ini bisa beroperasi tepat waktu pada tahun ajaran baru besok, yakni sekitar bulan Juli atau Agustus.
Langkah ini disiapkan jika seluruh kompleks gedung belum sepenuhnya rampung 100 persen saat hari pertama masuk sekolah tiba. Dinsos membuka peluang untuk memusatkan aktivitas pembelajaran di satu bangunan atau satu lokus terlebih dahulu.
Kepala Dinsos Kota Blitar, Eka Atikah menjelaskan, pengerjaan interior dan pemasangan mebeler saat ini dilakukan secara paralel. Begitu struktur bangunan selesai dan lantai keramik terpasang, fasilitas pendukung langsung dimasukkan secara bertahap tanpa menunggu seluruh proyek klaster tuntas.
"Jika nanti pada tahun ajaran baru bangunan belum selesai total, pengaturannya akan disiasati di satu lokus dulu. Jadi, jenjang SD, SMP, dan SMA bisa ditempatkan bersama di gedung yang sudah siap. Polanya bertahap karena nanti masing-masing jenjang sebenarnya punya gedung sendiri," ujarnya, Minggu (21/6/2026).
Pantauan di lokasi, beberapa blok ruang kelas dan fasilitas utama telah memasuki tahap penyelesaian akhir. Namun, beberapa infrastruktur penunjang di area luar bangunan masih perlu waktu pengerjaan ekstra.
Dinsos fokus mempercepat fungsionalitas ruang inti agar aktivitas belajar mengajar berjalan tepat waktu, sementara penyelesaian fasilitas luar gedung dilakukan beriringan.
Skema ini disiapkan demi menjamin hak belajar angkatan pertama yang diproyeksikan menampung total 420 siswa. Berdasarkan data yang dihimpun, kuota tersebut merupakan gabungan dari 270 siswa lokal Kota Blitar serta 150 siswa titipan dari luar daerah yang sekolah rintisannya dilebur ke Blitar.
“Rincian siswa titipan tersebut meliputi 90 anak dari SRMP 14 Kota Batu dan 60 anak dari SRMA 22 Kota Malang. Dari Malang dan Batu nanti juga ada guru yang mendampingi siswa luar kota tersebut,” terangnya.
Di sisi lain, tantangan nyata masih muncul dari proses penjaringan kuota lokal. Meski tim dinsos masif melakukan penjangkauan ke lapangan untuk memenuhi target 270 siswa, faktor psikologis dan sosiologis di masyarakat masih menjadi batu sandungan.
"Kendala di lapangan saat ini adalah meyakinkan orang tua. Banyak yang masih enggan dan berat hati untuk melepas anak-anak mereka tinggal dan menetap di dalam asrama sekolah," pungkasnya.(mg1/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah