Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik Sport

Beberapa waktu lalu beberapa dari kita mungkin cukup terkejut dengan berita Honda dan Nissan yang akan melakukan merger. Alasannya cukup jelas. Honda dan Nissan ingin menggabungkan

Maylanni Diana Fitri • Sabtu, 4 Juli 2026 | 17:30 WIB
Aliansi Honda Nissan resmi berlanjut tanpa merger. Kolaborasi ini fokus mengembangkan EV dan hybrid demi menghadapi dominasi produsen mobil listrik China.(Pinterest)
Aliansi Honda Nissan resmi berlanjut tanpa merger. Kolaborasi ini fokus mengembangkan EV dan hybrid demi menghadapi dominasi produsen mobil listrik China.(Pinterest)

BLITAR KAWENTAR.JAWAPOS.COM – Aliansi Honda Nissan kembali menjadi sorotan setelah kedua produsen otomotif Jepang itu dikabarkan memilih membangun kerja sama strategis usai rencana merger yang sempat ramai diperbincangkan akhirnya gagal terwujud. Langkah baru ini dinilai menjadi upaya penting untuk memperkuat daya saing di tengah ketatnya persaingan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di pasar global.

Sebelumnya, Honda dan Nissan sempat berencana melakukan merger guna menggabungkan sumber daya, teknologi, hingga pengembangan kendaraan listrik generasi baru. Namun, negosiasi kandas setelah muncul perbedaan pandangan mengenai struktur kepemimpinan. Honda disebut menginginkan posisi yang lebih dominan dalam perusahaan gabungan, sementara Nissan menolak skema tersebut.

Kini, kedua perusahaan memilih jalur berbeda melalui aliansi Honda Nissan tanpa proses merger. Model kerja sama ini memungkinkan keduanya tetap berbagi teknologi dan efisiensi produksi tanpa harus melebur menjadi satu perusahaan.

Baca Juga: Kolombia vs Ghana: Gol Tunggal Jhon Arias Antar Los Cafeteros ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2026

Kerugian Honda Jadi Titik Balik

Keputusan membangun aliansi muncul setelah Honda menghadapi tekanan besar akibat investasi di sektor kendaraan listrik. Perubahan strategi menuju EV justru belum membuahkan hasil sesuai harapan karena sejumlah model listrik Honda belum mampu bersaing di berbagai pasar dunia.

Akibat kondisi tersebut, Honda dikabarkan mengalami kerugian yang sangat besar. Situasi itu bahkan disebut menjadi salah satu kerugian terbesar dalam sejarah perusahaan selama puluhan tahun terakhir.

Berbeda dengan Honda, Nissan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, terutama pada lini kendaraan listrik. Meski penjualannya belum mampu menyaingi produsen EV asal China, performa Nissan dinilai lebih stabil dibandingkan Honda dalam segmen tersebut.

Nissan Masih Membutuhkan Mitra

Meski penjualan EV Nissan membaik, perusahaan itu juga masih menghadapi tantangan besar. Kapasitas produksi sejumlah pabrik belum terisi maksimal sehingga biaya operasional tetap tinggi.

Karena itulah, kerja sama dengan Honda dianggap menjadi solusi yang menguntungkan kedua belah pihak. Honda dapat memanfaatkan fasilitas produksi Nissan, sementara Nissan memperoleh tambahan proyek produksi sekaligus akses terhadap teknologi mesin hybrid Honda.

Kolaborasi tersebut dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional kedua perusahaan.

Berbagi Teknologi EV dan Hybrid

Dalam aliansi terbaru ini, Honda, Nissan, dan Mitsubishi dikabarkan akan menggunakan sistem operasi (OS) kendaraan yang sama pada sejumlah model masa depan.

Tak hanya itu, Electronic Control Unit (ECU) juga direncanakan memakai platform serupa untuk kendaraan dengan kategori yang sama. Langkah tersebut diyakini mampu memangkas biaya pengembangan perangkat lunak maupun komponen elektronik.

Kerja sama juga mencakup pertukaran teknologi unggulan masing-masing perusahaan. Nissan diperkirakan akan membagikan teknologi e-Power yang selama ini menjadi andalannya, sedangkan Honda berpotensi menyediakan teknologi hybrid yang telah lebih matang.

Dengan berbagi platform, pengembangan kendaraan baru bisa dilakukan lebih cepat dan biaya produksi menjadi jauh lebih efisien.

Efisiensi Produksi Jadi Kunci

Penggunaan platform bersama diyakini mampu meningkatkan skala produksi secara signifikan. Semakin besar volume produksi, biaya per unit kendaraan akan semakin rendah sehingga harga jual bisa menjadi lebih kompetitif.

Langkah ini menjadi sangat penting mengingat produsen Jepang masih kesulitan menghadirkan mobil listrik dengan harga terjangkau.

Beberapa contoh seperti Suzuki eVitara maupun pikap listrik Hilux EV masih dipasarkan dengan harga yang relatif tinggi dibandingkan kompetitor asal China.

Melalui aliansi tersebut, Honda, Nissan, dan Mitsubishi berharap dapat menghasilkan kendaraan listrik dengan harga yang lebih ramah di kantong tanpa mengorbankan kualitas produk.

Baca Juga: Rapel Gaji Pensiunan Juli 2026 Kembali Jadi Perbincangan, PT Taspen Tegaskan Belum Ada Kebijakan Baru

Tantangan Budaya Kerja

Meski menawarkan banyak keuntungan, kolaborasi ini tetap memiliki tantangan besar. Honda dikenal memiliki budaya kerja yang mengutamakan kebebasan inovasi teknik dan pengambilan keputusan yang independen.

Sebaliknya, Nissan selama bertahun-tahun berkembang dengan sistem kerja yang lebih terstruktur setelah menjalin aliansi panjang bersama Renault.

Perbedaan budaya tersebut menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar kerja sama berjalan efektif.

Namun jika mampu melewati tantangan tersebut, aliansi Honda Nissan berpotensi menjadi kekuatan baru industri otomotif Jepang dalam menghadapi dominasi produsen kendaraan listrik asal China.

Selain memperkuat posisi di pasar global, kolaborasi ini juga diharapkan mampu melahirkan kendaraan listrik dan hybrid dengan harga lebih kompetitif sehingga dapat kembali menarik minat konsumen di berbagai negara.

 

Editor : Maylanni Diana Fitri
#Nissan #Aliansi Honda Nissan #EV Jepang #mobil listrik #honda