BLITAR KAWENTAR.JAWAPOS.COM – Honda dan Nissan kembali menjadi perhatian dunia otomotif setelah memutuskan membangun aliansi strategis usai rencana merger keduanya resmi batal. Langkah baru ini diyakini menjadi strategi penting untuk memperkuat posisi produsen Jepang dalam menghadapi persaingan kendaraan listrik (EV) yang semakin ketat, terutama dari pabrikan asal China.
Sebelumnya, Honda dan Nissan sempat menjajaki proses merger sebagai upaya menyatukan kekuatan teknologi, produksi, dan pengembangan mobil listrik masa depan. Namun pembicaraan tersebut kandas karena kedua perusahaan gagal mencapai kesepakatan mengenai struktur kepemimpinan perusahaan hasil merger.
Kini, Honda dan Nissan memilih membentuk aliansi non-merger. Model kerja sama ini memungkinkan keduanya berbagi teknologi, platform produksi, hingga pengembangan perangkat lunak tanpa harus melebur menjadi satu entitas bisnis.
Gagal Merger, Honda Hadapi Tekanan Besar
Kegagalan merger terjadi setelah Honda menginginkan posisi yang lebih dominan dalam perusahaan gabungan. Permintaan itu dinilai cukup masuk akal mengingat posisi Honda masih lebih kuat dari sisi pangsa pasar dan kondisi keuangan saat negosiasi berlangsung.
Namun, Nissan tidak menyetujui skema tersebut sehingga proses merger akhirnya dibatalkan.
Ironisnya, setelah negosiasi gagal, kondisi Honda justru mengalami tekanan cukup berat. Investasi besar-besaran pada kendaraan listrik belum memberikan hasil sesuai harapan karena sejumlah model EV Honda belum mampu bersaing di pasar global.
Akibatnya, perusahaan dikabarkan mengalami kerugian besar yang disebut sebagai salah satu penurunan kinerja paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir.
Nissan Mulai Bangkit
Di sisi lain, Nissan perlahan menunjukkan tanda-tanda pemulihan, terutama pada lini kendaraan listrik. Produk EV Nissan dinilai memiliki penerimaan pasar yang lebih baik dibandingkan kendaraan listrik Honda.
Meski demikian, Nissan juga belum sepenuhnya keluar dari tantangan. Beberapa fasilitas produksi masih beroperasi di bawah kapasitas optimal sehingga biaya operasional tetap tinggi.
Kondisi tersebut membuat kerja sama dengan Honda dianggap sebagai solusi yang saling menguntungkan.
Berbagi Pabrik dan Teknologi
Dalam aliansi terbaru, Honda disebut akan memanfaatkan fasilitas produksi milik Nissan. Langkah ini membantu meningkatkan utilisasi pabrik Nissan sekaligus menekan biaya investasi Honda.
Sebaliknya, Nissan memperoleh akses terhadap teknologi mesin hybrid Honda yang selama ini dikenal efisien dan berkembang cukup pesat.
Tak hanya itu, Mitsubishi juga dikabarkan ikut bergabung dalam pengembangan sejumlah proyek bersama.
Kolaborasi tersebut mencakup penggunaan sistem operasi kendaraan (OS) yang sama, platform Electronic Control Unit (ECU), hingga berbagai komponen elektronik yang bisa digunakan lintas merek.
Baca Juga: Kolombia Lolos 16 Besar Piala Dunia 2026! Singkirkan Ghana 1-0, Swiss Jadi Lawan Berikutnya
Produksi Lebih Efisien
Penggunaan platform bersama diyakini mampu memangkas biaya riset dan pengembangan secara signifikan. Dengan volume produksi yang lebih besar, harga komponen dapat ditekan sehingga biaya pembuatan kendaraan ikut menurun.
Efisiensi inilah yang menjadi salah satu target utama aliansi tersebut.
Selain itu, Nissan diperkirakan akan membagikan teknologi e-Power yang telah menjadi ciri khas mereka. Sebaliknya, Honda berpotensi menyumbangkan teknologi hybrid yang telah terbukti memiliki efisiensi tinggi.
Pertukaran teknologi tersebut diharapkan menghasilkan kendaraan listrik maupun hybrid yang lebih kompetitif dari sisi harga maupun performa.
Benteng Terakhir Produsen Jepang
Banyak pengamat menilai kolaborasi ini menjadi peluang besar bagi industri otomotif Jepang untuk menghadapi dominasi produsen kendaraan listrik asal China.
Saat ini, sejumlah mobil listrik Jepang masih dijual dengan harga yang relatif tinggi sehingga sulit bersaing di berbagai pasar.
Dengan penyatuan platform, perangkat lunak, hingga sistem elektronik, Honda, Nissan, dan Mitsubishi berpeluang menghadirkan kendaraan listrik yang lebih terjangkau tanpa mengurangi kualitas produk.
Meski demikian, tantangan terbesar tetap berada pada proses penyatuan budaya kerja. Honda dikenal memiliki budaya inovasi yang independen, sedangkan Nissan lebih terbiasa dengan sistem kerja yang terstruktur sejak lama.
Apabila kedua pendekatan tersebut mampu dipadukan dengan baik, aliansi Honda dan Nissan berpotensi menjadi fondasi baru kebangkitan industri otomotif Jepang di era elektrifikasi global.
Editor : Maylanni Diana Fitri