BOGOR - Kijang LGX turbo milik Andri tampil dengan konsep berbeda. Mobil tahun 2000 tersebut tidak hanya mendapatkan perubahan pada bagian eksterior, tetapi juga interior, kaki-kaki, sistem kelistrikan hingga mesin diesel yang kini menggunakan turbo.
Andri merupakan seorang builder yang sebelumnya lebih dikenal lewat dunia motor custom. Ia memiliki bengkel bernama Kamar Custom yang menggarap motor-motor custom Jepang dan Eropa. Ketertarikannya terhadap mobil klasik kemudian membuatnya memilih Kijang sebagai salah satu proyek modifikasi.
Kijang LGX turbo tersebut dibeli sekitar empat bulan sebelum video dibuat. Saat diangkat, mobil itu dibanderol Rp110 juta dan disebut masih layak digunakan. Setelah berada di tangannya, sekitar 80 persen bagian mobil kemudian mengalami perubahan.
Menurut Andri, Kijang dipilih karena memiliki sejarah panjang dan ketersediaan part yang cukup banyak. Kondisi tersebut membuat proses modifikasi relatif mudah dibandingkan mobil klasik lain yang komponennya lebih sulit ditemukan.
“Kijang tuh histori kalau gua lihat zaman dari bokap gue,” kata Andri.
Ia juga menyebut Kijang memiliki kelebihan dari sisi fleksibilitas modifikasi. Konsep tersebut mirip dengan hobinya di dunia motor, ketika komponen dari tipe tertentu dapat digunakan atau dikembangkan untuk kendaraan lain.
Baca Juga: Kijang Diesel Turbo Ini Bikin Pangling, Tampilan Klasik Disulap Jadi Elegan
Eksterior Bergaya Eropa
Bagian luar menjadi salah satu sektor yang paling banyak mendapat sentuhan. Warna bodi dibuat custom dengan dasar abu-abu yang kemudian diberi sedikit sentuhan biru.
Andri mengaku mobil tersebut sudah dua kali menjalani pengecatan. Pengecatan terakhir dilakukan dengan warna yang dibuat sedikit lebih tua dan menelan biaya sekitar Rp15 juta.
Bagian depan menggunakan konsep facelift. Grill dan bumper dibuat mengikuti tampilan facelift, kemudian dipadukan dengan body kit custom.
Body kit digunakan untuk memberikan kesan ceper tanpa membuat mobil benar-benar terlalu rendah. Andri mengatakan mobil tersebut tetap harus nyaman karena masih digunakan untuk membawa keluarga.
Untuk bagian belakang, ia sengaja tidak melakukan perubahan berlebihan. Tampilan buritan tetap dibuat menyerupai Kijang LGX standar agar karakter asli kendaraan tidak hilang.
Pelek juga menjadi bagian yang cukup sering berganti. Andri mengaku sudah sembilan kali mengganti pelek sebelum memilih model yang sekarang.
Pelek terakhir berukuran ring 17. Lebarnya 8 inci di depan dan 9,5 inci di belakang. Ban yang digunakan berukuran 205/45 di depan serta 215/45 di belakang.
Kaki-kaki bagian depan masih menggunakan sistem standar Kijang dengan sejumlah penyesuaian. Sementara bagian belakang menggunakan per daun yang dikurangi dan kemudian dipres agar posisi mobil lebih rendah.
Meski tampil ceper, Andri mengklaim mobil masih nyaman digunakan bersama keluarga.
Baca Juga: Kijang LGX Diesel Turbo Ini Habiskan Rp200 Juta untuk Jadi Mobil Custom
Interior Putih dan Mesin Diesel Turbo
Interior juga dibuat dengan konsep yang berbeda. Jika kebanyakan pemilik memilih warna gelap, Andri justru menggunakan warna putih tulang.
Konsep tersebut disebut terinspirasi gaya interior Eropa. Ia mengaku sempat menggunakan warna biru dan hitam sebelum akhirnya memilih warna putih.
Interior terbaru menghabiskan sekitar Rp17,5 juta. Salah satu detail yang menjadi perhatian adalah garis jahitan yang dibuat menyambung dari plafon hingga bagian door trim.
Sistem hiburan juga mengalami beberapa perubahan. Awalnya, Andri memasang televisi untuk kebutuhan hiburan keluarga. Namun, setelah beberapa waktu, televisi dilepas dan fokus modifikasi dialihkan ke sistem audio.
Perubahan paling menarik berada di ruang mesin. Kijang LGX tersebut merupakan diesel standar yang kemudian dipasangi turbo.
Turbo yang digunakan disebut merupakan turbo Toyota berkode 2T. Sistem tersebut dipadukan dengan intercooler aftermarket dan manifold custom. Knalpot juga dibuat menggunakan sistem full stainless dengan saluran pembuangan yang diarahkan ke sisi kanan.
Modifikasi mesin dan audio kemudian membuat kebutuhan listrik kendaraan meningkat. Alternator standar Kijang tidak lagi dianggap mencukupi.
Andri akhirnya menggunakan alternator Hyundai H1 yang dipasang dengan bracket custom. Menurutnya, kemampuan pengisian listrik menjadi jauh lebih besar dibandingkan bawaan Kijang.
“Kalau di standarnya Kijang tuh bisa ketemu hanya di 12 lebih atau 13. Ini gua bisa 15 lebih sampai kalau lagi bagusnya bisa ketemu 16 lebih,” ujarnya.
Ia bahkan pernah melihat angka 190 km/jam pada speedometer standar ketika menguji mobil tersebut. Jarum speedometer disebut sudah mentok sehingga kecepatan sebenarnya tidak diketahui.
Dari seluruh proses pembangunan, Andri memperkirakan biaya modifikasi mencapai sekitar Rp200 juta. Namun, bagi dirinya, angka tersebut bukan ukuran utama.
Sebagai builder, ia lebih menghargai proses menghasilkan karya sesuai konsep yang diinginkan. Respons positif dari orang lain ketika melihat mobil tersebut di jalan menjadi salah satu kepuasan tersendiri baginya.
Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Dedi Ananta Ramadhan