JAKARTA - Pembahasan mengenai Pajero Sport Hybrid masih menjadi tanda tanya dalam perbandingan Mitsubishi Pajero Sport dan Jetour T2. Pasalnya, Pajero Sport yang diuji dalam video masih mengandalkan mesin diesel 4N15, sedangkan teknologi hybrid justru muncul pada pembahasan Jetour T2 PHEV.
Mitsubishi Pajero Sport Dakar yang menjadi objek pengujian dibanderol sekitar Rp670 juta. Di atasnya masih ada varian Ultimate dengan sejumlah tambahan fitur, seperti kamera 360 derajat, adaptive cruise control, perbedaan warna interior, serta sunroof.
Sementara itu, Jetour T2 hadir dengan pendekatan berbeda. Mobil tersebut menggunakan sasis monokok dan mesin bensin 2.0 liter turbo. Bahkan, presenter menyebut versi yang digunakan di Indonesia bukan varian tertinggi karena di luar negeri tersedia versi PHEV.
Baca Juga: Polres Blitar Kota Gandeng Jawa Pos Radar Blitar Bekali Bhabinkamtibmas Ketrampilan Foto dan Video
Jetour T2 PHEV Disebut Bisa Tempuh 160 Km
Varian plug-in hybrid electric vehicle atau PHEV menjadi salah satu bagian menarik dalam pembahasan. Menurut informasi dalam video, Jetour T2 PHEV dapat diisi daya dan diklaim mampu menempuh jarak hingga 160 kilometer tanpa menggunakan bensin.
Namun, teknologi tersebut hadir dengan harga yang jauh lebih tinggi. Harga yang disebut dalam video mencapai sekitar Rp838 juta saat teaser di GIIAS. Selisihnya disebut lebih dari Rp200 juta dibandingkan Jetour T2 bermesin bensin 2.0 liter.
Presenter menilai perbedaan harga tersebut cukup besar. Selisih sekitar Rp200 juta secara perhitungan dapat dialokasikan untuk berbagai kebutuhan kepemilikan kendaraan, mulai dari bahan bakar, pajak tahunan, hingga servis.
Di sisi lain, varian PHEV diklaim memiliki performa yang jauh lebih tinggi dibandingkan versi bensin. Artinya, konsumen tidak hanya membayar teknologi elektrifikasi, tetapi juga mendapatkan karakter performa yang berbeda.
Meski demikian, tidak ada informasi dalam transkrip yang memastikan kapan atau apakah versi PHEV tersebut akan menjadi pilihan resmi untuk pasar Indonesia.
Pajero Sport Masih Andalkan Mesin Diesel
Berbeda dengan Jetour, Pajero Sport dalam pengujian tetap mengandalkan mesin diesel 4N15. Mesin tersebut disebut telah digunakan selama lebih dari 10 tahun dan juga digunakan pada Mitsubishi Triton.
Konstruksi Pajero Sport juga berbeda karena menggunakan ladder frame dengan mesin longitudinal. Pendekatan ini membuat Pajero Sport lebih diarahkan untuk kebutuhan medan berat dibandingkan Jetour T2 yang menggunakan sasis monokok.
Hal tersebut terlihat dari rancangan sistem intake Pajero Sport yang disebut siap mendukung pemasangan snorkel. Kemampuan water wading dalam video juga disebut mencapai 800 milimeter.
Namun, unit yang dites merupakan varian 4x2. Presenter menilai konsumen yang menginginkan kemampuan offroad lebih serius sebaiknya mempertimbangkan varian 4x4 karena tersedia sistem part-time four-wheel drive dan low gear.
Untuk performa di jalan raya, Jetour T2 justru mencatat angka lebih cepat. Pengujian menghasilkan waktu 0-100 kilometer per jam sekitar 9 detik. Pajero Sport mencatat 10,97 detik.
Baca Juga: Hari Baik Membangun Rumah Menurut Jawa, Hitung Neptu Suami Istri dan Hari
Dari sisi kenyamanan, Jetour T2 juga mendapat nilai lebih tinggi. Suspensinya disebut mampu mempertahankan karakter kaku tetapi tetap nyaman ketika melewati jalan rusak maupun jalan tol bergelombang. Kabinnya juga dinilai lebih senyap berkat penggunaan kaca double glass.
Fitur keselamatan dan teknologi menjadi keunggulan lain Jetour T2. Mobil ini dibekali TPMS, kamera 360 derajat, kamera 540 derajat, ADAS Level 2, Android Auto, Apple CarPlay, audio Sony 12 speaker, ventilated seat, panoramic sunroof, serta X Mode.
Pajero Sport tetap memiliki keunggulan pada kapasitas tujuh penumpang. Mobil ini juga menawarkan AC hingga baris ketiga dan inverter 240 volt dengan daya maksimal 150 watt.
Dengan perbedaan tersebut, video lebih banyak menunjukkan persaingan antara SUV ladder frame bermesin diesel dan SUV monokok bermesin bensin. Sementara Pajero Sport Hybrid belum mendapatkan kepastian dalam informasi yang tersedia.
Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Ridwan Hanif