JAKARTA - Rencana pembukaan batas bawah saham gocap di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi sorotan karena dinilai dapat mengubah mekanisme pergerakan harga sejumlah saham di pasar. Jika aturan tersebut diterapkan, saham yang selama ini tertahan pada batas bawah Rp50 atau gocap berpotensi mengalami penemuan harga yang lebih terbuka.
Pembicara dalam video di channel Bik menilai perubahan tersebut penting bagi investor, terutama mereka yang membutuhkan likuiditas untuk menjual kepemilikan saham. Menurutnya, batas bawah gocap dapat membuat harga saham tertentu seolah berhenti di level Rp50, meskipun transaksi di pasar lain menunjukkan adanya penawaran pada harga yang berbeda.
Salah satu contoh yang dibahas adalah saham Gojek. Pembicara menyebut harga saham tersebut di pasar nego pernah ditawarkan pada kisaran Rp25 hingga Rp30, sementara harga yang terlihat di pasar reguler berada di level gocap. Kondisi ini menjadi alasan mengapa menurutnya investor perlu memahami bahwa transaksi saham tidak hanya berlangsung di pasar reguler yang umum digunakan melalui aplikasi sekuritas.
Pasar Reguler dan Pasar Nego
Dalam penjelasannya, pembicara membedakan pasar reguler dengan pasar nego. Pasar reguler merupakan tempat investor melakukan jual beli saham melalui aplikasi sekuritas. Sementara itu, transaksi di pasar nego memiliki mekanisme berbeda dan menurut pembicara membutuhkan komunikasi dengan broker.
Ia menilai kondisi tersebut dapat menjadi persoalan bagi investor yang membutuhkan dana dalam waktu tertentu. Misalnya, investor yang ingin keluar dari kepemilikan saham karena membutuhkan likuiditas, tetapi sahamnya sudah berada di batas bawah gocap.
Menurut pembicara, persoalannya bukan semata-mata mengenai harga Rp50, melainkan kemudahan investor untuk melakukan exit. Ia menilai investor seharusnya memiliki ruang untuk menjual saham pada harga yang masih dapat diterima pasar tanpa harus menghadapi mekanisme yang dianggap lebih rumit.
Baca Juga: IHSG Anjlok 1,34 Persen Ditengah Sentimen Tarif Trump dan Konflik Timur Tengah yang Panas
Pembicara juga menyebut dirinya pernah mendapatkan keuntungan dari adanya batas bawah gocap. Menurut dia, batas tersebut membuat risiko penurunan harga lebih mudah diukur. Namun, ia menilai investor tetap perlu beradaptasi jika aturan pasar berubah.
Berpotensi Memunculkan Price Discovery
Jika batas bawah saham gocap dibuka, pembicara memperkirakan akan terjadi lebih banyak price discovery. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan proses ketika harga saham menemukan titik yang lebih mencerminkan kondisi permintaan dan penawaran di pasar.
Menurut pandangannya, sejumlah saham yang selama ini berada di level Rp50 bisa saja turun jauh setelah batas bawah tersebut dibuka. Bahkan, ia menyebut ada kemungkinan sebagian saham diperdagangkan pada harga Rp1 atau Rp2.
Bagi pembicara, penurunan tersebut tidak selalu harus dipandang sebagai kabar buruk. Ia berpendapat harga yang lebih rendah dapat membantu investor melihat apakah suatu saham benar-benar sedang berada pada harga diskon dibandingkan nilai yang dianggap layak menurut penilaian investor.
Namun, konsekuensi lainnya adalah sebagian saham berpotensi mengalami penurunan harga yang sangat dalam. Karena itu, investor dituntut menyesuaikan strategi dengan aturan baru apabila perubahan tersebut benar-benar diterapkan.
Pembicara juga menyinggung investor asing yang menurutnya menantikan perubahan tersebut karena membutuhkan likuiditas. Ia menilai keterbatasan pada harga gocap membuat sebagian investor tidak dapat bergerak secepat yang diharapkan ketika ingin keluar dari kepemilikan.
Di akhir video, pembicara mengajak penonton menyampaikan pandangan mengenai tiga pilihan. Pertama, mempertahankan batas bawah gocap. Kedua, membuka batas bawah hingga Rp1 seperti konsep yang disebut dalam video. Ketiga, membiarkan harga turun hingga pecahan rupiah atau 0,1.
Perdebatan tersebut pada akhirnya kembali pada bagaimana investor melihat keseimbangan antara perlindungan terhadap risiko penurunan harga dan kebebasan pasar dalam menemukan harga saham. Dalam video tersebut, pembicara menyatakan lebih memilih mekanisme yang terbuka agar harga saham dapat menemukan levelnya melalui pasar.
Editor : 'Isyna Mufida Ma Radhita