JAKARTA - Rencana pembukaan batas bawah harga saham Rp50 di Bursa Efek Indonesia disebut mengalami penundaan. Kebijakan yang semula dijadwalkan mulai berlaku pada Senin tersebut diperkirakan mundur hingga akhir bulan setelah uji coba sistem menemukan kendala di sejumlah perusahaan sekuritas.
Dalam video yang menjadi sumber pembahasan, penundaan disebut terjadi karena beberapa sekuritas mengalami masalah pada sistem ketika dilakukan uji coba pembukaan batas bawah Rp50. Perubahan tersebut dinilai membutuhkan penyesuaian teknologi dan pemrograman agar sistem di sisi pengguna, pencatatan bursa, hingga proses transaksi dapat berjalan selaras.
Narasumber menilai perubahan batas harga tersebut penting karena berkaitan dengan likuiditas perdagangan saham. Selama ini, harga saham di Bursa Efek Indonesia memiliki batas bawah Rp50 atau yang populer disebut harga gocap. Dengan aturan baru, saham nantinya dapat diperdagangkan di bawah level tersebut.
Baca Juga: IHSG Hari Ini Ditutup Merah di 6.534, Sektor Keuangan Jadi Penopang
Menurut narasumber, kebijakan itu juga berkaitan dengan persoalan investor asing yang masih memiliki saham tertentu ketika harus mengikuti perubahan komposisi indeks. Salah satu contoh yang dibahas adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk atau GOTO.
Narasumber menegaskan pembahasan mengenai GOTO bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tersebut. Ia justru menyoroti banyaknya narasi yang dianggap sebagai hoaks mengenai dampak pencabutan batas bawah Rp50.
Salah satu narasi yang dibantah adalah anggapan bahwa ketika batas Rp50 dibuka, saham GOTO otomatis akan membuat pasar saham Indonesia mengalami kehancuran. Menurut narasumber, perubahan harga satu emiten tidak secara otomatis berarti Bursa Efek Indonesia maupun perekonomian Indonesia akan runtuh.
Baca Juga: IHSG Hari Ini Berubah Drastis Usai Pergantian Menteri Keuangan
Dana Asing Disebut Berpindah ke Emiten Lain
Narasumber juga membahas keluarnya GOTO dari MSCI. Ia menjelaskan bahwa dana asing yang sebelumnya mengikuti indeks tidak serta-merta meninggalkan pasar Indonesia ketika sebuah emiten keluar dari indeks tersebut.
Dalam data yang ditampilkan dalam video, total aset yang dikelola manajer investasi asing terkait indeks Indonesia disebut berada di kisaran USD10 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar USD432 juta disebut terkait dengan GOTO, atau sekitar 4,2 persen dari bobotnya dalam indeks MSCI Indonesia.
Setelah GOTO keluar dari indeks, narasumber mengatakan total aset tersebut tidak otomatis turun menjadi sekitar USD9,6 miliar. Dana tersebut disebut terdistribusi ke perusahaan lain yang masih berada dalam indeks.
Baca Juga: IHSG Hari Ini Merah, 429 Emiten Melemah dan 219 Saham Menguat
Contohnya, kepemilikan asing yang mengikuti MSCI pada saham Bank BCA disebut meningkat dari sekitar USD3 miliar menjadi USD3,1 miliar. Pada Bank BRI, angkanya disebut naik dari sekitar USD1,7 miliar menjadi USD1,8 miliar.
Dari kondisi tersebut, narasumber menyimpulkan bahwa keluarnya GOTO dari indeks tidak berarti investor asing berhenti menempatkan dana di Indonesia. Dana yang sebelumnya berada pada satu emiten dapat berpindah ke emiten lain sesuai mekanisme pengelolaan investasi berbasis indeks.
Karena itu, ia menilai narasi bahwa keluarnya GOTO dari MSCI otomatis membuat IHSG atau pasar Indonesia kehilangan kepercayaan asing tidak tepat.
Baca Juga: IHSG Hari Ini Ditutup Merah, 429 Emiten Melemah Usai Pergantian Menteri Keuangan
Batas Rp50 Dinilai Perlu Dibuka
Narasumber menyatakan setuju dengan rencana pembukaan batas bawah Rp50. Alasannya berkaitan dengan fleksibilitas investor dalam melakukan transaksi, terutama ketika investor harus menjual saham berdasarkan mandat pengelolaan dana.
Ia mencontohkan kondisi investor yang harus keluar dari sebuah saham, tetapi kesulitan melakukan transaksi karena harga saham tersebut berada di batas bawah Rp50. Menurutnya, situasi tersebut dapat mengurangi likuiditas pasar.
Selain batas bawah harga, narasumber juga menyinggung sejumlah aturan lain di pasar saham, seperti auto reject atas, auto reject bawah, mekanisme FCA, serta ketentuan pembelian saham dalam satu lot atau 100 lembar.
Baca Juga: IHSG Hari Ini Sempat Anjlok 1,7 Persen Lalu Berbalik Menguat
Ia berharap perubahan aturan dapat membuat perdagangan saham menjadi lebih fleksibel. Menurutnya, pencabutan batas harga Rp50 juga tidak seharusnya langsung dikaitkan dengan kehancuran pasar.
Narasumber bahkan memperkirakan saham yang berada di level Rp50 dapat mengalami penurunan ketika batas tersebut dibuka. Namun, pada saat yang sama, ia menilai akan ada emiten lain yang berpotensi menerima redistribusi dana.
Karena itu, dampak kebijakan tersebut dinilai tidak hanya perlu dilihat dari sisi emiten yang berpotensi mengalami tekanan harga. Perpindahan dana ke saham lain juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan investor ketika aturan batas bawah harga saham Rp50 diterapkan.
Baca Juga: IHSG Hari Ini Sempat Anjlok 1,7 Persen Lalu Berbalik Menguat
Editor : 'Isyna Mufida Ma Radhita