JAKARTA - Motor listrik Naxion seharga sekitar Rp130 juta menawarkan beragam teknologi modern, mulai dari kamera depan dan belakang, radar titik buta, hingga sistem navigasi yang terhubung dengan ponsel. Namun, pengujian yang dilakukan seorang pengulas otomotif menemukan sejumlah kendala pada pengoperasian dan keandalan motor tersebut. Masalah yang muncul mencakup sensor pengendara, tombol tambahan tenaga, hingga sistem kontrol traksi yang berulang kali memutus tenaga saat motor digunakan.
Motor listrik ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman berkendara yang berbeda melalui perpaduan fitur elektronik dan perangkat keselamatan. Pengendara dapat mengakses berbagai pengaturan melalui layar utama berukuran besar, sedangkan aplikasi ponsel menyediakan sejumlah fungsi jarak jauh.
Meski menawarkan teknologi yang cukup lengkap, pengalaman pengujian menunjukkan bahwa banyaknya fitur belum tentu menjamin motor mudah digunakan. Sejumlah gangguan justru membuat pengulas mempertanyakan apakah harga yang ditawarkan sebanding dengan performa dan keandalannya.
Motor Listrik Naxion Punya Fitur Berlimpah
Dari sisi teknologi, Naxion dilengkapi sistem masuk tanpa kunci yang mendukung NFC. Motor juga memiliki sensor bobot untuk mendeteksi keberadaan pengendara sebelum mengaktifkan mode berkendara. Ada pula tombol boost yang dirancang untuk meningkatkan torsi dari motor listrik di roda belakang.
Baca Juga: Flora Wisata Santerra Delaponte Punya Banyak Spot Foto dan Wahana, Cocok untuk Liburan Keluarga
Fitur lain yang disematkan meliputi lampu ambient, speaker, monoshock depan, cruise control, serta mode siput atau snail mode. Mode terakhir membantu memindahkan motor ketika pengendara tidak sedang menungganginya.
Sektor pemantauan juga menjadi salah satu daya tarik. Dua kamera dapat merekam perjalanan, sementara kamera belakang menampilkan kondisi di belakang ketika motor bergerak mundur. Kamera depan turut terhubung dengan pengaturan lampu otomatis.
Layar utama menyajikan informasi tekanan ban, kapasitas baterai, perkiraan jarak tempuh, suhu motor dan baterai, serta data perjalanan. Pengendara juga dapat mengakses pengaturan ABS, kontrol traksi, pencahayaan, dan suara.
Naxion turut menyediakan konektivitas Wi-Fi, pencatatan gangguan sistem, pelacakan GPS, serta navigasi melalui aplikasi. Rute yang ditentukan lewat ponsel dapat dikirim ke layar motor. Sementara itu, radar titik buta ditujukan untuk membantu pengendara memantau kendaraan di area yang sulit terlihat.
Pengujian Menemukan Gangguan pada Sistem Motor
Kendala muncul sejak pengujian unit pra-produksi. Dalam lima menit pertama, motor beberapa kali kehilangan respons tenaga atau gas, termasuk ketika digunakan mendekati jalan raya. Dukungan dari dealer sempat mengarahkan pengulas untuk memeriksa sensor rem dan mencoba menghidupkan ulang motor.
Namun, pemeriksaan tersebut belum menyelesaikan masalah. Catatan gangguan pada sistem juga tidak menunjukkan kerusakan yang jelas. Pengulas kemudian mencoba memeriksa sambungan tertentu, tetapi gangguan tetap terjadi sehingga motor harus ditinggalkan di tepi jalan.
Setelah kejadian tersebut, pengulas mendapat kesempatan mencoba dua unit produksi. Pengujian lanjutan ini memperlihatkan bahwa sejumlah persoalan masih muncul, meskipun tidak berarti semua unit Naxion mengalami masalah yang sama.
Salah satu kendala berkaitan dengan sensor bobot. Sistem yang seharusnya mendeteksi pengendara terkadang tidak bekerja sesuai harapan, bahkan ketika pengulas sudah duduk di atas motor. Posisi duduk yang lebih maju diperlukan agar sensor dapat merespons.
Tombol boost juga tidak selalu aktif dalam sekali tekan. Pengulas menyebut tombol tersebut terkadang perlu ditekan dua hingga tiga kali sebelum memberikan respons.
Kontrol Traksi dan Peringatan Baterai Jadi Sorotan
Masalah lainnya ditemukan pada sistem kontrol traksi. Saat motor digunakan di jalan kering, fitur tersebut beberapa kali aktif dan memutus tenaga. Pengulas akhirnya memilih menonaktifkannya, tetapi pengaturan itu perlu dilakukan kembali setiap kali motor digunakan.
Ketika tombol boost berhasil diaktifkan, muncul peringatan bertuliskan BMS fault atau over discharge. Peringatan tersebut berkaitan dengan sistem manajemen baterai dan menjadi salah satu temuan yang perlu diperhatikan dalam pengujian.
Dari sisi performa, pengulas juga menilai akselerasi motor terasa kurang kuat dibandingkan ekspektasinya. Ia bahkan menggambarkan kesulitan menyalip mobil Toyota Prius dan membandingkan pengalaman tersebut dengan motor Kawasaki Ninja 300 cc.
Dalam pengujian yang diceritakan, kecepatan motor berada di kisaran 67–69 mil per jam. Angka tersebut belum mencapai klaim 70 mil per jam dalam pengujian itu.
Harga Rp130 Jutaan Dipertanyakan
Dengan harga sekitar Rp130 juta, Naxion menawarkan kelengkapan teknologi yang tidak sedikit. Kamera, radar titik buta, navigasi terintegrasi, hingga pemantauan kendaraan melalui aplikasi menjadi nilai jual yang menonjol.
Namun, pengalaman pengulas memperlihatkan bahwa fungsi dasar seperti respons gas, sensor pengendara, dan konsistensi penyaluran tenaga tetap menjadi hal penting. Fitur tambahan akan sulit memberikan nilai maksimal apabila pengendara masih harus menghadapi gangguan saat motor digunakan.
Pengujian tersebut tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh unit Naxion bermasalah. Meski demikian, temuan pada unit yang dicoba menjadi catatan bagi calon pembeli untuk mempertimbangkan keandalan, layanan purnajual, dan hasil pengujian independen sebelum memutuskan membeli motor listrik dengan harga tinggi.
Editor : Maylanni Diana Fitri