BLITAR - Sampah organik, terutama dari kulit buah-buahan mendapatkan tempat tersendiri di UPT SMPN 1 Nglegok.
Sebab, sekolah yang ada di Desa Dayu, Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar, ini memiliki Unit Produksi Ekoenzim.
Tim Adiwiyata memanfaatkan lorong antara kelas dan kamar mandi sebagai lokasi Unit Produksi Ekoenzim.
Sehingga penampakan lorong tersebut tidak kosong dan malah menambah manfaat dalam perilaku ramah lingkungan.
Lorong tersebut akhirnya bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang positif. Bahan utama yang dibutuhkan untuk memproduksi cairan ekoenzim adalah sampah organik, terutama kulit buah-buahan.
Praktis, sampah organik itu tidak terbuang begitu saja dan segera disisihkan. Unit Produksi Ekoenzim sudah dirintis sejak 2020 lalu.
“Lorong antara kelas dan kamar mandi, jadi lebih bermanfaat,” jelas Ketua Tim Adiwiyata UPT SMPN 1 Nglegok, Purnawati MPd.
Di area lorong Unit Produksi Ekoenzim, terdapat hasil produksi ekoenzim dan displai produk ekoenzim yang sudah dikemas rapi.
Area ini biasa dimanfaatkan siswa-siswi bersama pendamping tim Adiwiyata, sebagai bentuk implementasi perilaku ramah lingkungan.
Tak hanya untuk internal warga UPT SMPN 1 Nglegok, area ini juga menjadi salah satu titik penting ketika ada kunjungan dari lembaga lain yang melakukan studi banding.
Dalam penerapan Sekolah Berbudaya Lingkungan, UPT SMPN 1 Nglegok yang telah menyandang status Sekolah Penggerak sejak Tahun Pelajaran 2023/2024, juga melakukan inovasi lanjutan dalam produksi ekoenzim.
Yakni, telah memproduksi produk turunan ekoenzim, melalui Unit Produksi Ekoenzim, seperti sabun ekoenzim, deterjen ekoenzim, cairan pel ekoenzim, hingga NPK ekoenzim.
Inovasi Unit Produksi Ekoenzim itu sebagai salah satu tindak lanjut aksi nyata Sekolah Berbudaya Lingkungan, yang telah dirintis sejak 2018 lalu. (ser/ynu/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila