BLITAR - Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Blitar telah melakukan sosialisasi terkait pelaksanaan penerimaan peserta didik baru (PPDB) secara maksimal.
Hanya saja calon siswa kurang memperhatikan teknis PPDB. Hasilnya banyak kendala ditemukan calon siswa hingga mengadu ke kantornya.
Kasi SMA, PKLK Cabang Dinas Cabdindik Blitar, Abusani Zalfa mengatakan, banyak calon siswa belum membaca teknis PPDB.
Padahal jika memahami teknisnya dengan teliti, calon siswa bisa secara mandiri untuk mendaftarkan lewat daring. Untuk kini masih pra-PPDB dengan membuat akun di web dan verifikasi berkas hingga ambil PIN.
“Namun banyak siswa dan walinya memahami verifikasi berkas untuk ambil PIN harus pada di sekolah yang dituju. Padahal kini masih pra-PPDB, sehingga verifikasi pengambil PIN bisa di sekolah di mana saja, sesuai domisili dan zona sekolah,” ujar Abusani, ketika ditemui di kantonya Kamis (30/5/2024).
Dia melanjutkan, calon siswa banyak yang tidak melihat sekolah yang direkomendasikan untuk diverifikasi berkas.
Calon harus memperhatikan sekolah yang direkomendasi dan sistem pasti mengarahkan ke sekolah yang sesuai zona dan domisili.
Meskipun calon siswa dari kabupaten ingin daftar sekolah di kota, untuk proses verifikasi data untuk pengambil PIN di sekolah sesuai domisilinya.
Untuk diketahui, PPDB SMA di Kabupaten Blitar terbagi dalam tiga zona. Untuk zona timur, ada SMAN 1 Kesamben, SMAN 1 Talun dan SMAN 1 Garum.
Bagian zona selatan ada dua lembaga, yakni SMAN 1 Sutojayan dan SMAN 1 Kademangan. Zona Barat juga dua sekolah, SMAN 1 Srengat dan SMAN 1 Ponggok.
Sedangkan untuk SMK, ada zona barat yang terdiri SMK 1 Nglegok dan SMKN 1 Udanawu. Zona Selatan ada tiga lembaga SMKN 1 Bakung, SMKN 1 Kademangan dan SMKN 1 Panggungrejo. Lalu untuk zona timur hanya ada satu sekolah, yakni SMKN 1 Doko.
“Ada beberapa calon siswa meminta bantuan ke cabdindik, karena sebagian oleh operator sekolah diminta ke kami.
Operator kami tanya asal domisili untuk mengetahui zona sekolahnya. Lalu kami pinjam akun sekolah untuk cek data verifikasinya dan dibantu untuk memproses. Prosesnya tentu lama,” ungkapnya.
Kendala lain, calon siswa banyak langsung datang ke sekolah yang dituju untuk mendaftar. Padahal tahun ini PPDB sudah dilakukan secara daring.
Pelaksanaan offline hanya untuk verifikasi data dari calon siswa. Selain itu, banyak calon siswa yang ternyata memiliki kartu keluarga baru dan harus dibantu operator cabdindik untuk memprosesnya.
Apakah sosialisasi PPDB SMA/SMK kurang maksimal? Abusani menanggapi untuk sosialisasi kepada SMP sudah dilakukan pada November secara online.
Untuk sosialisasi secara langsung dilakukan usai hari raya dengan mengundang kepala dinas, kepala sekolah, operator sekolah dan wali siswa.
“Kami sudah maksimal melakukan sosialisasi. Hanya saja banyak siswa kurang mengakses informasi terkait teknis PPDB. Kami sudah persiapkan PPDB sudah lama, ternyata calon siswa kurang memahami cara pendaftarannya,” pungkasnya. (jar/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila