BLITAR - SMP pinggiran harus membuat inovasi yang mampu menarik perhatian calon siswa maupun orang tua.
Pasalnya, hingga kini ada sekitar lebih dari lima lembaga SMP pinggiran yang masih belum memenuhi pagu.
Diduga, stigma sekolah favorit masih menjadi pertimbangan saat momen pendaftaran alias memilih sekolah.
Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kabupaten Blitar, Cahyo Rohmadiyanto mengatakan, fenomena tidak terpenuhinya pagu SMP sudah terjadi beberapa tahun terakhir.
Rata-rata memang lokasi sekolah yang belum terpenuhi pagu tidak strategis. Misalnya, jumlah lulusan SD sedikit dan kalah bersaing dengan lembaga lainnya.
“Ditelisik di wilayah Blitar Barat, ada SMPN 1 Wonodadi dan SMPN 1 Sanankulon yang masih belum penuhi pagu. Untuk selatan, SMPN 2 Wonotirto, SMPN 2 Panggungrejo, SMPN 2 Wates, dan SMPN 3 Sutojayan,” ujar Cahyo, sapaan akrabnya.
Dia melanjutkan, ada beberapa faktor yang jadi penyebab beberapa SMP belum mampu memenuhi pagu. Tidak hanya akses dan jarak rumah ke sekolah.
Stigma sekolah favorit masih ada di benak masyarakat. Lalu, lulusan SD di sekitar lembaga SMP dimungkinkan sedikit. Hal itu cukup memengaruhi jumlah siswa yang masuk ke sekolah di jenjang berikutnya.
“Kondisi beberapa SMP tersebut memang masih belum penuhi pagu, namun jumlah siswanya sudah lebih dari 50 persen dari kuota,” katanya.
Pendaftaran peserta didik baru (PPDB) SMP gelombang kedua kini masih berlangsung sampai 14 Juni. Tiap sekolah memiliki jumlah kekurungan siswa yang tidak sama dan masih ada waktu untuk memenuhi pagu tersebut.
Cahyo mencontohkan, SMPN 1 Sanankulon yang notabene berbatasan dengan Kota Blitar, dari total delapan rombongan belajar (rombel) yang tersedia, saat ini masih terisi sekitar enam rombel.
Penyebabnya, beberapa SD di sekitarnya tidak terlalu banyak menghasilkan lulusan. Selain itu, ada beberapa SMP kota yang lebih sukses menarik minat masyarakat.
Ada beberapa kendala lain seperti di SMPN 3 Sutojayan. Lembaga ini berada di Desa Kaulon yang berbatasan dengan Kecamatan Binangun dan harus melewati hutan.
Sebenarnya di sekitarnya juga ada SD yang mendukung transfer siswa ke SMPN 3 Sutojayan, tapi jumlahnya tidak banyak.
Tidak hanya itu, sebagian orang tua memasukkan anaknya tidak ke sekolah terdekat, justru ke sekolah lain yang diminatinya.
“Secara hitungan masih banyak calon siswa yang belum melakukan pendaftaran PPDB SMP. Namun realitanya, banyak hal yang menjadi pertimbangan calon siswa dan orang tua untuk mencari sekolah baru. Untuk sekolah yang masih belum penuhi pagu, jumlah siswanya dapat bertambah,” ungkapnya.
Laki-laki yang juga menjabat sebagai Kepala Sekolah SMPN 1 Sutojayan ini menyebut pola PPDB SMP tiap tahun sama.
Sekolah yang menjadi jujukan utama dipastikan akan terpenuhi pagu pada gelombang pertama. Siswa yang tidak diterima pada PPDB gelombang pertama akan mencari sekolah alternatif.
Cahyo menambahkan, sekolah pinggiran yang belum terpenuhi pagu ini harus membuat inovasi untuk menarik minat masyarakat. Yakni dengan menonjolkan keunggulan yang dimiliki sekolah masing-masing.
“Selain itu, kami harus mengubah stigma masyarakat terhadap sekolah favorit. Karena saat ini, kualitas sekolah merata dan sama baiknya,” pungkasnya. (jar/c1/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila