BLITAR - Jagat maya kerap kali menyuguhkan gambaran degradasi moralitas anak bangsa yang semakin jauh dari ajaran agama dan budaya timur. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi dinas terkait.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Blitar Dindin Alinurdin mengatakan, ini imbas perkembangan teknologi yang kian canggih.
Setiap hari memberikan dampak cukup signifikan pada perilaku anak. Pasalnya, anak-anak sejak usia dini telah memiliki gadget, tapi di sisi lain kurang mendapat didikan tentang nilai-nilai moral sejak dini.
“Iya, secara umum anak-anak di Kota Blitar masih seperti harapan kami. Tapi, pengaruh teknologi ini tetap ada dan perlu diminimalisasi,” ungkapnya kepada Koran ini.
Menurut dia, anak-anak masa kini telah mengalami sesuatu yang baru, yang tidak dirasakan oleh generasi sebelumnya.
Yakni, teknologi informasi dan komunikasi model baru, media sosial, hingga pola kehidupan masyarakat yang berubah dengan drastis.
Tentu jarak antargenerasi ini menimbulkan keluhan-keluhan yang menganggap anak muda zaman sekarang kurang sopan dan tidak mengerti budaya.
Berbagai upaya dari pemerintah, jelas dia, telah dilakukan untuk meminimalisasi degradasi moral di Bumi Bung Karno ini. Salah satunya melalui program penguatan pendidikan karakter sekolah yang religius, nasionalis, berbudaya (Serenada).
“Iya, jadi program ini diterapkan pada seluruh sekolah di Kota Blitar lewat berbagai kegiatan. Nah, setiap seminggu sekali, tepatnya hari Sabtu, kita gelar event rutin di Makam Bung Karno (MBK) sebagai upaya pendidikan karakter,” jelasnya.
Melalui program Serenada tersebut, para siswa dikenalkan dengan budaya keagamaan, penanaman nilai kebangsaan dan cinta tanah air, yang di dalamnya terdapat sejarah bangsa.
Termasuk kisah-kisah pahlawan perjuangan dan seni budaya. Hal tersebut diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai moral sejak dini.
Dia mengimbau kepada seluruh siswa untuk lebih memperhatikan pergaulan dalam lingkungannya. Terutama ketika di dunia maya. Selain itu, bagi orang tua, perlu mengawasi anak-anaknya dalam bersosialisasi.
“Hendaknya fokus ke pembelajaran sekolah. Bukan berarti anak-anak tidak boleh bermain gadget. Alangkah lebih baik jika bersosialisasi dengan tatap muka dibanding lewat media sosial,” pungkasnya. (mg1/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila