BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM - Di tengah meningkatnya masalah kesehatan global, mulai dari penyakit kronis hingga gangguan metabolik, ilmu pengetahuan menemukan hubungan yang semakin jelas antara kesehatan manusia dan komunitas mikroorganisme yang hidup dalam saluran pencernaan kita, yang disebut mikrobiota usus.
Mikrobiota usus, yang terdiri dari miliaran bakteri, jamur, virus, dan mikroorganisme lainnya, memainkan peran penting dan mendasar dalam menjaga kesehatan tubuh.
Namun, perubahan dalam pola makan, gaya hidup modern, serta konsumsi antibiotik secara luas mulai mengganggu keseimbangan mikrobiota ini dan membuka jalan bagi berbagai risiko kesehatan.
Mikrobiota usus tidak hanya berfungsi untuk membantu pencernaan. Komunitas mikroorganisme ini terlibat dalam sistem kekebalan tubuh, produksi vitamin, dan bahkan pengaturan suasana hati serta fungsi otak.
Keseimbangan mikrobiota yang baik membantu tubuh melawan patogen berbahaya dan menjaga sistem kekebalan tubuh dalam kondisi yang optimal.
Sebaliknya, ketidakseimbangan atau “disbiosis” pada mikrobiota usus seringkali dikaitkan dengan risiko obesitas, diabetes tipe 2, peradangan usus, hingga gangguan neurologis seperti depresi dan kecemasan.
Pola makan tinggi gula dan rendah serat, serta penggunaan antibiotik yang berlebihan, adalah beberapa faktor yang dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota.
Hal ini dapat mengurangi keberagaman mikroorganisme baik dalam usus dan memungkinkan pertumbuhan bakteri yang dapat merugikan kesehatan.
Dampak disbiosis usus tidak hanya terbatas pada sistem pencernaan, tetapi juga dapat memicu peradangan sistemik yang berpengaruh pada organ lain, termasuk jantung dan otak.
Membangun keseimbangan mikrobiota usus membutuhkan pendekatan yang holistik, meliputi pola makan yang sehat, penggunaan probiotik, dan penghindaran penggunaan antibiotik yang tidak perlu.
Pola makan yang kaya serat, terutama dari sayuran dan buah-buahan, berperan penting dalam menyeimbangkan mikrobiota usus, karena menyediakan makanan bagi bakteri baik.
Selain itu, suplemen probiotik dan prebiotik juga semakin diakui sebagai cara yang efektif untuk memulihkan keseimbangan mikrobiota.
Di era modern ini, menjaga kesehatan usus tidak lagi sekadar tentang pencernaan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pencegahan penyakit kronis.
Keseimbangan mikrobiota usus adalah investasi kesehatan jangka panjang yang perlu lebih dipahami, didukung, dan diintegrasikan dalam praktik kesehatan masyarakat.
Meningkatkan kesadaran akan pentingnya mikrobiota usus melalui pendidikan dan promosi gaya hidup sehat dapat membantu masyarakat menjaga kesehatannya secara optimal.
Penulis adalah Delia Yusfarani, M.Kes Dosen Imunologi Fakultas Saintek UIN Raden Fatah Palembang. (*)