BLITAR - Tidak banyak generasi Z yang tertarik bekerja sebagai guru bahasa Jawa. Berbeda dengan Diah Retno Pambayun, guru SMPN 1 Binangun. Dia tertarik dengan profesi ini karena arahan ibunya dan berhasil raih beberapa prestasi.
Ayun, sapaan akrabnya, sudah menjadi guru bahasa Jawa di SMPN 1 Binangun sejak 2021. Pada tahun pertama mengajar, dia menorehkan prestasi dengan menjuarai lomba membaca geguritan tingkat nasional. Padahal, kala itu dia sedang mengantarkan muridnya ikut lomba tersebut.
“Sebenarnya lombanya itu SMP, SMA, dan umum. Saat itu mengantarkan murid-murid lomba maca geguritan dan saya juga ikut. Ternyata justru saya yang menang pada kategori umum tersebut,” ujar Ayu yang ditemui Minggu (24/11/2024).
Dia mengaku saat itu tidak terlalu mempersiapkan diri dalam perlombaan membaca geguritan karena lebih fokus untuk melatih murid-murid. Di sela-sela kegiatan itu, dia berlatih kesenian Jawa tersebut. Namun, dia kaget lantaran namanya justru disebut sebagai juara.
Tahun berikutnya, Ayun juga menorehkan prestasi dalam pembelajaranya. Dia meriah juara 2 inovasi pembelajaran (Inobel) guru jenjang SMP kategori IPSPB. Dia mengangkat permasalah pembelajaran yang dikeluhkan muridnya.
“Saya menerapkan tembang hanacaraka pada permainan dart boad pada materi menulis aksara Jawa kelas 7. Dengan metode itu, siswa saya cukup menikmati belajar bahasa Jawa, terutama untuk menghafal aksara Jawa,” ungkapnya.
Ayun menjelaskan, siswa akan lebih menikmati belajar bahasa Jawa dengan bermain dan bernyanyi. Karena alasan itu, dia menciptakan inovasi pembelajaran dengan dark board tersebut. Tentu diselingi dengan soal-soal materi bahasa Jawa.
Perempuan 26 tahun ini bersaing dengan puluhan guru dari sekolah negeri dan swasta di Kabupaten Blitar. Syukurnya, Ayun dapat berhasil meraih juara 2 karena dapat menerapkan inovasinya kepada siswa.
Pada tahun yang sama, Ayun juga berhasil menjadi finalis dalam festival baca puisi tingkat nasional di Bumi Bung Karno. Saat itu, lombanya bertema nasionalisme yang diselenggarakan oleh New De Koloniale.
“Saya memang suka di bidang baca puisi, geguritan, pidato, dan pambiwara atau MC Jawa. Maka dari itu, saya usahakan ada acara atau lomba terkait bidang itu diusahakan ikut. Siapa tahu bisa jadi juara,” tutur Ayun.
Baginya menjadi guru bahasa Jawa tidak hanya sekedar menyampaikan materi. Namun juga mengajarkan karakter peserta didik atau unggah-ungguh.
Selain itu juga pembiasan penggunaan bahasa Jawa. Kedua hal itu yang sulit. Meskipun begitu, ini menjadi sebuah tantangan dan kini murid-muridnya menikmati pembelajarannya.
Sementara itu, Ayun tertarik menjadi guru bahasa Jawa karena keinginan almarhum ibunya yang ingin buah hatinya melanjutkan pendidikan di bidang bahasa Jawa.
Orang tuanya melihat bahwa peluang kerja di bidang ini cukup luas. Ternyata benar, Ayun melihat tidak hanya menjadi pengajar lulusan pendidikan bahasa Jawa.
“Saya juga memiliki kesempatan untuk berkarier sebagai pambiwara, mendalami kesenian tradisional seperti karawitan, seni tari, dan berbagai cabang seni lainnya. Hal inilah yang semakin menguatkan minatnya untuk menjadi guru bahasa Jawa. Bahkan sekarang saya juga nyambi sebagai MC Jawa di acara manten,” pungkasnya. (jar/c1/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila