RADAR BLITAR - Karikatur diatas yang berjudul "Like, Share, Fitnah" merupakan kritik tajam terhadap penyalahgunaan teknologi digital, khususnya kecerdasan buatan (AI) dan deepfake, dalam kehidupan sosial modern.
Karikatur ini memiliki empat panel yang secara berurutan menggambarkan dampak berbahaya dari penyebaran informasi palsu dan manipulasi digital akibat penyalahgunaan AI dan deepfake.
Pada panel pertama, terlihat seseorang yang dengan sengaja memanfaatkan teknologi deepfake untuk kejahatan.
Ini merupakan penyalahgunaan kemajuan teknologi, yang seharusnya menjadi alat bantu, justru digunakan untuk menciptakan kebohongan visual dan menyebarkan fitnah.
Kemampuan AI untuk meniru wajah, suara, dan gerak tubuh seseorang dengan sangat meyakinkan membuat batas antara kenyataan dan manipulasi menjadi kabur.
Deepfake bukan lagi sekadar hiburan digital, melainkan senjata baru dalam kejahatan informasi.
Panel kedua memperlihatkan seorang ibu yang syok ketika anaknya dituduh melakukan kejahatan berdasarkan gambar palsu yang tersebar.
Ini menggambarkan betapa cepatnya masyarakat menelan mentah-mentah apa yang mereka lihat di internet tanpa verifikasi.
Rasa sakit dan kehancuran yang dialami keluarga korban menunjukkan bahwa fitnah digital bukan sekadar gangguan, tapi bisa menghancurkan kehidupan nyata seseorang.
Panel ketiga menampilkan kampanye politik dengan berita palsu tentang tokoh masyarakat.
Isu propaganda digital yang dapat mempengaruhi opini publik dibahas di panel ini. Teknologi digunakan untuk mengubah persepsi orang, menghancurkan lawan politik, dan menghancurkan demokrasi.
"Like" dan "share" menjadi alat untuk menyebarkan informasi palsu yang dapat merusak masyarakat dan kepercayaan umum.
Panel keempat menunjukkan kegelisahan sosial yang lebih dalam: seorang anak yang mempertanyakan identitas saudaranya sendiri, seorang petugas polisi yang tidak yakin dengan identitas asli seseorang, dan seorang pria berteriak di tengah jalan bahwa dia bukan deepfake.
Ini menunjukkan krisis kepercayaan di era teknologi dan identitas diri dipertanyakan ketika orang tidak lagi percaya pada orang lain.
Secara keseluruhan, karikatur ini menunjukkan bahaya penyalahgunaan teknologi dan penyebaran informasi palsu dalam masyarakat.
Pada media sosial fitur "Like" dan "Share", yang dulunya merupakan tanda interaksi positif di media sosial, sekarang digunakan untuk menyebarkan fitnah yang berbahaya.
Pertanyaannya jelas: agar teknologi tidak menjadi penghancur bagi peradaban manusia, harus diikuti dengan etika, literasi digital, dan tanggung jawab moral untuk dapat melawannya.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.