Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Peran CT - Scan Dalam Diagnosa Hydrocephalus

Anggi Septian A.P. • Rabu, 11 Juni 2025 | 01:22 WIB

Gambar 1. Kiri: CT scan kepala (axial) normal. Tidak tampak pelebaran ventrikel lateralis kanan kiri. Kanan: CT scan kepala (axial) pada pasien dengan hidrosefalus dengan pelebaran ventrikel lateralis
Gambar 1. Kiri: CT scan kepala (axial) normal. Tidak tampak pelebaran ventrikel lateralis kanan kiri. Kanan: CT scan kepala (axial) pada pasien dengan hidrosefalus dengan pelebaran ventrikel lateralis

RADAR BLITAR - Hidrosefalus merupakan kondisi yang ditandai oleh penumpukan cairan serebrospinal (CSS) secara abnormal di dalam ventrikel otak, yang menyebabkan dilatasi ventrikel dan peningkatan tekanan intrakranial.

Dalam kondisi normal, cairan ini berperan penting dalam melindungi serta menutrisi otak. Namun, bila terjadi hambatan pada proses pembentukan, peredaran, atau penyerapannya, cairan dapat menumpuk dan menyebabkan pelebaran ventrikel serta tekanan tinggi di dalam kepala.

Tekanan tersebut dapat mengganggu fungsi otak, seperti kerusakan jaringan otak, keterlambatan perkembangan pada anak, bahkan risiko kematian.

Gejala dan Tanda – Tanda Klinis

Penyakit hidrosefalus dapat dialami oleh semua kelompok usia, mulai dari bayi hingga orang dewasa. Pada bayi, penyebab umum meliputi kelainan bawaan seperti penyempitan akuaduktus, spina bifida, atau malformasi Arnold-Chiari.

Pada anak dan dewasa, penyebabnya bisa berupa infeksi, tumor otak, cedera kepala, atau perdarahan. Gejala bervariasi, termasuk pembesaran kepala, muntah, gangguan berjalan, dan penurunan kognitif.

CT-Scan penting untuk mendeteksi pelebaran ventrikel dan mendiagnosis secara akurat sejak dini.

Mengapa CT Scan jadi andalan? 

CT Scan adalah pemeriksaan pencitraan medis menggunakan sinar-X dan komputer untuk menghasilkan gambar tubuh yang detail.

Teknik ini membantu dokter dalam mendiagnosis penyakit atau cedera secara akurat. Dalam kasus hidrosefalus, CT Scan menilai pelebaran ventrikel, mendeteksi obstruksi cairan serebrospinal, dan mengidentifikasi penyebab seperti tumor atau perdarahan.

CT Scan juga mampu membedakan jenis hidrosefalus berdasarkan pola pelebaran ventrikel, baik communicating maupun non-communicating.

Pada pasien lansia, CT Scan dapat menunjukkan tanda khas normal pressure hydrocephalus seperti ventrikulomegali. Hal ini membantu membedakan dari gangguan neurodegeneratif seperti Alzheimer.

Baca Juga: Pemkab Blitar Gelontorkan Tambahan Anggaran Rp 12 M untuk Perbaikan Jalan di Sejumlah Titik Ini

Gambar 1. Kiri: CT scan kepala (axial) normal. Tidak tampak pelebaran ventrikel lateralis kanan kiri. Kanan: CT scan kepala (axial) pada pasien dengan hidrosefalus dengan pelebaran ventrikel lateralis
Gambar 1. Kiri: CT scan kepala (axial) normal. Tidak tampak pelebaran ventrikel lateralis kanan kiri. Kanan: CT scan kepala (axial) pada pasien dengan hidrosefalus dengan pelebaran ventrikel lateralis

Proses pemeriksaan CT Scan untuk pasien Hidrosefalus 

Pemeriksaan CT scan memegang peran penting dalam menilai pelebaran ventrikel otak, mendeteksi obstruksi aliran cairan serebrospinal (CSF), serta mengevaluasi hasil pasca-operasi seperti efektivitas pemasangan shunt pasien hidrosefalus.

Secara prosedural, pasien supine di meja CT dengan kepala distabilkan menggunakan headholder untuk mencegah artefak gerakan. Pemeriksaan dilakukan dalam mode axial non-kontras menggunakan irisan tipis (sekitar 3 mm) dari basis cranii ke vertex.

Sudut gantry umumnya disesuaikan sejajar garis orbitomeatal untuk memperoleh proyeksi optimal. Parameter teknis seperti kVp, mAs, dan field of view (FOV) diatur sesuai usia dan ukuran pasien untuk menjaga kualitas citra dengan dosis rendah.

Jika perlu dapat direkonstruksi secara MPR atau tiga dimensi. Kontras hanya diberikan jika diduga terdapat lesi seperti tumor atau kelainan vaskular.

Pemeriksaan ini cepat, sekitar 1–5 menit. Pada bayi dan anak, difokuskan pada imobilisasi dan pengurangan dosis radiasi menggunakan protokol low-dose sesuai prinsip ALARA dan kampanye Image Gently.

Evaluasi VP shunt mencakup posisi shunt, ukuran ventrikel, dan indeks Evans sebagai penanda derajat dilatasi. 

Apa yang terjadi setelah diagnosis?

Setelah diagnosis hidrosefalus ditegakkan melalui CT scan, penanganan selanjutnya disesuaikan dengan penyebab, usia, dan kondisi klinis pasien.

Pemasangan shunt, terutama ventriculoperitoneal (VP shunt), merupakan terapi utama untuk mengalirkan cairan serebrospinal (CSF) dari otak ke rongga perut, sehingga menurunkan tekanan intrakranial.

Pada kasus hidrosefalus obstruktif, endoscopic third ventriculostomy (ETV) dapat menjadi alternatif efektif dengan menciptakan jalur baru aliran CSF.

Untuk pasien dengan gejala ringan atau risiko tinggi terhadap operasi, dilakukan pemantauan klinis dan imaging berkala. CT scan berperan penting pasca tindakan, seperti mengevaluasi posisi kateter, mendeteksi komplikasi (misalnya perdarahan), serta memantau ukuran ventrikel.

Meskipun sensitivitas CT dalam mendeteksi malfungsi shunt terbatas (50–60%), teknik ini tetap berguna jika dikombinasikan dengan gejala klinis dan pemeriksaan lain. Protokol CT terbatas juga dapat mengurangi paparan radiasi. Dalam jangka panjang, follow-up imaging secara berkala tetap dibutuhkan untuk deteksi dini komplikasi.

Kesimpulan

CT scan merupakan modalitas pencitraan awal yang sangat dapat diandalkan dalam mendiagnosa hidrosefalus dikarenakan kemampuannya mendeteksi pelebaran ventrikel otak (ventrikulomegali) dengan sensitivitas tinggi (>90%) sehingga dapat memberikan gambaran anatomi otak secara cepat serta jelas.

Ct scan efektif dalam membedakan jenis hidrosefalus, mengidentifikasi obstruksi aliran CSS, dan membantu diagnosis NPH dengan keakuratan yang tinggi. Kecepatan, ketepatan, dan akses yang mudah menjadikan pilihan utama, terutama dalam keadan darurat.

Dengan keakuratannya CT scan diharapkan deteksi hidrosefalus dapat dilakukan lebih dini sehingga intervensi medis seperti pemasangan shunt atau tindakan bedah endoskopik dapat dilakukan sebelum terjadi kerusakan neurologis permanen.(*)

 

Azmi Ramadhan 1), Azka Jilzakia Agustina 2), Miranda Hazrati 3), Irgi Saefiqih 4), Zahro Nurul Madaniyah 5), Adinda Fatihah Aulia 6), Rifqi Fadhil 7), Ahmad Davit 8) 

Teknologi Radiologi Pencitraan, Universitas Airlangga

Jl. Srikana No. 65, Surabaya

email : azkajilzak@gmail.com

 

Masyarakat juga perlu diedukasi terkait gejala hidrosefalus, seperti pembesaran kepala pada bayi, sakit kepala kronis, gangguan penglihatan,kesulitan berjalan, atau penurunan kognitif pada lansia.

Sehingga perlu untuk skrining agar dapat mencegah terjadi hidrosefalus dan dapat dilakukan tindakan lanjut seperti pemeriksaan penunjang CT scan guna untuk diagnosis dan penanganan yang tepat sehingga dapat meminimalisir terjadinya tumpang tindih dengan kondisi lain seperti demensia atau gangguan neurodegeneratif.

Refrensi

  1. Damanik, I.R.T., Uinarnit, H. and Hendara, F., (2023). Korelasi Hidrosefalus Berdasarkan Pemeriksaan CT Scan dengan Klinis di RSUD Tiara Kasih Sejati Pematangsiantar. Methoda: Jurnal Ilmiah dan Teknologi, 12(1), pp.57–66. https://doi.org/10.46880/methoda.Vol12No1.pp57-66 
  2. Flannery, A. M. (2022). Shunt Malfunction Detection Using Imaging and Clinical Correlation. Child’s Nervous System. 
  3. Kahle, K. T., Kulkarni, A. V., Limbrick, D. D., & Warf, B. C. (2016). Hydrocephalus in children. The Lancet, 387(10020), 788–799. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(15)60694-8 
  4. Roth, J. (2021). CT Evaluation After Shunt Placement: Utility and Guidelines. Journal of Neurosurgical Imaging.
  5. Srinivasan, A. (2021). Role of Imaging in Hydrocephalus Management. Journal of Neurosurgery.
Editor : Anggi Septian A.P.
#hidrosefalus #ct scan