RADAR BLITAR - Trauma kepala adalah gangguan otak akibat faktor eksternal seperti kecelakaan lalu lintas, jatuh, kekerasan, atau percobaan bunuh diri, yang menyebabkan gangguan fungsi kognitif, fisik, dan psikososial secara sementara atau permanen.
Cedera ini menjadi penyebab utama kematian pada usia di bawah 45 tahun, dengan hampir 50% kematian akibat cedera kepala.
Trauma kepala diklasifikasikan menjadi ringan, sedang, dan berat, dengan mekanisme tersering di negara berkembang adalah kecelakaan kendaraan bermotor, sedangkan di negara industri lebih banyak akibat kecelakaan kerja.
Penanganan cepat sangat penting karena cedera otak bisa berakibat fatal.
CT scan menjadi modalitas utama untuk evaluasi awal trauma kepala karena mampu mendeteksi perdarahan, edema, dan fraktur dengan cepat dan akurat, serta menjadi standar pemeriksaan awal sebelum tindakan lanjutan.
CT scan adalah teknologi pencitraan medis yang memanfaatkan sinar-X dan sistem visual komputer untuk menghasilkan gambar melintang tubuh manusia. Salah satu jenis yang paling sering digunakan adalah CT kepala, terutama di unit gawat darurat untuk mendeteksi cedera kepala, stroke, atau trauma intrakranial (Chilamkurthy et al., 2018).
Fraktur pada dasar tengkorak umumnya melibatkan tulang temporal, occipital, sphenoid, serta ethmoid (Faried et al., 2019).
Dibanding radiografi konvensional, CT scan menawarkan citra lebih detail tanpa tumpang tindih, memungkinkan visualisasi secara lebih jelas, akurat, dan informatif.
Durasi keseluruhan proses pemindaian biasanya memakan waktu 45 menit hingga satu jam, tergantung jenis serta tingkat kompleksitas CT scan yang digunakan.
Modalitas pencitraan utama yang digunakan dalam evaluasi kasus trauma kepala meliputi Computed Tomography (CT) Scan, Magnetic Resonance Imaging (MRI), Ultrasonografi (USG), dan X-ray konvensional, dengan masing-masing modalitas memiliki keunggulan dan keterbatasan yang spesifik.
CT scan digunakan sebagai modalitas awal dalam trauma kepala karena kecepatan pemeriksaan dan kemampuannya mendeteksi perdarahan akut, fraktur tulang tengkorak, dan hematoma dengan sensitivitas tinggi (Brown et al., 2018).
CT scan juga lebih mudah diakses dan lebih cepat dibandingkan MRI, sehingga sangat penting dalam situasi darurat.
Namun, CT scan memiliki keterbatasan dalam menilai jaringan lunak otak secara rinci, yang merupakan keunggulan utama MRI (Green et al., 2021).
Ultrasonografi, meskipun tidak umum digunakan untuk evaluasi trauma kepala pada orang dewasa, namun USG memiliki peran dalam pemeriksaan bayi dan anak-anak terutama untuk menilai perdarahan subgaleal atau hematoma subdural melalui fontanel yang masih terbuka.
USG juga bebas radiasi dan relatif mudah dilakukan tetapi terbatas oleh penetrasi gelombang suara yang tidak dapat menembus tulang tengkorak dewasa (Kumar & Singh, 2017).
X-ray konvensional memiliki peran yang terbatas dalam evaluasi trauma kepala karena hanya dapat mendeteksi fraktur tulang besar dan tidak memberikan informasi detail mengenai kondisi jaringan lunak otak.
Oleh karena itu, X-ray lebih banyak digunakan sebagai pemeriksaan pendukung atau screening awal jika CT tidak tersedia (Miller et al., 2016).
CT scan merupakan modalitas pencitraan yang krusial dalam penanganan trauma kepala akut karena mampu menampilkan struktur intrakranial secara cepat dan detail.
Pemeriksaan ini mendeteksi lesi seperti hematoma, fraktur, edema, dan pergeseran garis tengah yang mempengaruhi keputusan klinis darurat.
Selain diagnosis, CT juga berguna untuk memantau perkembangan lesi dan memberikan informasi prognostik.
Bahkan pada cedera ringan, CT dapat menunjukkan temuan abnormal, membantu menghindari underdiagnosis.
Studi menunjukkan pasien dengan GCS
Secara keseluruhan, peran CT scan dalam evaluasi klinis trauma kepala tidak hanya terletak pada aspek diagnostik, melainkan juga sebagai penentu arah tatalaksana yang cepat dan tepat.
Keandalan dan akurasinya dalam menggambarkan kondisi struktural otak secara langsung memberikan kontribusi terhadap efisiensi pelayanan gawat darurat dan peningkatan keselamatan pasien.
Oleh karena itu, CT scan layak dianggap sebagai pilar utama dalam manajemen awal trauma kepala akut, baik dalam hal penegakan diagnosis, pemantauan perkembangan klinis, maupun penentuan intervensi terapeutik yang diperlukan secara dini.
CT scan sangat berguna untuk mendeteksi cedera kepala secara cepat dan akurat, namun memiliki kelemahan. Paparan radiasi cukup tinggi, terutama jika dilakukan berulang, bisa berisiko jangka panjang, terutama pada anak-anak.
CT juga kurang sensitif terhadap cedera mikroskopis seperti diffuse axonal injury (DAI), di mana MRI lebih unggul. Keterbatasan fasilitas, terutama di daerah terpencil, serta biaya tinggi menjadi tantangan tersendiri.
Penggunaan berlebihan tanpa indikasi tepat dapat membahayakan pasien. Oleh karena itu, pengaturan dosis dan pedoman klinis sangat penting untuk penggunaan CT-Scan yang bijak dan tepat guna.
Trauma kepala memerlukan penanganan cepat dan terintegrasi karena berdampak besar pada kematian dan kecacatan usia produktif.
CT-Scan menjadi pilihan utama diagnosis awal karena kecepatan dan akurasinya dalam mendeteksi lesi intrakranial, namun penggunaannya harus rasional mengingat risiko radiasi, keterbatasan deteksi cedera mikroskopis, serta aspek biaya dan ketersediaan.
Oleh karena itu, kolaborasi tenaga medis, radiografer, dan kebijakan kesehatan sangat penting agar evaluasi pasien optimal, pemilihan modalitas pencitraan tepat, dan angka kematian serta kecacatan dapat ditekan.(*)
Aufa Rayhan Purnomo1, Baiq Nova Fitriana2, Mariana Tirta Woga3, Innaya Amelia Pudul4, Farrah Devina Damayanti5, Fadiya Achmanda Dwi Riandita6, Aisyah Maudina Rahmawati7
¹⁾Teknologi Radiologi Pencitraan, Universitas Airlangga
Jl. Srikana 65, Surabaya Indonesia
Dosen Pengampu : Amillia Kartika Sari, S. Tr., Kes, M. T
Referensi
- Beily, D. C. E. (2018). Hubungan Antara Faktor Transportasi Dengan Cedera Kepala Sekunder Pada Pasien Cedera Kepala Berat Di Igd Rsud Bangil. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widyagama Husada Malang.
- Chilamkurthy, S., Ghosh, R., Tanamala, S., Biviji, M., Campeau, N. G., Venugopal, V. K., Mahajan, V., Rao, P., & Warier, P. (2018). Deep learning algorithms for detection of critical findings in head CT scans: a retrospective study. The Lancet, 392(10162), 2388–2396. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(18)31645-3
- Dwi Prastanti, A., Kartikasari, Y., Pribadi, R., Kurniawan, A. N., Rochmayanti, D., Health, ), & Prastanti, A. D. (2022). Jurnal Imejing Diagnostik Optimalisasi Tegangan Tabung (kVp) Terhadap Kejelasan Informasi Anatomi dan Dosis Radiasi Pada Pemeriksaan CT SCAN Kepala Area Basis Cranii. Jurnal Imejing Diagnostik, 8, 141–148. https://ejournal.poltekkes-smg.ac.id/ojs/index.php/jimed/index
- Faried, A., Halim, D., Widjaya, I. A., Badri, R. F., Sulaiman, S. F., & Arifin, M. Z. (2019). Correlation between the skull base fracture and the incidence of intracranial hemorrhage in patients with traumatic brain injury. Chinese Journal of Traumatology - English Edition, 22(5), 286–289. https://doi.org/10.1016/j.cjtee.2019.05.006
- Fitriana, N. F. (2020). Gambaran Revised Trauma Score pada Pasien Cedera Kepala Berat di RSUD Margono Soekardjo. Prosiding Seminar Nasional, 1(1), 64–67.
- Jesus, Z. D. R., Juliantara, I. P. E., & Sukadana, I. K. (2023). Perbandingan Kualitas Citra CT-Scan Kepala Pada Kasus Trauma Dengan Variasi Increment Di Rumah Sakit Balimed. Calory Journal : Medical Laboratory Journal, 1(4), 85-98. e-ISSN : 3026-5746 dan p-ISSN : 3026-5754.
- Jha, Dr.D.K. and Chauhan, Dr.R.N. (2019) “DIAGNOSIS AND MANAGEMENT OF COMPUTED TOMOGRAPHY IN HEAD INJURY,” International Journal of Medical and Biomedical Studies, 3(6). Available at: https://doi.org/10.32553/ijmbs.v3i6.708.
- Rahayu, D., Rinawati, F., & Yunarsih. (2022). INCREASING CAPITIS TRAUMA RECOGNITION SKILLS WITH SIMULATION TECHNIQUES. Jurnal Ilmu Kesehatan, 11(1). ISSN Cetak 2303-1433 ISSN Online: 2579-7301.
- Rathi, A.R. et al. (2020) “Role of CT in Head Trauma,” International Journal of Contemporary Medicine, Surgery and Radiology, 5(1). Available at: https://doi.org/10.21276/ijcmsr.2020.5.1.52.
- Sylvani. (2017). Peran Neuroimaging dalam Diagnosis Cedera Kepala. CDK-249, 44(2).