Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Radioterapi Aman dan Efektif: Peran Strategis Proteksi Radiasi

Anggi Septian A.P. • Kamis, 19 Juni 2025 | 03:20 WIB

 

Photo
Photo

RADAR BLITAR - Mendengar kata "radiasi" sering kali membuat orang merasa takut. Padahal, dalam dunia medis, radiasi justru bisa menjadi penyelamat, terutama dalam pengobatan kanker lewat radioterapi.

Radiasi ibarat pisau bedah, tajam dan berisiko, tetapi di tangan tenaga medis yang terlatih, ia mampu menyelamatkan nyawa. Sama seperti pisau pula yang perlu penanganan hati-hati, penggunaan radiasi pun memerlukan  proteksi ketat agar manfaatnya maksimal dan dampaknya tetap terkendali.

Proteksi radiasi adalah segala tindakan untuk meminimalkan dampak berbahaya dari paparan radiasi, baik bagi pasien, petugas medis, maupun lingkungan.

Tindakan ini didasari tiga prinsip utama:

Justifikasi: Terapi dilakukan hanya jika manfaatnya lebih besar dari risikonya. Ini merupakan pertimbangan pertama sebelum memulai terapi.
Optimisasi: Dosis diatur serendah mungkin tetapi tetap efektif untuk mencapai efek terapi yang diinginkan. Ini dikenal juga dengan prinsip ALARA (As Low As Reasonably Achievable).
Limitasi: Pembatasan dosis untuk pekerja radiasi (maksimal 20 mSv/tahun) dan masyarakat umum (maksimal 1 mSv/tahun) sesuai aturan BAPETEN. Khusus pasien, tidak ada batas dosis karena radiasi merupakan bagian dari pengobatan.
 

 

Ruang radioterapi yang dirancang sesuai standar proteksi radiasi.
Ruang radioterapi yang dirancang sesuai standar proteksi radiasi.

Apa Itu Radioterapi dan Mengapa Butuh Proteksi?

Radioterapi adalah salah satu metode pengobatan kanker menggunakan sinar berenergi tinggi, seperti sinar-X dan sinar gamma, untuk menghancurkan sel kanker dan menghentikan penyebarannya. Walau demikian, radiasi juga berpotensi membahayakan jika tidak ditangani dengan tepat.

Maka dari itu, proteksi radiasi sangat penting ditegakkan agar terapi bekerja dengan efektif tanpa membahayakan pasien, petugas medis, maupun lingkungan sekitar.

Aksi Nyata Proteksi Radiasi

Proteksi untuk Pasien
Sebelum sesi terapi dimulai, pasien menjalani pemeriksaan dengan teknologi canggih seperti CT Simulator untuk memastikan radiasi hanya mengenai tumor. Pasien juga diposisikan dengan alat fiksasi, seperti masker termoplastik agar tidak bergerak selama penyinaran, demi menghindari paparan ke jaringan sehat di sekitarnya.

Teknik modern seperti IMRT, IGRT, dan VMAT membantu menyesuaian dosis radiasi dan menargetkan sel kanker secara presisi. Dosis pun dibagi menjadi fraksi-fraksi kecil dalam beberapa sesi agar jaringan sehat memiliki waktu untuk pulih.

Proteksi untuk Petugas Medis
Petugas mengoperasikan alat dari ruang kontrol yang dirancang sesuai standar. Setiap petugas  wajib menggunakan dosimeter, yaitu alat untuk mengukur seberapa banyak radiasi yang diterima selama bekerja.

Pada kondisi tertentu, mereka juga mengenakan alat pelindung diri seperti apron timbal, sarung tangan timbal, dan kacamata khusus untuk mengurangi efek paparan radiasi. Selain itu, dilakukan pelatihan proteksi radiasi dan pengawasan kesehatan secara berkala guna memastikan keselamatan kerja.

 

Proteksi untuk Lingkungan
Ruang terapi didesain seperti bunker dengan dinding tebal dari beton atau timbal untuk menahan radiasi. Pintu ruangan dilengkapi sistem interlock dan area akses dibatasi hanya untuk petugas yang berwenang. Ini guna memastikan tidak ada paparan ke area publik.

Penggunaan masker termoplastik untuk menjaga posisi pasien tetap akurat selama terapi.
Penggunaan masker termoplastik untuk menjaga posisi pasien tetap akurat selama terapi.

Mengapa Edukasi Itu Penting?

Masih banyak mitos seputar radiasi, mulai dari “bisa bikin mandul” hingga “bikin keturunan cacat,” yang membuat pasien takut menjalani terapi. Padahal, dengan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan proteksi yang ketat, terapi ini aman dan efektif membantu proses penyembuhan.

Edukasi menjadi jembatan penting agar masyarakat tidak lagi dihantui ketakutan yang keliru. Yuk, ubah ketakutan menjadi pemahaman. Radioterapi bukanlah momok, bagaikan secercah cahaya di tengah gelapnya perjuangan, ia memberi harapan bagi jutaan pasien kanker untuk terus melangkah dan bertahan.(*)

Referensi

  1. Ayu, M. S. K. (2019). Proteksi radiasi pada pasien, pekerja, dan lingkungan di dalam instalasi radiologi. Strada: Jurnal Ilmiah Kesehatan, 8(2), 236–239.
  2. Badan Pengawas Tenaga Nuklir. (2013). Peraturan Kepala BAPETEN Nomor 3 Tahun 2013 tentang keselamatan radiasi dalam penggunaan radioterapi. https://jdih.bapeten.go.id/id/dokumen/peraturan/peraturan-kepala-badan-pengawas-tenaga-nuklir-nomor-3-tahun-2013-tentang-keselamatan-radiasi-dalam-penggunaan-radioterapi
  3. Fitriatuzzakiyyah, N., Sinuraya, R. K., & Puspitasari, I. M. (2017). Terapi kanker dengan radiasi: Konsep dasar radioterapi dan perkembangannya di Indonesia. Jurnal Farmasi Klinik Indonesia, 6(4), 311–320. https://doi.org/10.15416/ijcp.2017.6.4.311
  4. Harun, H. M., Jannah, N., Idawati, & Ahmad, Z. F. (2022). Evaluasi pengobatan radioterapi pada pasien kanker. Journal Syifa Sciences and Clinical Research (JSSCR), 4(3), 157-164. https://doi.org/10.37311/jsscr.v4i3.15794
     
Editor : Anggi Septian A.P.
#radioterapi #radiasi