BLITAR - Nasib Ganendra Giri PW, atlet panjat tebing Kota Blitar yang kaya prestasi dan medali, berbanding terbalik dengan kondisi pendidikannya.
Meskipun kerap meraih prestasi regional dan nasional, justru warga Kelurahan Bendogerit ini gagal lolos tes di SMA unggulan lewat jalur prestasi nonakademik.
Nama Ganendra Giri Putra Wardana mungkin sudah tidak asing di dunia panjat tebing di Kota Blitar, bahkan level Jawa Timur.
Atlet berusia 15 tahun ini sudah beberapa kali menyabet prestasi lewat kompetisi panjang tebing tingkat regional hingga Nasional. Terbaru, dia bahkan berhasil menyumbang satu emas di ajang Porprov Jatim IX 2025.
Perjuangan alumnus SMPN 4 Blitar ini masih berlanjut di porprov. Sebab masih ada beberapa kategori pertandingan lagi yang akan dijalani. Cabang olahraga (cabor) panjat tebing ini menjadi salah satu cabor unggulan kontingen Kota Blitar di porprov.
Namun sayang, perjuangan keras selama ini membawa nama Kota Blitar hingga ke pentas nasional tak sepenuhnya diapresiasi dalam seleksi penerimaan murid baru jenjang SMA/SMK tahun ajaran 2025/2026.
Buktinya, dia tidak lolos masuk sekolah tujuannya, yakni SMAN 1 Blitar, melalui jalur prestasi nonakademik. Sebagaimana diketahui, SMA negeri tersebut selama ini terbilang jadi SMA favorit dan menjadi rebutan.
Baru saja, Giri – sapaan akrabnya – menyumbang medali emas dari nomor speed WR relay dalam ajang Porprov Jatim 2025. Debutnya di porprov bukan keberuntungan belaka.
Sebelumnya, Giri sudah banyak pengalaman kompetisi di berbagai kejuaraan, mulai dari tingkat regional hingga nasional.
Bahkan, dia menjadi wakil Jawa Timur di bawah naungan Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Hanya beberapa hari sebelum porprov, Giri baru saja pulang dari Kejurnas Panjat Tebing di Tangerang, Jawa Barat.
Namun, prestasi demi prestasi yang diraihnya seolah tidak berarti tatkala dia mendaftar ke SMA 1 Kota Blitar. Sekolah favorit yang selama ini diunggulkan sebagian besar orang itu ternyata tidak menerimanya.
“Saya tidak tahu alasan tidak diterima itu apa. Cuma tidak diterima saja, katanya. Padahal piagam-piagam saya sudah saya sertakan semua,” ungkap Giri, Rabu (2/7/2025).
Di tengah kegembiraan karena baru saja berhasil meraih emas atas nama Kota Blitar, remaja ini justru harus menghadapi kenyataan pahit justru dari dunia pendidikan.
“Ya, sedih banget sih rasanya. Sudah capek latihan, berusaha menang demi nama Kota Blitar, eh tapi malah gak dianggap. Rasanya kaya tidak dihargai,” ungkapnya.
Di tengah kesibukan bertanding di porprov, Giri masih menyempatkan waktu mengurus pendidikan. Tapi kenyataan tak sesuai dengan harapan harus diterima.
Tak ada tempat baginya di SMA unggulan, meski telah membawa nama harum daerah kelahirannya.
Gagalnya Giri masuk ke SMA negeri unggulan itu tentu membuat orang tua kecewa berat. Orang tua tidak habis pikir dengan hasil seleksi yang didapat anaknya tersebut.
”Jelas-jelas anak saya ini atlet panjat tebing dan prestasinya tingkat nasional. Kok bisa-bisanya tidak lolos. Ini kenapa,” ujar Linda, ibunda Giri.
Padahal, Giri sudah membawa nama harus Kota Blitar di kancah nasional. Prestasinya juga tidak kaleng-kaleng dan tentu melalui perjuangan yang keras. Meski begitu, dia tidak ingin larut dalam kekecewaan.
”Mudah-mudahan ini bisa jadi bahan evaluasi bagi dunia pendidikan ke depannya. Oke lah, akademik memang penting, tetapi mereka yang punya prestasi di bidang nonakademik ya juga harus punya peluang yang sama, apalagi sampai membawa nama harum daerah,” tuturnya.
Sang ibu berharap prestasi yang diukir di Porprov Jatim 2025 ini bisa mengetuk hati pihak dinas maupun sekolah agar lebih peduli pada perjuangan anak-anak yang juga atlet seperti anaknya.
”Jangan sampai atlet-atlet dari cabor lain yang telah berprestasi bernasib sama. Tolong hargai perjuangan keras para atlet yang berpretasi,” pungkasnya. (*/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah