BLITAR - Generasi muda, khususnya gen Z, di era kini lekat dengan gawai dan tren digital.
Namun tidak dengan Khairunisa Maulina Azzara dan kawan-kawan. Pelajar SMA ini lebih memilih jalan sunyi, yakni dengan lebih banyak membaca, berdiskusi, hingga menyebarkan semangat Bung Karno di Kota Blitar lewat komunitas Sajak Literata.
Usianya masih remaja, tetapi semangat untuk berliterasi terus membara. Khususnya literasi mengenai sejarah bangsa Indonesia. Bung Karno menjadi sosok pahlawan nasional yang perjalanan hidupnya terus digaungkan kepada generasi muda kini.
Di usianya yang belia, Zara menjadi penggerak komunitas literasi yang diberi nama Sajak Literata. Komunitas yang mewadahi semangat baca, tulis, diskusi, dan aksi sosial anak-anak muda Blitar.
Yang membedakan, komunitas ini tak hanya bicara soal sastra dan buku fiksi. Komunitas ini juga rajin menyelipkan diskusi seputar sejarah Bung Karno — sosok proklamator yang jasadnya dimakamkan di Kota Blitar.
“Saya merasa miris saja, lahir di Kota Blitar yang disebut-sebut sebagai Bumi Bung Karno, tapi banyak anak muda yang justru asing dengan sosok beliau,” ujar Zara kepada Jawa Pos Radar Blitar, Minggu (6/7/2025).
“Padahal, Bung Karno itu luar biasa. Kita perlu mengenal beliau lebih dari sekadar tokoh sejarah,” lanjutnya.
Kegiatan komunitas Sajak Literata terbilang konsisten. Setiap Minggu pagi, mereka membuka lapak baca buku gratis di taman-taman kota.
Mulai dari Kebon Rojo, Taman Sentul, hingga Blitar Green Park. Buku-buku yang dibawa pun beragam, mulai dari puisi, novel, hingga literatur sejarah.
Zara dan teman-temannya mengajak pengunjung taman membaca, berdiskusi ringan, bahkan menyimak pembacaan puisi. Bahkan, bagi yang tertarik menulis, mereka diberi ruang untuk menampilkan karya.
Tak jarang diskusi mengalir membahas topik sejarah bangsa, termasuk tentang Bung Karno, yang menjadi fokus utama Zara selama ini.
“Saya tidak ingin sejarah Bung Karno hanya menjadi nama jalan atau nama gedung. Saya ingin anak muda tahu betul ajaran beliau, semangat nasionalismenya, perjuangannya,” tutur pelajar alumnus SMPN 3 Blitar ini.
Menurut Zara, literasi bukan hanya soal membaca dan menulis. Lebih dalam, literasi adalah kemampuan berpikir kritis, membedakan informasi valid dan hoax, serta menyikapi sejarah dari berbagai sudut pandang.
Itulah yang membuatnya gigih memperkenalkan sejarah melalui literasi.
“Saya yakin, kalau orang sudah terbiasa membaca, berdiskusi, dan mendalami sebuah peristiwa, maka mereka tidak mudah percaya narasi-narasi yang berseliweran di media sosial. Apalagi yang belum bisa dipastikan kebenarannya,” tegasnya.
Di komunitasnya, Zara mengajak anggota yang mayoritas pelajar SMP dan SMA untuk aktif berdiskusi dan menganalisis isu terkini. Bila ada yang tertarik mendalami Bung Karno, dia biasanya mengarahkan mereka ke forum Pelita Bangsa, program milik Perpustakaan Proklamator Bung Karno.
Zara bukan tipe pelajar yang hanya sibuk di balik buku. Dia juga aktif mengikuti kegiatan sosial dan lingkungan. Menurutnya, memahami ajaran Bung Karno tak cukup hanya dengan membaca, tapi juga dengan mengamalkan semangat gotong royong, cinta tanah air, dan menghargai keberagaman.
Meski mengaku masih terus belajar, Zara tak bisa menampik bahwa kerap didaulat sebagai koordinator atau fasilitator diskusi.
“Saya bukan siapa-siapa. Hanya seorang pelajar yang ingin menyampaikan semangat Bung Karno dengan cara yang bisa diterima anak muda,” katanya.
Bagi Zara, sejarah bukan ajang mencari siapa yang paling berjasa. “Sejarah itu bekal masa depan. Dari sejarah, kita belajar mana yang bisa diambil, mana yang ditinggalkan,” ucapnya.
“Bangsa yang tak tahu sejarahnya akan mudah dihancurkan. Itu sudah sering Bung Karno sampaikan,” imbuhnya.
Zara punya misi besar yakni menumbuhkan generasi muda yang tak hanya cerdas, tapi juga peka sejarah dan bangga pada jati dirinya sebagai bangsa Indonesia.
Ditanya soal cita-cita, Zara belum mematok profesi tertentu, tetapi satu hal pasti: dia ingin tetap menjadi pembelajar seumur hidup. “Saya ingin terus belajar, terus menyebarkan semangat membaca, dan mengenalkan Bung Karno ke lebih banyak anak muda,” pungkasnya. (*/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah