Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sekolah Tidak Mendidik, Hanya Menghafal: Saat Lembaga Pendidikan Menjadi Penjara Kreativitas

Ichaa Melinda Putri • Selasa, 15 Juli 2025 | 01:30 WIB

Sekolah Tidak Mendidik, Hanya Menghafal: Saat Lembaga Pendidikan Menjadi Penjara Kreativitas
Sekolah Tidak Mendidik, Hanya Menghafal: Saat Lembaga Pendidikan Menjadi Penjara Kreativitas

BLITAR-Saat kita menyebut kata “sekolah”, yang muncul di benak banyak orang adalah tempat belajar, tempat mendidik, dan tempat mencetak generasi masa depan. Namun, apakah sekolah formal di Indonesia benar-benar mendidik? Ataukah kini justru menjadi ruang yang membatasi kebebasan berpikir dan mengekang kreativitas siswa?

Pertanyaan ini muncul seiring kritik tajam terhadap sistem pendidikan Indonesia yang dinilai masih terjebak dalam pola lama: menghafal, mengerjakan soal, dan mengejar nilai, tanpa memberikan ruang yang cukup bagi anak untuk bertanya, berekspresi, dan berpikir mandiri.

Dalam perbincangan di podcast Suara Berkelas, Guru Gembul—seorang pendidik yang aktif mengkritisi sistem pendidikan nasional—menyampaikan bahwa tidak semua lembaga pendidikan benar-benar menyelenggarakan pendidikan.“Sekolah itu hanya formalitas. Kita menyebutnya lembaga pendidikan, tapi sering kali yang dilakukan justru bukan pendidikan. Banyak sekolah hanya membuat siswa terjebak dalam rutinitas dan hafalan,” ujar Guru Gembul.

Baca Juga: Nasib SD Negeri di Kabupaten Blitar, Dispendik: Hanya 10 Sekolah yang Penuhi Pagu

Sekolah seharusnya menjadi tempat untuk menumbuhkan karakter, mengembangkan potensi, dan membantu siswa menemukan jati dirinya. Namun dalam praktiknya, sekolah formal sering kali gagal menjalankan fungsi-fungsi tersebut.

Banyak siswa menjalani rutinitas sekolah tanpa tahu tujuan dari apa yang mereka pelajari. Setiap hari mereka dipaksa menghafal pelajaran yang dianggap penting, namun setelah ujian selesai, semua informasi itu hilang begitu saja dari ingatan.

“Otak manusia hanya menyimpan informasi yang bermakna. Ketika siswa belajar hal-hal yang tidak relevan atau tidak dijelaskan maknanya, maka otak otomatis menghapusnya,” jelas Guru Gembul.

Baca Juga: Strategi Perempuan Bebas Utang, Ekonomi Syariah UNU Blitar Gelar Seminar Literasi Keuangan

Situasi ini bukan hanya membuat siswa bosan, tapi juga menciptakan trauma belajar. Tak heran jika banyak yang justru merasa senang saat pelajaran kosong atau guru tidak masuk. Bukan karena malas, tapi karena proses belajar yang dijalani selama ini tidak membahagiakan dan tidak membebaskan.

Salah satu kritik paling tajam terhadap pendidikan Indonesia saat ini adalah minimnya ruang untuk kreativitas siswa. Di banyak sekolah, anak-anak yang memiliki minat di luar pelajaran akademik sering kali tidak mendapatkan dukungan. Bahkan, bakat mereka dianggap sebagai gangguan.

Contohnya, ketika seorang siswa yang pandai bermain bola justru dimarahi karena nilai Bahasa Indonesianya rendah. Alih-alih mendukung dan menyeimbangkan keduanya, sistem justru menekan siswa agar sesuai standar seragam yang telah ditentukan.“Pendidikan kita tidak dimulai dari minat dan kebutuhan siswa. Sistem kita memaksa anak untuk belajar hal-hal yang belum tentu relevan bagi masa depannya,” kata Guru Gembul.

Baca Juga: Kampanye Cegah Diabetes, Polkesma Kampus Blitar Gelar Lomba Senam Kaki Diabetik

Hal ini menjelaskan kenapa banyak lulusan sekolah atau kuliah yang akhirnya bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan jurusan atau bakat aslinya. Menurut data, hanya sekitar 7% lulusan universitas yang bekerja sesuai bidangnya, dan ini merupakan kegagalan sistemik yang perlu disoroti.

Merdeka belajar seharusnya tidak hanya menjadi jargon, tetapi diwujudkan dalam kebijakan nyata. Itu berarti kurikulum yang lebih fleksibel, guru yang adaptif, serta sistem evaluasi yang tidak semata berdasarkan hafalan.

Guru Gembul menyampaikan bahwa pendidikan ideal adalah pendidikan yang relevan, kontekstual, dan bermakna.“Kita tidak butuh pelajaran tentang sistem peredaran darah katak kalau tidak dijelaskan apa relevansinya dalam hidup. Yang kita butuh justru pelajaran hidup: bagaimana menghindari obesitas, bagaimana menjaga kesehatan mental, bagaimana berkontribusi di masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga: Strategi Perempuan Bebas Utang, Ekonomi Syariah UNU Blitar Gelar Seminar Literasi Keuangan

Sudah saatnya kita bertanya ulang: pendidikan itu sebenarnya untuk siapa? Jika jawabannya adalah untuk siswa, mengapa mereka tidak diberi ruang untuk memilih apa yang ingin mereka pelajari? Jika jawabannya untuk negara, mengapa siswa yang harus membayar mahal demi ijazah?

Pendidikan tidak boleh menjadi sistem yang menghapus mimpi anak-anak. Sekolah formal harus menjadi tempat yang membebaskan, bukan mengekang. Tempat yang mengasah kreativitas, bukan menaklukkan logika. Tempat yang mendorong siswa mengenali dirinya sendiri, bukan hanya mencetak angka rapor.

Transformasi pendidikan Indonesia tidak bisa ditunda. Kita perlu:

Baca Juga: Hari Pertama Sekolah, Bus Pelajar Kabupaten Blitar Akhirnya Kembali Beroperasi

Tanpa itu semua, sekolah akan terus menjadi lembaga yang gagal mendidik. Dan kita akan terus kehilangan generasi muda yang sebenarnya luar biasa, tapi dipaksa untuk menjadi seragam dan patuh.“Sekolah seharusnya tidak menjadikan anak-anak kita hafal, tapi menjadikan mereka berpikir,” tutup Guru Gembul dengan tegas.

Editor : Anggi Septian A.P.
#menjadi #Hanya #tidak #Kreatifitas #penjara #pendidikan #Saat #mendidik #Menghafal #lembaga #sekolah