Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pendidikan Indonesia dan Kehilangan Jati Diri Kolektif: Saat Sekolah Tak Tahu Arah

Ichaa Melinda Putri • Selasa, 15 Juli 2025 | 00:30 WIB
Pendidikan Indonesia dan Kehilangan Jati Diri Kolektif: Saat Sekolah Tak Tahu Arah
Pendidikan Indonesia dan Kehilangan Jati Diri Kolektif: Saat Sekolah Tak Tahu Arah

BLITAR- Di balik semangat reformasi kurikulum dan program Merdeka Belajar, ada satu pertanyaan mendasar yang hingga kini tak pernah benar-benar dijawab: "Pendidikan Indonesia ini sebenarnya untuk siapa?"

Pertanyaan itu dilontarkan Guru Gembul dalam podcast Suara Berkelas yang membahas tuntas tentang krisis arah pendidikan nasional. Menurutnya, pendidikan di Indonesia seperti kehilangan jiwa dan falsafah dasarnya. Alih-alih menciptakan manusia Indonesia yang berdaya dan bermartabat, sistem pendidikan justru sering kali hanya mencetak lulusan yang kebingungan.

Pendidikan untuk Siapa?

Apakah pendidikan di Indonesia dibuat untuk siswa? Jika iya, mengapa kurikulumnya ditentukan sepenuhnya oleh negara?

Apakah pendidikan dibuat untuk negara? Jika benar, kenapa siswa dan orang tua yang harus membayar sekolah?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tapi menunjukkan kekacauan filosofis yang nyata. Kita tidak benar-benar tahu siapa yang menjadi subjek dan siapa yang menjadi objek dalam sistem pendidikan kita.“Amerika jelas. Pendidikan di sana bertujuan menghasilkan orang yang mandiri dan bisa kaya. Eropa menekankan partisipasi sosial. Jepang melihat siswa sebagai aset bangsa. Tapi Indonesia? Tidak jelas. Pendidikan kita tidak punya arah,” tegas Guru Gembul.

Baca Juga: Dispendik Kota Blitar Terus Kawal Progam Sekolah Gratis, Tekankan Sesuai Aturan Pemerintah Pusat

 Sekolah Formal, Jurusan, dan 80% yang Salah Jalan

Salah satu bukti nyata hilangnya arah pendidikan kita adalah statistik tentang ketidaksesuaian antara jurusan kuliah dan pekerjaan. Data menyebutkan 80% lulusan universitas tidak bekerja sesuai jurusannya, dan hanya 7% yang benar-benar menjalani karier berdasarkan minat dan kemampuan.“Anak SMA bingung milih jurusan karena dari SD sampai SMA hanya disuruh ikut alur. Tanpa tahu siapa dirinya, apa potensinya. Akhirnya banyak yang kuliah asal ikut saran orang tua atau ikut teman,” kata Guru Gembul.

Setelah kuliah, kebingungan itu berlanjut: mereka lulus tanpa arah, bekerja tidak sesuai jurusan, dan sebagian menganggur. Pendidikan yang seharusnya menjadi alat pembebasan justru berubah menjadi beban sosial dan psikologis.

Baca Juga: Pesen Kopi x Pesen Mie di Blitar: Surga Baru Pecinta Kopi dengan Konsep Urban Cozy

 Keterputusan Antara Sekolah dan Kehidupan Nyata

Masalah besar lain dari pendidikan Indonesia adalah tidak adanya relevansi antara pelajaran di sekolah dan tantangan hidup nyata. Anak-anak diajarkan sistem peredaran darah katak, tapi tidak diajari cara menghindari obesitas. Mereka belajar trigonometri, tapi tidak tahu cara mengatur keuangan pribadi.“Pendidikan kita tidak memberikan makna. Makanya otak siswa menghapus pelajaran itu. Karena bagi otak, sesuatu yang tidak punya makna tidak layak diingat,” jelas Guru Gembul.

Hal ini menjelaskan mengapa banyak siswa cepat lupa pelajaran dan merasa sekolah hanya sekadar rutinitas. Tidak ada keterhubungan emosional dan intelektual antara apa yang dipelajari dengan kenyataan hidup yang mereka alami.

Baca Juga: Dispendik Kota Blitar Terus Kawal Progam Sekolah Gratis, Tekankan Sesuai Aturan Pemerintah Pusat

Pendidikan yang Tidak Adaptif Terhadap Disrupsi

Di tengah dunia yang terus berubah, sistem pendidikan kita masih tertinggal jauh dalam menghadapi era digital dan disrupsi teknologi. Padahal prediksi menyebutkan, dalam 7–10 tahun ke depan, 90% pekerjaan akan berhubungan dengan dunia digital.

Namun di sekolah, siswa yang belajar dari Google atau YouTube justru ditegur. Alih-alih adaptif, sekolah kerap bersikap resisten terhadap perubahan.“Sistem pendidikan kita sibuk gonta-ganti kurikulum, tapi tidak menyentuh masalah utama: bagaimana menyesuaikan diri dengan digitalisasi, AI, dan perubahan dunia kerja,” tegas Guru Gembul.

Baca Juga: Jangan Timbulkan Rasa Takut pada Siswa Baru, Atensi Komisi I DPRD, MPLS Harus Menyenangkan

Bahkan, profesi seperti editor video, yang dulunya menjanjikan, kini mulai tergantikan oleh kecerdasan buatan. Tapi sekolah masih mengajarkan teori yang tidak terpakai di lapangan kerja.

Masalah Mentalitas: Sekolah Membunuh Inisiatif

Lebih parah lagi, sistem pendidikan yang membatasi kreativitas ini juga merusak mentalitas generasi muda. Ketika lulus sekolah, banyak siswa yang kehilangan daya inisiatif. Mereka hanya bisa menunggu perintah, tidak tahu harus berbuat apa saat menghadapi kebebasan.

Baca Juga: Kampanye Cegah Diabetes, Polkesma Kampus Blitar Gelar Lomba Senam Kaki Diabetik

Contohnya terlihat saat jam kosong. Alih-alih marah karena gurunya tidak masuk, siswa malah senang. Ini bukan karena mereka malas belajar, tetapi karena sudah terlalu lelah dengan sistem yang menekan dan membosankan.

 Saatnya Mengembalikan Arah Pendidikan

Melihat fakta-fakta di atas, sudah saatnya pendidikan Indonesia kembali mencari arah dan jati dirinya. Kita butuh falsafah dasar yang menjawab:

Guru Gembul mengusulkan agar pendidikan dimulai dari kebutuhan dan potensi siswa. Bukan dari keinginan negara atau kepentingan birokrasi.

 Pendidikan Bukan Sekadar Kurikulum

Kurikulum memang penting. Tapi yang lebih penting adalah paradigma pendidikan itu sendiri. Tanpa arah, sistem pendidikan hanya akan menjadi pabrik penghasil ijazah tanpa makna.“Selama kita tidak bisa menjawab ‘pendidikan ini buat siapa’, kita akan terus tersesat dalam kebijakan yang berubah-ubah, tapi tak menyelesaikan apa-apa,” tutup Guru Gembul.

Editor : Anggi Septian A.P.
#kehilangan #arah #indonesia #pendidikan #Saat #Tak Tahu #sekolah #kolektif #Jati diri #dan