BLITAR-Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, Sekolah Rakyat hadir dengan pendekatan yang tak biasa: membangun pendidikan dari akar budaya lokal. Gagasan ini menjadi napas utama dalam desain Sekolah Rakyat yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sebagai solusi pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.
Berbeda dengan pendekatan pendidikan nasional yang cenderung seragam, Sekolah Rakyat dirancang untuk mengakomodasi keragaman budaya dan kearifan lokal dari tiap-tiap daerah. Tujuannya jelas: membentuk siswa yang berkarakter kuat, membumi, dan punya identitas kultural yang kokoh.
Sekolah Rakyat dan Pentingnya Pendidikan Kontekstual
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak tercerabut dari realitas sosial dan budaya masyarakatnya.
Hal inilah yang menjadi landasan pengembangan kurikulum Sekolah Rakyat. Setiap sekolah diberi keleluasaan untuk mengintegrasikan local wisdom ke dalam pendekatan belajar-mengajar, baik dalam materi, metode, maupun aktivitas harian siswa.
“Anak-anak di Papua tidak harus belajar dengan pendekatan yang sama seperti anak-anak di Jawa. Budaya mereka berbeda, pola pikir mereka dibentuk oleh lingkungan yang berbeda pula,” ujar Direktur Kurikulum Sekolah Rakyat Nasional.
Baca Juga: Kunci Efektif Public Speaking, Teknik Bicara yang Mempengaruhi Minat Audiens!
Pendidikan kontekstual bukan hanya soal adaptasi bahasa dan kebiasaan, tapi juga mencakup pemahaman mendalam tentang nilai-nilai lokal, struktur sosial, dan bentuk-bentuk seni tradisional yang melekat di komunitas.
Seni dan Adat Sebagai Media Pembelajaran
Salah satu pendekatan menarik dalam Sekolah Rakyat adalah penggunaan seni, adat, dan tradisi sebagai instrumen pembelajaran.
Di wilayah Bali misalnya, siswa diajak belajar matematika melalui pola-pola anyaman tradisional. Di Nusa Tenggara Timur, pelajaran kewarganegaraan dikaitkan dengan nilai gotong royong dalam tradisi “sauk” dan “sambut”.
Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami pelajaran, tapi juga melihat relevansi pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan menjadikannya bagian dari jati diri.
Baca Juga: Kisah Dewi Kilisuci di Gua Selomangleng, Mitos atau Fakta Sejarah?
“Pelajaran yang dekat dengan budaya membuat anak-anak lebih mudah memahami, lebih bangga pada identitasnya, dan lebih siap membela nilai-nilai luhur bangsanya,” ujar salah satu guru Sekolah Rakyat di Flores.
Tak hanya itu, pendekatan berbasis budaya ini juga menghormati keberagaman, serta mendorong toleransi antarbudaya yang selama ini menjadi tantangan besar dalam pendidikan formal nasional yang cenderung homogen.
Menguatkan Karakter Lewat Kearifan Lokal
Sekolah Rakyat juga menempatkan pembangunan karakter sebagai bagian sentral dari misinya. Namun, bukan sekadar menanamkan nilai disiplin dan kerja keras secara universal, pendidikan karakter di sini dibentuk melalui konteks budaya masing-masing daerah.
Di Minangkabau, misalnya, nilai “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” menjadi dasar pembentukan karakter religius dan sopan santun. Di daerah Bugis, nilai keberanian dan kehormatan (siri' na pacce) diperkenalkan sebagai bentuk integritas moral.
“Dengan pendekatan ini, karakter anak tidak terasa seperti ‘dipaksakan’, tapi tumbuh alami karena sesuai dengan nilai-nilai yang sudah hidup di lingkungan mereka,” kata salah satu fasilitator pelatihan guru Sekolah Rakyat.
Baca Juga: Kutukan Tengah Malam: Derita Kadita dan Keputusan Terberat Sang Raja
Sekolah Rakyat Bukan Sekadar Pendidikan Formal
Dengan pendekatan berbasis budaya lokal, Sekolah Rakyat tak hanya mencetak lulusan yang pintar, tetapi juga yang tahu siapa dirinya.
Mereka tidak sekadar cakap secara akademik, tetapi juga memiliki akar budaya yang kuat, yang menjadi benteng dalam menghadapi tantangan zaman.
Hal ini menjadi sangat penting di era digital dan disrupsi teknologi. Ketika nilai-nilai global mengalir deras melalui media dan internet, identitas lokal yang kokoh menjadi fondasi penting agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya.
Baca Juga: Wisata Edukasi Sejarah di Blitar, Menelusuri Jejak Kerajaan Majapahit Candi Penataran
“Anak-anak harus bisa belajar coding, tapi juga harus tahu bagaimana cara menghormati tetua adat. Mereka harus bisa bicara bahasa Inggris, tapi tetap bangga menari tor-tor atau membatik,” jelas Direktur Pendidikan Budaya Sekolah Rakyat.
Menuju Pendidikan yang Berkeadilan dan Bermakna
Dalam visi besar Sekolah Rakyat, pendidikan tidak boleh menjadi ruang kosong yang kering makna. Ia harus hidup dalam denyut nadi masyarakat, mengakar pada realitas lokal, dan mengangkat harkat budaya bangsa.
Itulah sebabnya pendekatan berbasis budaya lokal bukan hanya pelengkap, tapi menjadi pilar utama pendidikan di Sekolah Rakyat.
Ini adalah bentuk keadilan kultural—di mana semua anak, dari Aceh sampai Papua, bisa belajar dengan cara yang paling cocok untuk mereka.
Baca Juga: Kutukan Tengah Malam: Derita Kadita dan Keputusan Terberat Sang Raja
Lebih jauh, pendekatan ini juga menjawab kritik lama terhadap sistem pendidikan nasional yang kerap mengabaikan keragaman. Sekolah Rakyat ingin membuktikan bahwa persatuan bangsa justru bisa diraih lewat pengakuan dan perayaan atas perbedaan.
Kesimpulan: Pendidikan yang Mengakar, Tak Mudah Terhempas
Di era globalisasi, bangsa yang kuat bukanlah yang meniru semua yang asing, melainkan yang bisa memadukan kemajuan dengan warisan budayanya sendiri. Sekolah Rakyat menjadi simbol dari upaya besar untuk menciptakan pendidikan seperti itu—yang maju, inklusif, tapi tetap membumi.
Melalui integrasi nilai lokal, Sekolah Rakyat membentuk generasi baru Indonesia: cerdas, adaptif, dan bangga akan akar budayanya. Sebab pendidikan yang mengakar tidak mudah terhempas, bahkan oleh badai globalisasi sekalipun.
Editor : Anggi Septian A.P.