Dari Guru Berkostum Kumbang sampai Layang-Layang: Kreativitas Tak Berbatas di MPLS 2025 Blitar
Dimas Galih Nur Hendra Saputra• Selasa, 15 Juli 2025 | 23:00 WIB
MPLS 2025 Guru Mulai Berkreativ
Blitar — Suasana halaman SDN Nglegok 03 pagi itu berbeda. Seorang guru berjalan santai mengenakan kostum kumbang besar, lengkap dengan antena dan sayap mengilat.
Anak-anak tertawa, berlari kecil menyambut sosok ‘unik’ itu, tanpa rasa canggung atau takut. Di tangan mereka, bukan buku pelajaran, melainkan mainan favorit dari rumah: boneka, mobil-mobilan, hingga layang-layang mini.
Itulah potret segar dari pelaksanaan MPLS 2025 di Blitar, sebuah program pengenalan sekolah yang kini tidak lagi kaku dan membosankan. Justru sebaliknya: penuh warna, kreatif, dan sangat membumi.
MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) tahun ini tampil dengan wajah baru melalui filosofi RAMA: ramah, edukatif, efektif-efisien, inklusif, dan partisipatif.
Namun yang membuatnya lebih hidup adalah sentuhan kreativitas dari para guru dan sekolah. Di balik kesederhanaannya, lahir banyak praktik baik yang low budget tapi high impact—dan pastinya berkesan bagi siswa baru.
Guru Pakai Kostum: Bukan Gimmick, Tapi Simbol Welcoming
Di berbagai sekolah dasar di Blitar, guru-guru mulai berani tampil beda. Tidak hanya menyambut dengan senyum, tetapi juga dengan kostum tematik yang disesuaikan dengan karakter anak-anak.
Seperti yang dilakukan Pak Aji, guru kelas 1 di SDN Kademangan 02. Ia sengaja mengenakan kostum tokoh film favorit anak-anak, lengkap dengan suara unik dan gaya jalan lucu.
"Saya ingin anak-anak masuk sekolah dengan rasa senang, bukan takut. Dengan kostum ini, mereka melihat saya bukan sebagai 'penguji', tapi sebagai teman," kata Pak Aji sambil tertawa.
Kostum-kostum ini bukan hasil sewa mahal. Banyak guru membuatnya sendiri dari kardus, kain perca, hingga plastik daur ulang. Pesannya jelas: MPLS tak harus mahal, yang penting bermakna.
Aktivitas Kreatif: Dari Bercerita Pakai Boneka Sampai Parade Mainan
Beberapa sekolah bahkan meminta siswa baru membawa satu benda favorit dari rumah sebagai bagian dari perkenalan diri.
Di SDN Wonodadi 01, kegiatan ini disebut “Panggung Cerita Kita”. Anak-anak diminta menceritakan asal-usul mainannya, kenapa mereka menyukainya, dan kepada siapa mereka pernah meminjamkannya.
Hasilnya? Sebuah sesi yang mengasah empati, keberanian berbicara, dan saling mengenal tanpa paksaan.
"Saya bawa boneka kelinci. Ini dari ayah waktu ulang tahun. Kalau kangen ayah, aku peluk ini," kata Rahma, siswa baru yang langsung membuat satu kelas terdiam.
Di tempat lain, seperti SDN Srengat 04, ada kegiatan membuat layang-layang bertema “Mimpiku di Sekolah”. Anak-anak diberi waktu menghias layang-layang kecil dengan gambar cita-cita mereka. Ada yang menggambar guru, tukang es krim, pilot, hingga youtuber.
Tak hanya seru, kegiatan ini memberi ruang bagi siswa untuk berekspresi dan membangun ikatan emosional dengan sekolah.
Keberhasilan MPLS 2025 di Blitar juga terletak pada fleksibilitas sekolah dalam merancang kegiatan. Tidak ada skenario tunggal. Sekolah diberi keleluasaan penuh untuk menyesuaikan kegiatan dengan karakter peserta didik dan sumber daya yang tersedia.
Kepala SMPN 1 Ponggok, Ibu Retno Wulandari, menyampaikan bahwa fleksibilitas ini membuat guru bisa lebih inovatif.
"Kami tidak terjebak pada agenda 'jam 7 materi ini, jam 8 materi itu'. Kalau anak-anak masih nyaman di satu kegiatan, kami lanjutkan. Yang penting esensinya dapet," ujarnya.
Meskipun begitu, tetap ada rambu-rambu etika: tidak ada kekerasan, perpeloncoan, atau kegiatan yang membuat siswa merasa tidak aman. Semuanya dikawal oleh tim guru dan komite sekolah.
Kegiatan Murah, Dampak Mewah
Mungkin yang paling inspiratif dari pelaksanaan MPLS 2025 di Blitar adalah fakta bahwa banyak kegiatan dilakukan dengan biaya minim, namun berdampak maksimal.
Di MI Nurul Huda Garum, kegiatan pengenalan sekolah hanya menggunakan alat-alat sederhana: kertas bekas, botol air mineral, dan papan tulis.
Namun dengan kreativitas tinggi, semua itu disulap menjadi “Tantangan Jelajah Sekolah”—permainan tim yang seru sekaligus mengajarkan lokasi fasilitas sekolah.
"Kami tak punya anggaran besar, tapi punya ide. Itu sudah cukup," ujar Pak Karim, guru olahraga yang menjadi inisiator kegiatan.
Hal ini sekaligus membuktikan bahwa MPLS tak harus boros atau mewah, yang penting berorientasi pada siswa. Dan lebih dari itu, melibatkan hati dalam setiap penyambutan.
Menjadi Inspirasi Sekolah Lain
Kreativitas di Blitar kini menjadi inspirasi bagi banyak sekolah lain di Jawa Timur. BPPMP Jatim mencatat bahwa berbagai praktik baik ini sudah mulai terdokumentasi dan dibagikan dalam platform daring antar guru.
Beberapa guru bahkan membuat vlog atau siaran langsung selama MPLS agar orang tua bisa melihat sendiri bagaimana suasana hari pertama anak-anak mereka.
"Kami ingin membuat orang tua bangga dan merasa yakin bahwa anak mereka berada di tangan yang tepat," kata Ibu Yanti, guru SDN Sananwetan 01.
Kesimpulan: MPLS sebagai Festival Cinta Pertama
MPLS 2025 di Blitar bukan lagi sekadar formalitas masuk sekolah. Ia telah menjelma menjadi semacam festival cinta pertama dengan dunia pendidikan.
Setiap senyum, kostum, mainan, hingga layang-layang menjadi bukti bahwa penyambutan anak-anak Indonesia bisa dilakukan dengan hati, imajinasi, dan kreativitas.
Dan pada akhirnya, sekolah bukan hanya tempat belajar, tapi tempat tumbuh dan dikenang dengan gembira.