Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Renungan Senin: Meski Tanpa Tanda, Tetap Setia dan Percaya pada Tuhan

Anggi Septian A.P. • Selasa, 22 Juli 2025 | 00:27 WIB
Photo
Photo

BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM – Dalam kehidupan beriman, banyak orang berharap pada tanda-tanda dari Tuhan sebagai bukti kehadiran dan kuasa-Nya.

Namun, dalam bacaan Injil hari ini, Senin, 21 Juli 2025 (Mat 12:38-42), Yesus menegur orang-orang yang hanya mau percaya jika ada tanda mujizat. “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda,” sabda Yesus, “tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.”

Renungan ini menjadi refleksi mendalam bagi umat Kristiani untuk tetap setia, sekalipun tidak menerima tanda nyata dari Tuhan.

Percaya Meski Tidak Ada Tanda

Banyak dari kita yang bersikap seperti orang Farisi dan ahli Taurat pada zaman Yesus. Mereka tidak puas dengan ajaran dan kehadiran-Nya sebagai Mesias.

Mereka menuntut tanda sebagai jaminan iman. Padahal, iman sejati bukanlah soal bukti, melainkan kepercayaan yang kokoh meski tidak melihat.

“Apakah kita baru percaya kepada Tuhan bila doa kita dikabulkan, atau saat mengalami mujizat? Lalu bagaimana saat doa kita belum terkabul atau saat kita menghadapi badai dalam hidup?” demikian cuplikan refleksi dalam renungan harian umat Katolik hari ini.

Setia dalam Suka dan Duka

Injil hari ini mengajak umat untuk menjalani hidup dalam kesetiaan penuh, baik saat mengalami suka maupun duka, berkelimpahan maupun berkekurangan.

Iman yang dewasa adalah iman yang tidak tergantung pada situasi, melainkan bersumber dari kasih dan pengharapan kepada Tuhan yang hidup.

“Tuhan tidak selalu menunjukkan tanda-tanda luar biasa. Tetapi Ia hadir dalam keheningan, dalam kesetiaan harian, dalam kekuatan untuk bertahan, dan dalam damai yang tak selalu kasat mata,” tulis refleksi tersebut.

Tanda Nabi Yunus: Simbol Pertobatan dan Keselamatan

Yesus menegaskan bahwa satu-satunya tanda yang akan diberikan adalah tanda nabi Yunus. Dalam tradisi Kristiani, Yunus adalah lambang penderitaan, pertobatan, dan penyelamatan.

Tiga hari Yunus di perut ikan besar menjadi simbol tiga hari Yesus dalam kubur sebelum bangkit.

Itulah tanda keselamatan yang sesungguhnya: pengorbanan Kristus demi keselamatan dunia. Ini menjadi pengingat bahwa keselamatan bukanlah soal mujizat luar biasa, tetapi tentang pengampunan dosa dan kasih setia Allah yang terus-menerus.

 

Doa dan Refleksi Harian

Dalam doa penutupnya, renungan hari ini mengajak umat untuk memohon kekuatan agar tetap setia, meski tanpa tanda, dan tetap percaya bahwa Tuhan menyertai langkah hidup mereka:

“Tuhan, dalam suka dan duka, dalam terang maupun gelap, ajarilah aku untuk tetap setia kepada-Mu. Jangan biarkan aku menyerah hanya karena aku tidak melihat tanda. Jadikan hatiku percaya penuh, sebagaimana Yunus yang tetap berjalan dalam tugasnya, dan sebagaimana Engkau yang setia memikul salib demi kami semua. Amin.”

Iman yang Bertumbuh dalam Keheningan

Kasus-kasus seperti orang yang meninggalkan Tuhan karena gagal ujian, ditinggal pasangan, kehilangan pekerjaan, atau menghadapi penyakit berat, sering menunjukkan bahwa iman kita terkadang lebih berdasarkan pada harapan akan mujizat, bukan pada pengenalan akan pribadi Tuhan itu sendiri.

Renungan hari ini mengajak kita untuk bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang tetap berjalan dalam iman, meski jalan hidup tidak selalu mulus, meski tanda-tanda kehadiran Tuhan tidak selalu tampak secara spektakuler.

Pesan bagi Generasi Z dan Milenial

Di era digital saat ini, di mana generasi muda terbiasa dengan hasil instan dan budaya bukti visual, renungan ini menjadi sangat relevan.

Tuhan tidak selalu memberi “tanda viral” di hidup kita. Ia bekerja dalam ketekunan, kesetiaan, dan cinta yang sering tak terlihat oleh mata manusia.

Semoga umat Kristiani di Blitar dan seluruh Indonesia senantiasa memiliki iman yang kuat, tidak goyah oleh situasi, dan tidak bergantung pada tanda, melainkan kokoh karena mengenal dan mengasihi Tuhan yang hidup.(*)

Editor : Anggi Septian A.P.
#Renungan Senin #Injil