Blitar – Fenomena judi online tak lagi sekadar masalah moral atau ekonomi. Kini, dunia psikologi menyebut bahwa kecanduan judi online menyerang sistem otak manusia, sama seperti efek candu narkoba atau pornografi.
Penjelasan itu disampaikan oleh Bu Yeni Rafiqah, seorang psikolog klinis dari RSUD Mutiara Yowlingi Blitar, dalam podcast yang ditayangkan di channel YouTube Radar Blitar TV.
Dalam percakapan santai namun penuh makna itu, ia mengupas tuntas alasan judi online begitu sulit dihentikan meski pelaku sadar bahwa aktivitas itu merugikan.
Baca Juga: Solidaritas Publik Harus Disalurkan Legal: Gus Ipul Ingatkan Maraknya Donasi Tanpa Izin
"Setiap kali seseorang menang judi, atau merasa senang karena hampir menang, otak akan dibanjiri dopamin. Itu yang bikin mereka nagih," jelas Bu Yeni. Dopamin adalah senyawa kimia di otak yang bertanggung jawab atas rasa senang dan puas. Sama seperti orang yang ketagihan narkoba atau pornografi, sistem otak akan terus mengejar sensasi tersebut meski tahu itu salah.
Efek Domino: Dari Senang ke Kecanduan
Dalam tubuh manusia, dopamin sebenarnya berfungsi baik. Ia memberi sinyal bahwa seseorang sedang bahagia atau puas. Namun, jika dirangsang berlebihan—seperti lewat judi online—maka otak akan menciptakan siklus kecanduan.
“Begitu senang itu dirasakan, maka akan ada keinginan untuk mengulangi, dan mengulangi terus. Lama-lama otak kehilangan kontrol untuk membedakan mana keputusan baik atau buruk,” ungkap Bu Yeni.
Baca Juga: Momen Hari Bakti Adhyaksa, DPRD Kota Blitar Dukung Penegakan Hukum Adil dan Edukasi Masyarakat
Inilah sebabnya, lanjutnya, banyak pelaku judi online tidak bisa berhenti meskipun sudah tahu dampak finansial dan sosialnya. Bahkan, ada yang sampai menjual barang keluarga, menguras tabungan, atau berutang ke pinjol.
“Ketika diingatkan, mereka justru marah, bukan merasa bersalah. Itu karena area otak yang mengatur logika dan moral mereka sudah terganggu,” katanya.
Kasus Nyata di Sekitar Kita
Bu Yeni pun membagikan kisah dari lingkungan terdekatnya. Ia punya seorang ponakan yang terjerat judi online hingga kehilangan uang hampir Rp60 juta. "Awalnya dia pakai uang usaha keluarga, tanpa sepengetahuan siapa pun. Ketahuan setelah saldonya habis semua," ujarnya. Saat itu, keluarga langsung membuat kesepakatan untuk membatasi akses sang anak terhadap HP, Wi-Fi, dan m-banking.
Baca Juga: Menurut Raditya Dika Compounding Return Pondasi Penting di Industri Kreatif
Namun begitu, katanya, pengobatan dan pemulihan kecanduan judi online tak bisa hanya lewat larangan. “Kuncinya tetap pada dukungan keluarga dan kesadaran diri dari pelaku. Kalau dia tidak punya tekad kuat untuk berhenti, maka proses penyembuhannya bisa sangat panjang,” jelasnya.
Mirip Narkoba, Tapi Legal di Tangan Netizen
Yang membuat judi online lebih berbahaya, menurut Bu Yeni, adalah kemasannya yang modern, ringan, dan penuh jebakan psikologis. Banyak game atau aplikasi menyisipkan elemen taruhan—mulai dari spinner, coin, hingga sistem level atau membership. "Tanpa sadar, orang merasa cuma main game padahal sudah masuk ke perjudian," katanya.
Karena berbasis digital, bentuk judi ini juga lebih sulit diawasi. Tak perlu lokasi fisik seperti dadu atau sabung ayam. Cukup HP, sinyal, dan rekening. Bahkan, promosi lewat media sosial membuat judi online makin menjangkau anak-anak muda. “Dulu orang harus keluar rumah buat judi. Sekarang cukup klik-klik dari kasur. Itu yang bikin efek candunya lebih cepat menempel,” tambahnya.
Baca Juga: Menurut Raditya Dika Compounding Return Pondasi Penting di Industri Kreatif
Gejala Psikologis dan Bahaya Bunuh Diri
Bu Yeni mengingatkan bahwa pelaku judi online yang sudah dalam tahap berat bisa menunjukkan tanda-tanda depresi. Ia menarik diri, jarang mandi, malas bicara, dan mengalami perubahan emosi. Bahkan, beberapa kasus sampai berujung percobaan bunuh diri karena terlilit utang pinjol akibat judi.
"Ada tetangga saya yang bunuh diri karena kombinasi antara judi online dan pinjaman online. Usianya baru 21 tahun. Itu bukan hal remeh," ungkapnya.
Karena itu, ia mendorong masyarakat, khususnya keluarga, untuk lebih terbuka membicarakan masalah ini. "Kalau anak berubah drastis, sering hilang uang jajan, atau tertutup, bisa jadi dia sedang terjerat. Jangan langsung dimarahi. Ajak ngobrol, bangun kepercayaan, lalu bantu mereka keluar," katanya.
Baca Juga: Bukan Cuma Kolesterol Tinggi, Ini Pemeriksaan Lain yang Bisa Selamatkan Nyawamu
Solusi: Terapi, Dukungan, dan Edukasi Digital
Menurut Bu Yeni, upaya menyembuhkan pecandu judi online bisa melalui pendekatan psikoterapi dan dukungan farmakologis jika diperlukan. Psikiater bisa meresepkan obat untuk membantu mengendalikan emosi atau dorongan perilaku kompulsif.
Namun yang terpenting adalah edukasi sejak dini. Ia menyambut baik program Sekolah Orang Tua Hebat yang mulai digencarkan di desa-desa Blitar. Di sana, para orang tua diberi bekal tentang parenting, literasi digital, dan komunikasi efektif dengan anak.
“Kalau kita ingin menyelamatkan generasi dari judi online, mulailah dari rumah. Orang tua harus tahu cara mengenali perubahan anak, tahu cara mendidik, dan paham bahwa teknologi itu dua sisi,” tutupnya.
Editor : Anggi Septian A.P.