Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Anak Gaul Kena Judi Online: Dari Teman Jadi Candu, dari HP Jadi Neraka

Dimas Galih Nur Hendra Saputra • Rabu, 23 Juli 2025 | 04:30 WIB

Anak Gaul Kena Judi Online: Dari Teman Jadi Candu, dari HP Jadi Neraka
Anak Gaul Kena Judi Online: Dari Teman Jadi Candu, dari HP Jadi Neraka

BLITARJudi online - tak lagi menyasar kalangan dewasa atau pengangguran. Bahkan remaja yang dikenal "gaul", aktif di sekolah, dan berasal dari keluarga baik-baik pun kini bisa terjerat. Itulah yang terjadi pada ponakan salah satu psikolog Blitar, Bu Yeni Rafiqah, yang kisahnya ia ungkapkan di tayangan YouTube Radar Blitar TV.

Dari luar, remaja laki-laki itu terlihat normal. Aktif di kegiatan ekstrakurikuler, ramah, dan akrab dengan banyak teman. Tapi di balik layar HP-nya, ia menyimpan rahasia yang menguras uang, waktu, bahkan kewarasan: kecanduan judi online.

“Awalnya hanya ikut-ikutan teman saat nongkrong, main slot di situs yang katanya cuma buat seru-seruan. Tapi dari yang awalnya Rp 10 ribu, bisa habis ratusan ribu, bahkan nyolong ATM orang tua,” cerita Bu Yeni.

Baca Juga: Wali Kota Blitar Mas Ibin Berharap Korps Adhyaksa Makin Profesional dan Junjung Integritas

HP Jadi Portal Masuk ke Jurang

Kemudahan akses dan minimnya pengawasan membuat smartphone menjadi pintu masuk paling berbahaya. Bu Yeni mengaku sempat kaget ketika mengetahui ponakannya yang masih duduk di bangku SMA sudah bisa mengakses berbagai situs judi online, bahkan tanpa VPN.

“Banyak situs judi sekarang menyamar jadi game online atau situs hiburan biasa. Dan anak-anak itu cerdas, mereka tahu cara ngakalinnya. Bahkan ada yang ngajari temannya cara top up pakai e-wallet dan beli akun ‘siap pakai’,” ungkapnya.

Ironisnya, banyak orang tua yang justru bangga karena anaknya dianggap jago teknologi, tanpa tahu bahwa teknologi itu sedang menghancurkan masa depan si anak secara perlahan.

Baca Juga: Jangan Andalkan Bansos Seumur Hidup: Gus Ipul Tegaskan Target 5 Tahun Graduasi Penerima

Lingkungan yang Melegitimasi Perjudian

Salah satu faktor yang mempercepat kecanduan adalah lingkungan sosial yang permisif. Dalam kasus ponakan Bu Yeni, teman-temannya tidak melihat judi online sebagai sesuatu yang salah. Bahkan beberapa dari mereka pernah menang, lalu traktir teman-temannya makan atau beli rokok.

“Jadi kalau dilihat dari luar, dia justru seperti anak yang ‘berbagi’. Tapi dari situlah candunya tumbuh. Ketika menang, dia euforia. Ketika kalah, dia ngutang. Lama-lama, stres dan emosinya tidak stabil,” ujar Bu Yeni.

Ia menyebutkan bahwa remaja usia 15–18 tahun adalah kelompok paling rentan. Secara psikologis, mereka masih mencari identitas, dan sangat dipengaruhi oleh kelompok sebaya.

Dampak Emosional: Dari Ceria Jadi Pemurung

Tak hanya berdampak finansial, judi online juga merusak keseimbangan emosi remaja. Ponakan Bu Yeni yang dulu dikenal ceria, mulai berubah menjadi pemurung. Sering mengurung diri di kamar, malas makan, bahkan sempat bolos sekolah dengan alasan sakit.

Baca Juga: Solidaritas Publik Harus Disalurkan Legal: Gus Ipul Ingatkan Maraknya Donasi Tanpa Izin

“Kami sekeluarga awalnya kira dia depresi karena putus cinta. Tapi setelah dicek HP-nya, ternyata riwayat transaksinya penuh dengan top-up game slot dan transfer ke akun asing. Itu titik balik bagi kami,” katanya.

Butuh waktu berbulan-bulan bagi keluarga untuk mengajak si anak bicara, apalagi ia sudah merasa bersalah dan malu. Bahkan di awal, ia menyangkal dan menganggap ini bukan masalah besar.

Peran Keluarga: Jangan Cuek, Tapi Juga Jangan Kasar

Bu Yeni menekankan pentingnya peran keluarga dalam mengatasi masalah ini. Orang tua, menurutnya, tidak boleh hanya melarang atau memarahi, tapi juga harus menjadi tempat aman bagi anak untuk mengaku dan mencari bantuan.

Baca Juga: Momen Hari Bakti Adhyaksa, DPRD Kota Blitar Dukung Penegakan Hukum Adil dan Edukasi Masyarakat

“Kalau langsung dimarahin atau dibanding-bandingkan, anak justru akan semakin menarik diri. Yang paling penting itu: bangun komunikasi terbuka, bukan interogasi,” pesannya.

Ia juga menyarankan agar orang tua melek teknologi dan tidak hanya mengandalkan filter atau aplikasi kontrol. Edukasi dan pendekatan emosional jauh lebih efektif dalam jangka panjang.

Waspada, Anak Aktif pun Bisa Terjerat

Kasus ponakan Bu Yeni jadi pengingat keras bahwa korban judi online bukan hanya mereka yang “bandel” atau bermasalah. Anak baik-baik, yang aktif dan kelihatan cerah masa depannya, pun bisa terjerumus hanya karena satu celah: pergaulan dan akses yang tak terkendali.

“Apa yang tampak di luar sering menipu. Jangan sampai kita terlambat menyadari bahwa anak-anak kita sedang butuh pertolongan,” pungkas Bu Yeni.

Baca Juga: Bukan Cuma Kolesterol Tinggi, Ini Pemeriksaan Lain yang Bisa Selamatkan Nyawamu

Kasus ini menjadi cermin bagi banyak keluarga masa kini, bahwa melindungi anak dari bahaya digital butuh lebih dari sekadar aturan. Butuh keterlibatan hati, komunikasi sehat, dan kepekaan yang konsisten.

Editor : Anggi Septian A.P.
#judi online