Sekolah Orang Tua Hebat: Harapan Baru Cegah Anak Kecanduan Judi Online
Dimas Galih Nur Hendra Saputra• Rabu, 23 Juli 2025 | 04:00 WIB
Sekolah Orang Tua Hebat: Harapan Baru Cegah Anak Kecanduan Judi Online
Blitar – Di tengah maraknya kasus anak muda yang terjerat judi online, sebuah harapan baru tumbuh dari desa-desa di Kabupaten Blitar. Lewat program Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) yang digagas oleh pemerintah desa bersama pendamping sosial, para orang tua mulai diedukasi untuk menjadi garda terdepan dalam mencegah kecanduan digital pada anak-anak mereka.
Fenomena judi online kini tidak hanya merambah kota besar. Anak-anak dan remaja di wilayah pedesaan pun tak luput dari dampaknya, terlebih karena akses teknologi yang kian terbuka. Dalam tayangan YouTube Radar Blitar TV, psikolog RSUD Mutiara Yowlingi, Bu Yeni Rafiqah, mengungkap bahwa banyak kasus pecandu judi online bermula dari rumah yang kurang tanggap terhadap perubahan zaman.
“Kalau dulu orang tua cukup bilang ‘jangan main judi’, sekarang sudah nggak cukup. Harus paham cara kerja internet, kenali aplikasinya, dan tahu pendekatan emosional ke anak,” kata Bu Yeni dalam diskusinya.
Program Sekolah Orang Tua Hebat hadir sebagai bentuk edukasi preventif yang lebih mendalam. Di dalamnya, orang tua tidak hanya diberi teori parenting, tetapi juga diajak berdiskusi soal dinamika teknologi, pergaulan digital, hingga strategi membangun kedekatan yang sehat dengan anak.
Menurut Bu Yeni, pencegahan judi online tidak bisa hanya mengandalkan sekolah atau aparat hukum. Justru, rumah adalah benteng pertama yang paling efektif—jika para orang tua punya pengetahuan dan keterampilan yang tepat.
“Kita ubah pendekatannya. Jangan tunggu anak kecanduan dulu baru panik. Lebih baik bekali orang tuanya sejak awal agar bisa mendeteksi dini, membangun komunikasi, dan tahu apa yang harus dilakukan,” jelasnya.
Program ini menyasar desa-desa di wilayah Blitar, dengan metode pertemuan rutin, simulasi kasus, dan pendampingan psikologis. Antusiasme warga, terutama para ibu rumah tangga, sangat tinggi karena mereka merasa selama ini tidak punya ruang belajar yang relevan dengan masalah anak zaman sekarang.
Salah satu kekuatan Sekolah Orang Tua Hebat adalah pendekatannya yang tidak menggurui. Para peserta diajak untuk berbagi pengalaman, berdiskusi, dan menemukan solusi bersama. Banyak dari mereka yang awalnya canggung, kini justru aktif bertanya dan menyampaikan kegelisahan mereka sebagai orang tua di era digital.
“Dulu saya cuma bisa marah kalau anak main HP. Tapi sekarang saya tahu harus ngobrol dulu, tanya dia suka main apa, terus pelan-pelan arahkan,” ujar Bu Lastri, seorang peserta dari Kecamatan Wlingi.
Hal ini sejalan dengan yang disampaikan Bu Yeni, bahwa judi online sering kali tumbuh subur karena anak merasa terisolasi, tidak punya tempat curhat, dan merasa ditekan tanpa solusi.
“Orang tua yang hanya pakai cara kekerasan, justru membuat anak semakin tertutup. Mereka cari pelarian, dan judi itu kelihatan seperti jalan keluar, padahal jurang,” katanya.
Meski baru berjalan di beberapa wilayah, Sekolah Orang Tua Hebat sudah menunjukkan dampak positif. Banyak keluarga yang melaporkan hubungan mereka dengan anak menjadi lebih hangat, dan anak-anak mulai terbuka bercerita soal aktivitas mereka di dunia maya.
Bahkan beberapa peserta kini menjadi relawan edukasi parenting di lingkungannya. Mereka menyebarkan materi yang sudah dipelajari, dan membuat kelompok diskusi kecil antartetangga.
“Ini bukan sekadar program, tapi gerakan budaya baru. Budaya mendidik, bukan hanya mengawasi,” tegas Bu Yeni.
Ia juga berharap model ini bisa diadopsi lebih luas oleh sekolah, PKK, hingga pemerintah daerah. Dengan pendekatan yang kolaboratif, upaya mencegah kecanduan judi online bisa lebih kuat dan berkelanjutan.
Kecanduan judi online adalah bom waktu yang bisa menghancurkan generasi jika tak dicegah sejak dini. Namun, cerita dari Blitar membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil di rumah.
Dengan dukungan program seperti Sekolah Orang Tua Hebat, para ibu dan ayah kini punya harapan dan bekal untuk melindungi anak-anak mereka dari godaan dunia digital yang menjerumuskan.
“Saya yakin, kalau orang tuanya kuat, anak-anak kita akan lebih siap menghadapi tantangan zaman,” tutup Bu Yeni penuh harap.