Founder Indonesia Bebas Bully: Dari Korban Fitnah hingga Bangkit Lawan Kekerasan Psikis
Findika Pratama• Rabu, 23 Juli 2025 | 18:30 WIB
Founder Indonesia Bebas Bully: Dari Korban Fitnah hingga Bangkit Lawan Kekerasan Psikis
BLITAR, BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM – Bullying bukan sekadar ejekan masa sekolah yang bisa dilupakan. Bagi Andrea Nesia, trauma bullying berubah menjadi luka batin yang dalam dan hampir merenggut masa depannya. Dituduh tanpa bukti saat duduk di bangku SMA, Andrea tak hanya kehilangan kepercayaan dari teman-teman, tapi juga harus menanggung rasa malu dan tekanan mental yang luar biasa.
“Fitnah itu menghancurkan segalanya,” ujar Andrea saat diwawancarai GIS Channel. Ia mengaku mengalami kekerasan psikis berkepanjangan akibat tuduhan yang tak pernah diluruskannya secara publik. Dalam diamnya, Andrea mengalami self-harm, isolasi sosial, dan kehilangan arah hidup. Namun dari titik terendah itulah, ia menemukan jalan untuk bangkit dan menyuarakan perubahan: melawan bullying dengan membentuk gerakan Indonesia Bebas Bully.
Kisah Andrea menjadi pengingat bahwa bullying tak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga lewat kekerasan psikis yang membekas dalam jangka panjang. Pengalaman pribadi sebagai korban fitnah SMA, membuatnya memahami secara nyata dampak traumatis yang ditimbulkan oleh perundungan—baik secara verbal, sosial, maupun digital.
Andrea bercerita bahwa selama hampir dua tahun, ia hidup dalam bayang-bayang stigma dan tekanan dari lingkungan sekolah. “Aku bukan hanya dikucilkan, tapi dihancurkan secara perlahan. Fitnah itu menyebar cepat. Orang-orang lebih suka percaya rumor daripada kebenaran,” jelasnya dengan suara bergetar.
Selama periode itulah, Andrea sempat mengalami gangguan kecemasan dan depresi. Ia bahkan pernah mencoba menyakiti dirinya sendiri karena merasa tak ada lagi jalan keluar. “Aku berpikir, mungkin lebih baik menghilang saja dari dunia ini,” ungkapnya.
Namun, titik balik terjadi saat ia mengikuti terapi dan mulai membuka diri tentang pengalamannya di media sosial. Dukungan dari netizen yang pernah mengalami hal serupa membuatnya tergerak: ia tak ingin ada remaja lain yang merasakan penderitaan yang sama.
Gerakan Indonesia Bebas Bully bermula dari unggahan Andrea di Instagram yang viral, lalu berlanjut menjadi komunitas kecil yang kini berkembang menjadi organisasi nasional. Fokusnya adalah edukasi, pendampingan, dan advokasi untuk korban bullying—terutama kekerasan psikis yang kerap kali dianggap sepele.
“Sasaran kami bukan cuma siswa, tapi juga guru dan orang tua. Banyak orang dewasa yang belum paham dampak bullying psikis yang dilakukan secara verbal maupun online,” tegas Andrea.
Indonesia Bebas Bully kini aktif memberikan pelatihan ke sekolah-sekolah, membuka layanan konseling gratis secara daring, hingga mendampingi korban untuk membuat laporan resmi jika dibutuhkan. Andrea dan timnya juga mendorong kampanye #SekolahAmanPsikis sebagai bentuk advokasi lingkungan belajar yang sehat dan bebas stigma.
Andrea mengatakan, tidak mudah mengubah luka pribadi menjadi kekuatan sosial. Ia pernah diremehkan, dianggap mencari perhatian, hingga dipandang sebagai anak "baperan". Namun semua itu tidak menyurutkan niatnya untuk menciptakan perubahan.
“Aku percaya, pengalaman traumatis bisa jadi kekuatan kalau kita berani mengolahnya,” ujarnya. Ia pun mendorong generasi muda untuk tidak tinggal diam melihat bullying. “Bukan hanya korban yang harus bicara. Kita semua punya tanggung jawab untuk menciptakan ruang aman.”
Andrea juga kini aktif menjadi pembicara di berbagai forum remaja dan parenting, membagikan kisah penyembuhannya dan mengajak audiens untuk lebih peka terhadap isu kekerasan psikis. Tak jarang, ia mengungkap bahwa proses pulih itu panjang dan berliku, tapi bukan mustahil.
Gerakan Andrea mendapat banyak dukungan, termasuk dari beberapa selebriti dan psikolog kenamaan. Tak sedikit korban bullying yang merasa tertolong dengan kehadiran Indonesia Bebas Bully. Testimoni mereka banyak diunggah di kanal YouTube GIS Channel, yang turut mengangkat perjalanan Andrea secara mendalam.
Pemerintah daerah pun mulai melirik gerakan ini sebagai mitra dalam mengurangi kasus bullying di sekolah. Andrea berharap, lebih banyak lembaga pendidikan dan komunitas bergabung dalam misi yang ia bawa.
“Bullying bukan masalah individu. Ini masalah sistemik yang harus kita lawan bersama,” pungkas Andrea. Ia kini tengah mempersiapkan modul edukatif tentang kekerasan psikis yang akan dirilis secara daring untuk digunakan oleh sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.