Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Launching Akun Indonesia Bebas Bully Langsung Dihujat: Andrea Nesia Pilih Lawan Balik

Findika Pratama • Rabu, 23 Juli 2025 | 19:00 WIB

Launching Akun Indonesia Bebas Bully Langsung Dihujat: Andrea Nesia Pilih Lawan Balik
Launching Akun Indonesia Bebas Bully Langsung Dihujat: Andrea Nesia Pilih Lawan Balik

BLITAR, BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM – Niat baik tak selalu mendapat sambutan hangat. Itulah yang dialami oleh Andrea Nesia, pelajar SMA yang menjadi sorotan usai meluncurkan akun gerakan Indonesia Bebas Bully. Ironisnya, niat Andrea untuk menyuarakan pentingnya mental health pelajar dan melawan budaya bullying justru dibalas dengan perundungan balik oleh netizen.

Pelajar yang pernah menjadi korban fitnah dan kekerasan verbal ini kembali harus menghadapi gelombang cyberbullying setelah dirinya mulai aktif di media sosial membawa pesan anti-kekerasan. Akun Indonesia Bebas Bully yang ia buat di Instagram dan TikTok menuai komentar sinis, bahkan tidak sedikit yang mengejek niatnya sebagai “cari panggung”.

Namun Andrea tak tinggal diam. Dalam unggahan video berdurasi 1 menit di akun pribadinya, ia dengan tegas menyatakan bahwa dirinya tidak gentar. “Kalau saya diam saat dihujat, lalu siapa lagi yang berani bicara soal luka psikis pelajar lain di luar sana?” katanya dengan nada tegas yang mengundang dukungan dari warganet lainnya.

Gerakan yang Malah Diserang

Gerakan Indonesia Bebas Bully awalnya dimaksudkan sebagai wadah berbagi cerita dan pemulihan psikologis bagi korban bullying di sekolah. Namun dalam beberapa hari setelah diluncurkan, kolom komentar akun tersebut dipenuhi oleh cemoohan yang menyangsikan kredibilitas Andrea.

“Ngapain sok jadi pahlawan mental health, trauma lo aja belum sembuh,” tulis salah satu komentar yang kini telah dihapus. Bahkan ada akun yang terang-terangan membuat konten parodi dari video Andrea, menirukan ekspresi dan nada bicaranya.

Meski demikian, banyak pula yang mendukung. “Aku bukan korban bullying, tapi aku tahu kamu sedang memperjuangkan sesuatu yang besar. Jangan berhenti,” tulis seorang pengikut akun tersebut.

Tak Ingin Jadi Korban Dua Kali

Andrea, yang pernah mengalami trauma berat hingga mengalami self-harm saat SMP karena fitnah dan isolasi sosial, menyebut bahwa respons negatif yang ia terima bukan hal baru baginya. Justru hal ini memantik keberaniannya untuk semakin lantang bersuara.

“Dulu aku memilih diam, dan itu menyakitkan. Sekarang aku memilih melawan, bukan dengan kebencian, tapi dengan narasi penyembuhan,” ujarnya dalam siaran langsung bersama akun GIS Channel.

Ia juga mengajak pelajar lain untuk tidak takut berbagi cerita dan mencari bantuan ketika mengalami tekanan psikologis. “Jangan pikir kita lemah karena menangis. Kita kuat karena masih memilih hidup dan berharap,” katanya.

Tantangan Aktivis Muda di Era Digital

Kasus yang menimpa Andrea menunjukkan betapa peliknya menjadi aktivis muda di era digital. Di satu sisi, media sosial memberi ruang untuk berbicara. Di sisi lain, ruang yang sama bisa menjadi senjata balik berupa cyberbullying.

Psikolog remaja yang turut diundang dalam diskusi oleh GIS Channel menyebut bahwa tekanan publik pada remaja yang mencoba “berbeda” kerap datang dari ketidaksiapan sosial menerima perubahan. “Gerakan Andrea adalah bentuk ketidakterimaan terhadap budaya diam dan membiarkan,” jelasnya.

Pihak sekolah Andrea pun disebut sudah mengetahui aktivitasnya di luar kelas. Namun hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak sekolah terkait dukungan atau sikap atas langkah yang diambil muridnya tersebut.

Netizen Terbelah, Tapi Andrea Tak Gentar

Respons netizen memang terbagi. Sebagian menganggap langkah Andrea terlalu terbuka dan sensitif. Namun sebagian lain justru mengapresiasi keberaniannya dalam menantang norma lama yang cenderung mengabaikan kekerasan psikis.

“Saya bangga ada anak muda seperti dia. Kalau bukan generasi kita yang melawan bullying, siapa lagi?” tulis seorang pengguna Twitter yang viral usai membela Andrea dengan tagar #BeraniBersuara.

Andrea menyatakan akan terus menjalankan kampanye Indonesia Bebas Bully dan mulai membuka kolaborasi dengan konselor sekolah, komunitas pelajar, dan bahkan siap membuat forum diskusi daring antar pelajar dari berbagai kota.

Harapan Baru dari Suara yang Dulu Dibungkam

Dari seorang korban bullying yang sempat ingin mengakhiri hidup, Andrea Nesia kini menjelma menjadi suara bagi banyak pelajar yang merasa tak berdaya. Meski harus melalui jalan penuh ejekan dan skeptisisme, keberaniannya membuka diskusi tentang mental health pelajar patut diapresiasi.

“Ini bukan soal saya. Ini tentang kita semua. Tentang teman-teman yang memilih diam karena takut disalahkan. Kita perlu ruang aman untuk bicara. Indonesia harus bebas dari bullying, mulai dari sekolah,” tegas Andrea.

Apakah gerakan Andrea akan bertahan di tengah badai komentar jahat? Waktu yang akan menjawab. Tapi satu hal pasti: ia sudah memulai langkah pertama yang berani. Dan itu, tak semua orang sanggup melakukannya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Smpn 3 doko #mpls #bullying