Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Lebih dari Fisik: 3 Bentuk Bullying yang Sering Terjadi di Sekolah

Ichaa Melinda Putri • Rabu, 23 Juli 2025 | 22:00 WIB

Lebih dari Fisik: 3 Bentuk Bullying yang Sering Terjadi di Sekolah
Lebih dari Fisik: 3 Bentuk Bullying yang Sering Terjadi di Sekolah

BLITARBullying di sekolah bukan hanya tentang kekerasan fisik. Banyak orang masih memandang enteng perilaku merundung, terutama yang tidak tampak secara langsung. Padahal, bullying bisa berbentuk verbal dan relasional, yang dampaknya jauh lebih panjang dan menyakitkan dibanding sekadar luka fisik.

Ketika mendengar kata bullying, yang langsung terbayang biasanya kekerasan fisik seperti menendang, memukul, atau menjambak. Tapi dua bentuk lainnya, yaitu bullying verbal dan relasional, sering tidak terlihat namun sangat menyiksa korban secara emosional. Pemahaman masyarakat yang masih terbatas terhadap definisi bullying membuat banyak kasus dibiarkan begitu saja.

Pada kenyataannya, bullying adalah tindakan kekerasan yang dilakukan terus-menerus dalam situasi relasi kuasa yang timpang. Pelaku merasa lebih kuat—baik secara fisik, sosial, atau status—dan korban merasa tidak punya kemampuan melawan. Karena itulah, bullying bukan hanya soal “bercanda keterlaluan” seperti yang kerap dianggap oleh sebagian orang dewasa.

Baca Juga: Bullying pada Anak Masih Marak,Kabid P3APPKB Kabupaten Blitar Meminta ke Orangtua Untuk Pahami Anaknya

Bullying Fisik: Paling Terlihat, Tapi Belum Tentu Paling Menyakitkan

Jenis ini paling mudah dikenali karena ada dampak langsung secara fisik. Contohnya seperti menampar, mendorong, menendang, atau memukul. Biasanya terjadi di tempat yang kurang diawasi, seperti kamar mandi sekolah, belakang kelas, atau saat istirahat. Walau bisa menimbulkan luka luar, dampak psikologis seperti rasa takut, trauma, dan kehilangan rasa percaya diri jauh lebih berat.

Bullying Verbal: Kata-Kata yang Menusuk dan Membekas

Ejekan, hinaan, sebutan kasar, atau komentar jahat adalah contoh bullying verbal. Ini sering terjadi di lingkungan sekolah, baik langsung maupun melalui media sosial. Kalimat seperti “kamu gendut”, “dasar anak bodoh”, atau meledek nama orang tua korban masih dianggap wajar oleh banyak siswa dan bahkan guru. Padahal, dampaknya bisa membuat anak merasa rendah diri, menarik diri dari pergaulan, bahkan mengalami stres berkepanjangan.

Bullying Relasional: Sunyi Tapi Melukai

Bullying relasional terjadi saat seseorang secara sengaja dijauhkan dari kelompok sosial. Misalnya, tidak diajak bermain, dikeluarkan dari grup WhatsApp kelas, atau dijadikan bahan gosip agar teman lain menjauh. Ini sering dialami anak-anak yang introver, berbeda, atau tidak mengikuti standar kelompok. Karena tidak ada kekerasan fisik, bentuk ini sering luput dari perhatian guru atau orang tua.

Baca Juga: Ponpes di Blitar Wajib Tugaskan Guru BK Sebagai Antisipasi Tindakan Bullying, Kemenag Kota Blitar Tegaskan Hal Ini

Seorang siswa SMP di Blitar bercerita bahwa dirinya selama berbulan-bulan tidak diajak berbicara oleh teman satu kelasnya. Tanpa sebab jelas, ia merasa dijauhi, tidak diikutsertakan dalam kegiatan kelompok, dan disebut “aneh” oleh teman-temannya. Ia sempat mogok sekolah selama dua minggu karena merasa tidak berharga. Inilah dampak nyata bullying relasional yang masih sering disepelekan.

Kenapa Orang Tua dan Guru Harus Peduli

Tiga bentuk bullying ini bisa berdampak serius pada kesehatan mental dan prestasi belajar anak. Korban bisa mengalami depresi, kehilangan semangat, bahkan dalam kasus ekstrem berpikir untuk menyakiti diri sendiri. Yang membuatnya lebih rumit, tidak semua anak mau atau bisa menceritakan pengalamannya.

Penting bagi orang tua dan guru untuk membangun komunikasi yang terbuka. Anak perlu tahu bahwa mereka aman untuk bercerita, dan bahwa apapun bentuk bullying yang mereka alami bukanlah kesalahan mereka. Sekolah juga perlu menciptakan sistem pelaporan yang mudah, aman, dan melindungi identitas korban.

Baca Juga: Cerita Reny Nurul Ita, Mantan Korban Bullying Sukses Jadi Kreator Konten, Jujur Review Produk Skincare Agar Penonton Tak Tertipu

Pencegahan dan Solusi

Mencegah bullying tidak cukup dengan aturan tegas. Butuh pendekatan yang menyentuh sisi emosional siswa. Edukasi tentang empati, rasa hormat, dan keberagaman harus dilakukan sejak dini. Program seperti roleplay, diskusi kelompok, atau pelatihan guru tentang deteksi dini bullying bisa sangat membantu.

Teman sebaya juga punya peran penting. Anak-anak perlu dilatih untuk menjadi “teman penjaga”—yang sigap membantu saat ada temannya di-bully dan tidak ikut menyebarkan ejekan atau rumor.

Saatnya Mengubah Cara Pandang

Masih banyak orang menganggap bahwa bullying hanyalah bagian dari proses tumbuh kembang, sesuatu yang “wajar” dialami semua anak. Padahal, anggapan ini justru membuat korban semakin menderita dan pelaku merasa aman.

Baca Juga: Viral Bullying di SMPN 3 Doko, Dimanakah Letak Sekolah Tersebut?

Sudah saatnya kita memahami bahwa bullying bukan sekadar masalah sekolah, tapi soal kemanusiaan. Fisik, verbal, maupun relasional—semua bentuk bullying sama-sama merusak. Mari berhenti menyepelekan, mulai mendengarkan, dan aktif menciptakan lingkungan belajar yang sehat, aman, dan ramah untuk semua anak.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Smpn 3 doko #bullying