BLITAR– Bullying di sekolah tidak hanya soal kata kasar atau fisik. Ada praktik lokal seperti paraban—menyebut nama bapak korban sebagai ejekan—yang kerap dianggap normal, namun sejatinya adalah bentuk bullying verbal yang sangat menyakitkan. Fenomena ini banyak terjadi di Jawa dan sangat dekat dengan pengalaman banyak orang yang bersekolah masa lalu.
Paraban sering dimaknai sebagai tradisi “ganggu teman”, tetapi melampaui batas guyonan. Bila disebut-sebut berkali-kali, tujuan utamanya adalah merendahkan martabat korban melalui identitas keluarganya. Ini jauh dari sekadar bercanda—karena hadirnya kekuatan sosial antara pelaku dan korban, serta intensitas pengulangan yang tinggi, menjadikannya bullying dalam arti sejati.
Begitu seseorang dijuluki dengan nama bapaknya, terutama dalam konteks hinaan atau ejekan yang terus-menerus, maka praktik itu memenuhi tiga syarat bullying: kekerasan verbal, dilakukan terus-menerus, dan didukung oleh relasi kuasa—bahkan bisa jadi oleh kelompok populer di sekolah.
Baca Juga: Momen Hari Anak Nasional 2025 Tercoreng oleh Aksi Bullying di SMPN 3 Doko Blitar
Tradisi yang Salah Kaprah
Paraban sering dipertahankan sebagai kebiasaan oleh sebagian pelajar karena dianggap “benteng keakraban” atau lelucon khas sekolah. Namun, traumatologisnya nyata: korban merasa dikhianati sistem sosial yang seharusnya menjadi tempat aman. Saat nama bapaknya digunakan sebagai bahan ejekan publik, korban sering kehilangan identitas pribadi dan dihantui rasa malu.
Peer reddit menuturkan pengalaman:“Bakal jadi bahan ejekan temen-temen ketika masuk SMP… kebanyakan dipanggil pake nama bapaknya dari Wowo...”
atau
“Pas SMP dulu banyak yang sering panggil dengan nama bapaknya… nama bapaknya Kaleng sama ibunya Rombeng.”
Contoh ini menggambarkan seberapa dalam praktik paraban mengakar di sekolah, bahkan di era sekarang masih dijumpai di berbagai tingkatan.
Baca Juga: Menghadapi Kritik hingga Bullying, Tips Raditya Dika Bertahan di Industri Kreatif
Dampak Emosional yang Mengintai Korban
Walaupun tidak berupa kekerasan fisik, bullying jenis ini punya efek long-term terhadap korban. Perundungan berbasis nama bapak membuat korban merasa kehilangan harga diri dan citra diri yang sehat. Banyak yang kemudian menarik diri dari pergaulan, menurunkan prestasi belajar, merasa cemas secara sosial, atau bahkan depresi.
Menurut data dan observasi umum, bullying verbal jenis ini termasuk dalam kategori yang paling sulit diatasi karena menyasar identitas keluarga, bukan sekadar fisik atau penampilan.
Relasi Kuasa dan Intensitas: Kunci Bullying Paraban
Jika seseorang dipanggil dengan nama bapaknya secara terus-menerus oleh teman sekelas yang lebih populer, atau dilakukan oleh geng senior, maka itu memenuhi sifat kekerasan karena relasi kuasa tidak seimbang. Pelaku merasa aman melakukannya karena berada dalam posisi dominan, dan korban sulit menolak atau melawan.
Baca Juga: Dua Kelas Tak Penuh, Bullying di SMPN 3 Doko Bukti Kerapuhan Sekolah Kecil
Namanya dijadikan bahan ejekan bukan sekali dua kali, tetapi jadi bagian lelucon sehari-hari —di kelas, kantin, grup chat— membuat korban sulit keluar dari tekanan sosial yang terus berlangsung.
Bagaimana Sebaiknya Ditanggapi?
-
Edukasi orang tua dan guru: Jelaskan bahwa menyebut nama bapak secara ejekan bukan “tradisi pendewasaan”, tapi bentuk verbal bullying.
-
Jalankan kebijakan anti-bullying: Sekolah perlu tegas menindak praktik ini dan menyediakan ruang aman bagi korban melapor tanpa takut stigma.
Baca Juga: Dua Kelas Tak Penuh, Bullying di SMPN 3 Doko Bukti Kerapuhan Sekolah Kecil -
Rangkul siswa korban: Berikan pendampingan emosional dan dukungan agar mereka merasa diakui dan dihormati.
-
Galakkan nilai saling menghormati: Program empati dan komunikasi sehat harus dimulai sejak dini untuk membentuk budaya sekolah yang inklusif.
Perspektif Kebijakan dan Moralitas
Presiden Jokowi pernah menegaskan begitu pentingnya transparansi dalam menangani bullying di sekolah, termasuk kasus yang melibatkan kekerasan verbal atau simbolik seperti paraban. Menutup-nutupi kasus semacam ini hanya melindungi citra institusi, bukan korban.
Secara norma keagamaan juga sudah ditegaskan bahwa mencela orang lain dengan identitas keluarganya bertentangan dengan prinsip saling menghormati. QS al‑Hujurat: 11 mengingatkan agar umat tidak mencela satu sama lain; Nabi Muhammad SAW pun bersabda bahwa Muslim adalah orang yang membuat orang lain selamat dari lisan dan tangannya.
Menutup Batas Guyonan, Menghindari Luka
Memanggil teman dengan nama bapaknya sejatinya bukan humor—apalagi saat berlangsung berulang dan dengan maksud melecehkan. Ini termasuk bullying verbal yang dilindungi oleh relasi kuasa. Bagi korban, ini bukan sekadar “canda”, tapi bagian dari sistem nilai yang mereduksi harga diri.
Baca Juga: Polisi Pastikan Kasus Bullying Siswi SMP di Blitar Tetap Lanjut
Waktunya masyarakat, orang tua, dan sekolah menyadari bahwa paraban bukan tradisi lucu, tapi budaya yang berbahaya. Dengan memahami dampak psikologisnya, kita bisa menghentikan perundungan semacam ini, dan mulai membangun sistem pendidikan yang memberi ruang aman serta menghormati nilai kemanusiaan.
Editor : Anggi Septian A.P.