BLITAR-, blitarkawentar.jawapos.com – Dari pengalaman pribadi menjadi korban fitnah dan perundungan di bangku SMA, Andrea Nesia kini bertransformasi menjadi simbol perlawanan terhadap bullying. Tak sendiri, ia berhasil mengajak 58 pelajar dari berbagai daerah di Indonesia untuk bergabung dalam komunitas pelajar nasional bertajuk Indonesia Bebas Bully.
Gerakan ini lahir bukan hanya dari luka, tapi juga dari tekad untuk menjadikan pengalaman pahit sebagai pijakan perubahan. Andrea, yang dikenal aktif menyuarakan mental health pelajar lewat media sosial, tak menyangka inisiasinya akan mendapat sambutan besar dari remaja se-Indonesia.
"Aku ingin apa yang aku alami tidak terjadi lagi pada siapa pun. Dari luka itu, aku tahu rasanya jadi korban. Sekarang saatnya kami bersuara bersama," ujar Andrea saat diwawancarai oleh GIS Channel.
Baca Juga: Polisi Akhirnya Ungkap Motif Aksi Perundungan Terhadap Siswa SMPN 3 Doko Blitar
Indonesia Bebas Bully menjadi salah satu komunitas pelajar dengan jaringan terluas yang difokuskan untuk memberantas bullying dari akarnya. Gerakan ini menyasar edukasi, kampanye, hingga pendampingan bagi korban bullying – baik secara langsung maupun melalui media digital.
Kiprah Andrea dan para relawan tak hanya terbatas di dunia maya. Mereka menggelar diskusi daring, kampanye kesadaran di sekolah-sekolah, hingga menyusun modul literasi psikis untuk pelajar. Setiap anggota komunitas yang tergabung berasal dari latar belakang yang berbeda-beda – dari Aceh hingga Papua, semua menyatukan suara untuk satu misi: menciptakan ruang aman dan inklusif bagi generasi muda.
“Kami melihat bahwa bullying bukan hanya soal kekerasan fisik. Tapi juga verbal, sosial, bahkan digital. Banyak remaja yang tidak sadar bahwa mereka menjadi pelaku atau korban. Ini yang kami lawan bersama,” jelas Fadhil, salah satu anggota dari Makassar yang ikut aktif dalam program mentoring komunitas ini.
Baca Juga: Momen Hari Anak Nasional 2025 Tercoreng oleh Aksi Bullying di SMPN 3 Doko Blitar
Andrea sendiri mengakui bahwa pengalaman traumatis di masa SMA menjadi titik balik dalam hidupnya. Saat itu, ia menjadi sasaran fitnah yang menyebabkan tekanan psikis berkepanjangan. Ia sempat mengalami self-harm dan menarik diri dari lingkungan sosial. Namun, dukungan dari beberapa guru dan teman dekat perlahan membangkitkan semangatnya kembali.
Berbekal pengalaman tersebut, Andrea menyadari pentingnya aktivis muda dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas bullying. “Kita gak bisa tunggu orang dewasa bergerak. Kita, sebagai pelajar, harus ambil peran juga,” katanya dengan nada tegas.
Di akun resmi Instagram @indonesiabebasbully, komunitas ini rutin membagikan cerita korban, tips menghadapi perundungan, serta ruang diskusi bagi remaja yang ingin berbagi tanpa takut dihakimi. Dalam beberapa unggahan terakhir, Andrea dan tim bahkan memperkenalkan “Relawan Telinga” – sebuah inisiatif untuk menyediakan teman bicara bagi pelajar yang tengah menghadapi tekanan mental.
Baca Juga: Sekolah Orang Tua Hebat: Harapan Baru Cegah Anak Kecanduan Judi Online
Respon dari publik cukup positif, meski beberapa kali mereka juga mendapat komentar sinis. Namun, Andrea tidak gentar. “Kalau kita diam karena takut dihujat, lalu siapa yang akan bantu teman-teman yang butuh pertolongan? Kami ada bukan karena kami kuat, tapi karena kami tidak ingin ada yang merasa sendiri seperti dulu aku pernah rasakan,” tambahnya.
Langkah Andrea dan 58 pelajar lainnya membuktikan bahwa komunitas pelajar bisa menjadi kekuatan besar dalam menciptakan perubahan sosial. Tak sedikit dari mereka yang kini menjadi pembicara di webinar, pelatih sebaya di sekolah, dan bahkan menginisiasi gerakan serupa di daerah masing-masing.
Dukungan pun datang dari beberapa lembaga pendidikan dan organisasi nirlaba yang menaruh perhatian pada isu bullying dan kesehatan mental. Mereka melihat komunitas ini sebagai jembatan antara sesama pelajar dan pihak sekolah dalam menyuarakan kebijakan anti-bullying yang konkret.
Baca Juga: Sekolah Orang Tua Hebat: Harapan Baru Cegah Anak Kecanduan Judi Online
Saat ditanya soal mimpi ke depan, Andrea menyebut ingin memperluas jaringan komunitas hingga ke sekolah-sekolah pelosok. "Banyak teman di luar kota besar yang gak punya akses informasi soal bullying, apalagi layanan konseling. Kami ingin hadir juga untuk mereka," tutupnya.
Dengan semangat kolaborasi dan empati yang kuat, gerakan Indonesia Bebas Bully kini menjelma bukan hanya sebagai wadah, tetapi juga suara harapan untuk ribuan remaja yang pernah merasakan pahitnya perundungan.
Editor : Anggi Septian A.P.