BLITAR -, BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM – Anggapan bahwa bullying adalah bagian dari "proses pendewasaan" atau sekadar "tradisi sekolah" masih menjadi momok di kalangan pelajar Indonesia. Stigma ini bukan hanya mengakar di antara siswa, tetapi juga diam-diam dimaklumi oleh sebagian guru dan orang tua. Namun, seorang pelajar SMA bernama Andrea Nesia mencoba mematahkan anggapan keliru itu lewat media yang paling dekat dengan generasinya—podcast.
Melalui platform Podcast Sekolah Bebas Bully, Andrea menyuarakan kritik tajam terhadap budaya senioritas dan kekerasan yang dibalut “kedekatan emosional”. Dalam salah satu episode bertajuk “Senior Bukan Tuhan”, ia menegaskan bahwa bullying tidak seharusnya dilihat sebagai fase wajar, melainkan bentuk kekerasan psikologis yang berdampak panjang pada mental health pelajar.
“Kalau orang dewasa masih percaya bahwa anak dibentuk dari kekerasan, lalu apa gunanya pendidikan?” ujar Andrea dalam podcast-nya yang kini telah ditonton lebih dari 150 ribu kali di GIS Channel. “Bullying bukan takdir. Dan sekolah bukan tempat pelampiasan kekuasaan senior.”
Baca Juga: Sekolah Orang Tua Hebat: Harapan Baru Cegah Anak Kecanduan Judi Online
Andrea bukan hanya berbicara berdasarkan asumsi. Dalam beberapa episode podcast-nya, ia kerap menyisipkan data riset dan hasil wawancara dengan psikolog pendidikan hingga korban bullying. Salah satunya mengutip survei LSM Sahabat Remaja, yang menunjukkan bahwa 7 dari 10 pelajar pernah mengalami bullying dalam bentuk verbal, fisik, hingga cyberbullying.
Podcast ini menjadi ruang alternatif bagi siswa untuk bercerita tanpa takut dicemooh. Bahkan beberapa sekolah kini mulai menjadikan podcast tersebut sebagai bahan diskusi dalam program bimbingan konseling.
“Awalnya saya cuma ingin curhat soal pengalaman pribadi, tapi makin banyak teman dari kota lain yang menghubungi dan bilang: ‘Aku juga pernah ngerasa kayak kamu’,” ungkap Andrea dalam wawancara eksklusif bersama GIS Channel.
Baca Juga: Polisi Akhirnya Ungkap Motif Aksi Perundungan Terhadap Siswa SMPN 3 Doko Blitar
Stigma bahwa bullying adalah bagian dari senioritas atau ‘cinta keras’ masih melekat kuat, terutama di sekolah dengan kultur hierarki yang kaku. Andrea menyoroti hal ini sebagai bentuk kekerasan terstruktur yang perlu dibongkar melalui edukasi publik.
“Saya pernah dicubit, ditendang, disuruh push-up di tengah lapangan hanya karena salah hormat. Lalu mereka bilang: itu buat saya kuat,” ucap salah satu narasumber anonim di podcast Andrea.
Respons publik pun terpecah. Sebagian memuji keberanian Andrea membongkar praktik keliru dalam sistem sekolah. Namun tak sedikit pula yang mengecamnya karena dianggap membuka aib sekolah. Andrea mengakui, tekanan mental dari komentar negatif sempat membuatnya nyaris menyerah.
“Tapi saya sadar, kalau saya diam, saya membiarkan generasi selanjutnya mengalami luka yang sama,” tegasnya.
Podcast ini telah membuka diskusi lebih luas, bahkan menjadi perhatian Dinas Pendidikan di beberapa daerah. Kepala Seksi Kesiswaan Dindik Jatim, Bambang Haryono, mengatakan bahwa pendekatan edukatif semacam ini layak diapresiasi.
“Langkah Andrea adalah bentuk nyata partisipasi siswa dalam menata budaya sekolah. Ini cara kekinian untuk bicara serius soal isu penting,” kata Bambang dalam sesi webinar bertajuk Remaja Tanpa Luka.
Baca Juga: Momen Hari Anak Nasional 2025 Tercoreng oleh Aksi Bullying di SMPN 3 Doko Blitar
Tak hanya berhenti di podcast, Andrea juga menggagas workshop bertajuk “Kelas Anti-Bullying” yang kini telah menjangkau lebih dari 20 sekolah secara daring. Kegiatan ini berfokus pada literasi emosi, penyadaran hak-hak pelajar, hingga pelatihan ‘speak up’ bagi korban perundungan.
Andrea mengajak pelajar lain untuk tidak diam, tidak pula membalas kekerasan dengan kekerasan. “Yang kita butuhkan bukan senior galak, tapi teman yang saling jaga,” tutupnya dalam episode pamungkas musim pertama podcast tersebut.
Kini, perjuangan Andrea Nesia melalui media digital telah menjelma menjadi gerakan kolektif yang tak lagi bisa diremehkan. Lewat suara, data, dan keberanian, ia menantang sistem lama yang menormalisasi luka—dan mengubahnya menjadi ruang aman untuk generasi pelajar berikutnya.
Baca Juga: Dari Judi ke Pinjol, Lalu Bunuh Diri: Kisah Tragis yang Nyata di Sekitar Kita