Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Bukan Cuma Pelaku, Keluarga pun Jadi Korban Judi Online

Dimas Galih Nur Hendra Saputra • Kamis, 24 Juli 2025 | 05:00 WIB

Bukan Cuma Pelaku, Keluarga pun Jadi Korban Judi Online
Bukan Cuma Pelaku, Keluarga pun Jadi Korban Judi Online

Blitar – Ketika seseorang terjerat judi online, yang menjadi korban bukan hanya dirinya sendiri. Di balik layar ponsel yang penuh putaran angka dan taruhan instan itu, ada keluarga yang ikut hancur: istri yang kehilangan kepercayaan, orang tua yang harus menanggung utang, hingga saudara yang harus menutup aib.

Hal ini diungkapkan secara lugas oleh psikolog RSUD Mutiara Yowlingi, Bu Yeni Rafiqah, dalam tayangan YouTube Radar Blitar TV. Ia menyebut bahwa dampak judi online sudah meluas hingga membebani relasi sosial pelaku—khususnya keluarga inti.

“Sering kali, pelakunya tidak menyadari bahwa kekalahan yang ia derita di layar HP, juga menjadi beban di pundak orang-orang terdekatnya,” ujar Bu Yeni.

Istri Menanggung Derita, Anak Jadi Tumbal

Baca Juga: Wali Kota Blitar Mas Ibin Berharap Korps Adhyaksa Makin Profesional dan Junjung Integritas

Bu Yeni menceritakan salah satu kasus yang ia tangani, seorang ibu rumah tangga yang datang ke rumah sakit dengan keluhan psikosomatis. Setelah ditelusuri, ternyata sumber stres beratnya adalah ulah suaminya yang terjerat judi online dan pinjol.

“Sang suami berhutang atas nama istri, bahkan ada pinjaman yang dicairkan menggunakan data anak-anak. Si ibu sampai harus menjual perhiasan kawin dan motor, hanya untuk menutup utang suaminya,” ungkapnya.

Lebih menyedihkan lagi, sang anak yang duduk di bangku SMP sempat tidak berani berangkat sekolah karena teman-temannya mulai mengejek dan mengetahui masalah keluarganya lewat sebaran penagih pinjol di WhatsApp grup warga.

Orang Tua yang Menanggung Aib dan Utang

Tak hanya istri, orang tua pun sering kali menjadi korban berikutnya. Dalam kasus lain, seorang ibu berusia 60-an tahun datang ke psikolog karena merasa malu dan tidak berani keluar rumah. Anaknya, yang baru saja bekerja di luar kota, terlilit judi online dan meminjam uang dengan jaminan nama keluarga.

Baca Juga: Jangan Andalkan Bansos Seumur Hidup: Gus Ipul Tegaskan Target 5 Tahun Graduasi Penerima

“Si ibu ini sampai harus menggadaikan sawah. Tapi bukan karena anaknya sakit atau tertimpa musibah, melainkan karena kekalahan di meja judi online. Itu yang membuat rasa malunya berkali-kali lipat,” tutur Bu Yeni.

Ia menambahkan, dalam budaya Jawa yang menjunjung tinggi kehormatan keluarga, aib semacam ini bisa berdampak lebih besar daripada sekadar kerugian materi. Ada rasa gagal sebagai orang tua yang melekat, bahkan bisa menyebabkan depresi.

Trauma Sosial dan Tekanan Mental Kolektif

Menurut Bu Yeni, dampak judi online menular secara sosial. Artinya, satu orang yang kecanduan bisa menciptakan trauma kolektif di lingkungan terdekatnya. Saudara ikut menanggung malu, tetangga ikut bergunjing, dan pertemanan pun rusak.

“Ini bukan soal individu lagi. Ketika satu orang terjebak, satu rumah bisa ikut terguncang. Bahkan di beberapa kasus, seluruh keluarga memutuskan pindah rumah demi menghindari stigma dan tekanan sosial,” jelasnya.

Baca Juga: Solidaritas Publik Harus Disalurkan Legal: Gus Ipul Ingatkan Maraknya Donasi Tanpa Izin

Trauma yang dialami keluarga tidak hanya bersifat ekonomi, tapi juga emosional. Ketika kepercayaan hancur, hubungan suami-istri atau orang tua-anak bisa membeku. Banyak istri yang kemudian mengalami gangguan tidur, cemas berlebihan, hingga kehilangan gairah hidup.

Dampak Jangka Panjang: Anak yang Tumbuh dengan Luka

Bu Yeni juga mengingatkan bahwa anak-anak yang tumbuh di lingkungan penuh utang dan konflik akibat judi online berisiko tinggi mengalami luka psikologis jangka panjang. Mereka bisa menjadi pemarah, menarik diri, atau justru menormalisasi perjudian karena melihatnya sebagai hal biasa.

“Anak yang melihat ayahnya berteriak tiap malam karena kalah judi, ibunya menangis karena dikejar debt collector, akan tumbuh dengan perasaan tidak aman. Dan itu bisa memengaruhi masa depan mereka,” katanya.

Inilah mengapa penanganan judi online tidak cukup dengan hanya memutus akses atau menutup aplikasi. Harus ada pendekatan holistik yang menyentuh ranah psikologi, edukasi digital, dan penguatan struktur keluarga.

Baca Juga: Bukan Cuma Kolesterol Tinggi, Ini Pemeriksaan Lain yang Bisa Selamatkan Nyawamu

Keluarga Harus Kompak Melawan

Sebagai penutup, Bu Yeni mengajak semua anggota keluarga untuk saling jaga dan saling jujur. Ketika ada satu anggota yang mulai mencurigakan: suka meminjam uang, tiba-tiba emosional, sering menyendiri dengan HP—jangan diam saja.

“Keluarga jangan takut konfrontasi. Lebih baik marah sekarang daripada menyesal ketika semuanya sudah terlambat. Bangun komunikasi dan cari bantuan profesional,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah dan masyarakat bisa bahu-membahu dalam menghadapi epidemi judi online ini. “Karena kalau hanya pelakunya yang diberi hukuman atau dimarahi, tapi keluarga tak diberi pendampingan, maka siklusnya akan terus berulang,” pungkasnya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#judi online