BLITAR - Di sisi lain, kesehatan anak tak luput dari perhatian serius pemerintah. Melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), kesehatan anak termasuk usia pelajar menjadi sasaran program tersebut.
Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) akan mengoptimalkan pelaksanaan program CKG untuk pelajar mulai jenjang SD hingga SMA.
Program ini menjadi bagian dari deteksi dini gangguan kesehatan sekaligus upaya penanganan kasus obesitas dan anemia pada anak usia sekolah. Melalui CKG, penanganan terhadap gangguan kesehatan bisa lebih dini dan meminimalisasi risiko.
“Program CKG ini kami galakkan di sekolah-sekolah. Kami libatkan semua unsure sekolah mulai kepala sekolah, guru, siswa hingga orang tua atau wali murid,” terang Kepala Dinkes Kota Blitar, dr Dharma Setiawan.
Dharma menjelaskan, sedikitnya ada 17 parameter kesehatan yang menjadi objek pemeriksaan. diperiksa.
Di antaranya adalah suhu tubuh, tekanan darah, denyut jantung, berat badan, tinggi badan, ketajaman penghilatan, kebugaran jasmani, gula darah, hingga kolesterol.
”Parameternya lumayan banyak. Karena keterbatasan waktu dan jumlah siswa yang besar, pengisian data parameter kesehatan akan dilakukan melalui Google Form oleh siswa, dengan pendampingan guru dan orang tua,” jelasnya.
Pemeriksaan kesehatan dilakukan dengan bahasa yang sederhana agar siswa mudah mengisi dan memahami. Guru dan orang tua bisa mendampingi.
”Tujuan CKG ini tentu upaya deteksi dini terhadap gangguan kesehatan anak-anak. Kami ingin anak-anak mendapat hak sama mengikuti CKG,” ujarnya.
Selain itu, khusus siswa kelas VII SMP dan kelas X SMA ada pemeriksaan tersendiri, yakni skrining anemia. Pemeriksaan yang dilakukan berupa pemeriksaan darah.
“Kami ingin mendapatkan profil kesehatan peserta didik secara utuh, khususnya mereka yang kelak akan menjadi calon ibu. Harapannya, tidak ada lagi kehamilan dalam kondisi sakit dan kasus stunting (gizi buruk),” ujarnya.
Nantinya, data hasil CKG dikelola dalam sistem berbasis Google Form, yang ke depan bisa disinergikan dengan aplikasi Sejahtera milik Pemkot Blitar.
Dinkes juga bekerja sama dengan Bappeda dan Sekda untuk menganalisis data, termasuk hubungan antara status gizi (desil) dan kejadian anemia.
”Kalau desil tinggi tapi tetap anemia, itu jadi indikator lain. Program ini langkah awal penting untuk menyajikan data yang bisa digunakan dalam perencanaan pembangunan kesehatan,” pungkasnya. (mg2/sub) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah