BLITAR – Kesenjangan pendidikan di Indonesia ternyata tak hanya terjadi antarwilayah atau antar strata sosial.
Fakta yang mencengangkan datang dari struktur rumah tangga, hanya 12% kepala rumah tangga di Indonesia yang memiliki pendidikan setingkat sarjana (S1).
Artinya, 88% lainnya belum merasakan bangku perkuliahan dan ini membawa konsekuensi besar terhadap proses tumbuh kembang anak-anak di rumah.
Dalam sebuah diskusi Syauqi Robbani bersama Gita Wirjawan, terungkap bahwa peran orang tua dalam mendukung pendidikan dan imajinasi anak sangat bergantung pada kualitas pendidikan yang mereka miliki.
Pendidikan formal yang lebih tinggi tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga memperkuat kapasitas orang tua untuk mendampingi anak secara intelektual dan emosional.
“Orang tua yang tidak punya playbook pendidikan karena hanya lulusan SMA atau bahkan di bawahnya, sering kali tidak punya modal imajinatif yang cukup untuk menyiapkan anak menghadapi masa depan,” ujar Gita.
Hal ini semakin diperparah oleh kondisi saat ini, di mana orang tua cenderung overprotective terhadap aktivitas anak secara offline, namun underprotective terhadap aktivitas online.
Ketidaktahuan akan dampak konten digital menyebabkan banyak anak terekspos pada informasi berbahaya tanpa pengawasan yang memadai.
Padahal, di tengah era digital dan bonus demografi, peran orang tua seharusnya semakin strategis.
Ironisnya, banyak orang tua tidak memiliki pemahaman mendalam tentang bagaimana mempersiapkan anak untuk dunia yang terus berubah.
“Kita tidak bisa hanya berharap sekolah menyelesaikan semua permasalahan pendidikan. Teaching itu scalable, tapi parenting sangat personal dan mendalam. Ketika 88% kepala rumah tangga tidak berpendidikan tinggi, maka disrupsi positif terhadap perjalanan akademik anak menjadi semakin sulit,” tambah Gita.
Editor : M. Subchan Abdullah