BLITAR – Guru SD dan SMP Kabupaten Blitar mulai digencarkan menjalani pelatihan guru untuk dua program prioritas Kementerian Pendidikan, Dasar, dan Menengah (Kemendikdasmen). Dua program tersebut adalah Pembelajaran Mendalam dan Koding Kecerdasan Artifisial (KKA).
Sayangnya, ada satu kecamatan yang tidak ikut dalam program ini karena tidak memenuhi salah satu indikator penentuan BOS Kinerja.
Kepala Bidang Kurikulum Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Blitar, Binti Mushtolifah mengatakan, pelatihan ini diberikan untuk semua jenjang pendidikan mulai PAUD, SD, SMP, SMA, hingga SMK.
Namun, tahap awal fokus diberikan kepada SD dan SMP penerima BOS Kinerja. “Program koding untuk jenjang SD dan SMP tahap in-1 sudah selesai.
Pelatihannya luring selama lima hari, dilanjutkan pembelajaran daring di LMS selama 2,5 bulan, dan ditutup in-2 selama tiga hari. Saat ini kami bersiap masuk tahap OJT atau on the job training,” ujar Binti.
Sementara itu, pelatihan Pembelajaran Mendalam sudah dimulai sejak 2 Agustus lalu. Kegiatan ini berlangsung 6 hari untuk guru dan 5 hari untuk kepala sekolah. Prioritas peserta ditentukan langsung oleh Kemendikdasmen melalui Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBHTK) Provinsi Jawa Timur.
Binti menyebut, dari total peserta, terdapat lebih dari 100 guru dan kepala sekolah SD dan SMP yang terlibat. Namun, ada pengecualian wilayah yakni Kecamatan Kesamben yang tidak masuk sasaran dalam program pelatihan ini.
Hal itu karena wilayah tersebut tidak ada guru atau kepala sekolah yang memiliki sertifikasi sekolah penggerak, yang menjadi salah satu indikator penentuan BOS Kinerja.
“Meski begitu, dispendik berupaya agar guru di luar sasaran tetap mendapatkan imbas pelatihan. Kami bisa mengimbaskan melalui pengawas sekolah sebagai fasilitator Pembelajaran Mendalam,” ungkapnya.
Dia melanjutkan, Pembelajaran Mendalam bukan kurikulum baru, melainkan metode atau strategi yang bertujuan membuat proses belajar lebih bermakna, menyenangkan, dan mendorong rasa ingin tahu dari siswa.
Sejauh ini banyak pembelajaran yang masih bersifat surface learning atau dasar. Dengan metode ini, siswa diharapkan belajar tanpa tekanan, merasa butuh, dan menikmati prosesnya. “Bahkan untuk mata pelajaran yang dianggap sulit seperti matematika, bisa dinikmati dengan menyenangkan,” jelas Binti.
Untuk KKA Coding AI, Binti menyebut bahwa sebenarnya materi koding sudah ada di pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) SMP. Namun, program ini memberikan penguatan kompetensi guru agar mampu mengajarkan koding secara lebih terstruktur dan aplikatif.
“Pendanaan seluruh kegiatan pelatihan berasal dari BOS Kinerja sesuai juknis sehingga tidak membebani guru secara pribadi. Setelah pelatihan, guru diharapkan mengimplementasikan materi ke siswa sehingga kualitas pembelajaran meningkat,” pungkasnya. (jar/c1/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah