BLITAR – Maulid Nabi selalu menjadi momentum istimewa bagi umat Islam. Peringatan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW bukan sekadar tradisi, melainkan ungkapan kerinduan mendalam yang diwariskan lintas generasi.
Sejak awal sejarahnya, Maulid Nabi tumbuh dari rasa rindu umat yang tercerai berai. Mereka mencari cara untuk kembali menyatu dengan cinta kepada Rasulullah. Dari situlah perayaan ini hadir, bukan sekadar pesta, tetapi jalan untuk menyalakan kembali cahaya kasih sayang Nabi di hati umat.
Kelahiran Nabi Muhammad SAW di bulan Rabiul Awal bukan peristiwa biasa. Dalam catatan sejarah, cahaya kenabian tampak sejak beliau lahir. Istana Kisra berguncang, api kaum Majusi padam, bahkan dinding gereja runtuh. Semua menjadi pertanda hadirnya rahmat bagi semesta alam.
Al-Qur’an surat Al-Anbiya ayat 107 menegaskan: “Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” Ayat ini menjadi dasar bahwa kelahiran Rasulullah bukan hanya peristiwa sejarah, melainkan anugerah terbesar bagi dunia.
Namun, perjalanan umat Islam tidak selalu mulus. Seiring berjalannya waktu, perbedaan suku, kepentingan politik, dan perebutan kekuasaan membuat umat terpecah. Kerinduan kepada Nabi seolah tertutup kabut perpecahan yang panjang.
Dalam suasana itulah, Maulid Nabi menjadi sarana untuk menyatukan hati kembali. Lantunan shalawat, pembacaan sirah Nabawiyah, dan doa-doa dalam peringatan Maulid menghadirkan suasana haru. Umat diingatkan kembali pada sosok panutan sejati yang penuh kasih sayang dan pengorbanan.
Sejak masa Dinasti Fatimiyah di Mesir, perayaan Maulid Nabi digelar secara besar-besaran. Jalan-jalan dipenuhi lentera minyak, rakyat berkumpul dalam suka cita, dan gema shalawat menggema. Namun, sebagian sejarawan mencatat adanya nuansa politik di balik kemeriahan itu. Maulid menjadi sarana legitimasi penguasa, meski rakyat tetap menikmatinya sebagai ungkapan cinta pada Nabi.
Berbeda dengan itu, pada masa Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, Maulid Nabi kembali dihidupkan untuk membangkitkan semangat jihad. Kala itu Yerusalem jatuh ke tangan pasukan Salib. Melalui peringatan Maulid, rakyat disatukan kembali dengan kisah Rasulullah yang sabar dan penuh pengorbanan. Air mata rindu berubah menjadi semangat perjuangan hingga akhirnya Al-Aqsa berhasil direbut kembali.
Dari Irak, Maulid juga berkembang dalam wajah yang berbeda. Sultan Al-Muzaffar bersama ulama menjadikan Maulid sebagai momentum berbagi. Ribuan makanan, pakaian, dan sedekah dibagikan kepada fakir miskin. Perayaan ini membuktikan bahwa cinta kepada Rasulullah bisa diwujudkan dalam amal nyata, bukan hanya ucapan.
Ketika Islam masuk ke Nusantara, tradisi Maulid berakulturasi dengan budaya lokal. Para wali menggunakan tradisi masyarakat Jawa sebagai media dakwah. Lahirlah Grebeg Mulud, pembacaan kitab Barzanji, serta syair-syair yang berisi kisah hidup Rasulullah. Semua dikemas dengan nuansa gotong royong dan kebersamaan yang mengakar dalam budaya masyarakat.
Tradisi itu menjadi jalan lembut mengenalkan Islam kepada masyarakat Jawa. Dengan cara itu, umat tidak merasa dipaksa, melainkan jatuh cinta secara alami kepada Rasulullah. Hingga kini, perayaan Maulid di Nusantara masih berlangsung meriah, baik di masjid-masjid maupun di desa-desa dengan berbagai tradisi khas daerah.
Namun, di balik itu muncul perdebatan. Sebagian menilai Maulid Nabi adalah bidah yang tidak perlu dirayakan. Sebagian lain menganggapnya sebagai sarana menghidupkan cinta kepada Rasulullah. Imam Jalaluddin As-Suyuti dalam kitab Al-Hawwi Lil Fatawi bahkan menegaskan Maulid sebagai bidah hasanah, perbuatan baik yang mendatangkan pahala.
Meski berbeda pandangan, satu hal yang jelas: kerinduan umat kepada Rasulullah menjadi nyawa peringatan ini. Setiap kali sirah dibacakan, hati luluh. Setiap shalawat dilantunkan, air mata jatuh. Umat seakan kembali merasakan senyum dan doa Rasulullah untuk mereka.
Di Blitar dan daerah lain, Maulid Nabi bukan sekadar peringatan keagamaan. Ia menjadi ruang kebersamaan, tempat masyarakat berkumpul, berdoa, dan bersyukur. Bahkan sering kali peringatan ini diiringi dengan santunan anak yatim, pengajian, dan kegiatan sosial lain.
Pertanyaan besar tetap menggantung: apakah Maulid Nabi hanya berhenti pada perayaan lahiriah, atau benar-benar menumbuhkan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari? Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menghidupkan sunahku, maka ia benar-benar mencintaiku. Dan barang siapa mencintaiku, ia akan bersamaku di surga.”
Sabda itu menjadi pengingat bahwa cinta sejati tidak berhenti pada ucapan atau ritual. Cinta harus hadir dalam amal nyata, dalam kejujuran, kasih sayang, kepedulian, dan pengorbanan. Itulah warisan terpenting dari Rasulullah yang harus terus dijaga umat Islam.
Maulid Nabi akhirnya bukan sekadar pesta atau ritual tahunan. Ia adalah cermin kerinduan, cahaya persatuan, dan pengingat bahwa cinta kepada Rasulullah harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. Dari Mesir hingga Blitar, dari Irak hingga Nusantara, gema shalawat terus bergema. Menyatukan umat dalam satu ikatan batin: cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
Editor : Anggi Septian A.P.