BLITAR – Maulid Nabi tidak hanya menjadi momentum spiritual, tapi juga sosial. Peringatan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW di berbagai daerah selalu dibarengi dengan kegiatan kebersamaan, mulai dari santunan anak yatim hingga gotong royong warga.
Di banyak kampung di Blitar, Maulid Nabi dirayakan dengan sederhana namun penuh makna. Warga bergotong royong menyiapkan tumpeng, aneka makanan tradisional, hingga panggung pengajian. Semua dilakukan bersama-sama, tanpa membeda-bedakan status sosial.
“Ini bukan sekadar peringatan agama, tapi ajang kebersamaan. Kita bisa berbagi dengan yatim piatu, sambil mengingat perjuangan Rasulullah,” ujar Ahmad, salah satu tokoh masyarakat di Kecamatan Kanigoro.
Kegiatan santunan anak yatim menjadi tradisi yang hampir selalu hadir dalam Maulid Nabi. Umat meyakini, dengan menyantuni anak yatim, mereka meneladani kasih sayang Rasulullah. Dalam banyak hadis disebutkan, Nabi sangat mencintai anak-anak dan menjadikan mereka bagian dari keluarganya.
Selain santunan, banyak desa juga menggelar pengajian akbar. Lantunan shalawat menggema, kitab Barzanji dibacakan, dan kisah hidup Nabi diulas kembali. Suasana religius berpadu dengan semangat sosial. Anak-anak, remaja, hingga orang tua semua larut dalam kebersamaan.
Maulid Nabi di Nusantara memang kaya dengan tradisi unik. Di Blitar, beberapa daerah masih mempertahankan tradisi arak-arakan tumpeng raksasa. Setelah doa bersama, tumpeng diperebutkan warga sebagai simbol berkah dan rezeki.
Tradisi ini mencerminkan filosofi Jawa tentang “sedulur sak lawase” atau persaudaraan sepanjang masa. Maulid menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarwarga. Tidak hanya umat Islam, tapi juga masyarakat lintas agama sering terlibat dalam persiapan acara.
“Kalau di kampung kami, yang Kristen juga ikut bantu bikin janur atau menata kursi. Jadi ini bukan hanya milik umat Islam, tapi sudah jadi budaya bersama,” kata Siti, warga Kecamatan Wlingi.
Nilai kebersamaan itu sejatinya sejalan dengan misi Rasulullah sebagai rahmat bagi semesta alam. Cinta Nabi bukan hanya untuk umat Islam, melainkan membawa manfaat bagi semua makhluk. Karena itu, Maulid Nabi di Nusantara kerap menjadi perekat harmoni sosial.
Tak sedikit pula pesantren yang mengisi Maulid dengan kegiatan sosial, seperti donor darah, pengobatan gratis, hingga bazar murah. Semua kegiatan ini bertujuan menghadirkan teladan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Pengasuh salah satu pesantren di Srengat menegaskan, Maulid tidak boleh hanya berhenti pada ritual. “Kalau kita benar-benar cinta Rasulullah, maka teladan beliau harus hadir dalam kepedulian sosial. Jangan hanya sekadar baca shalawat, tapi miskin aksi nyata,” ujarnya.
Sejarah mencatat, Sultan Al-Muzaffar di Irak mempopulerkan Maulid dengan berbagi makanan dan pakaian untuk fakir miskin. Tradisi ini lalu diwarisi di berbagai negeri muslim. Di Indonesia, wujudnya berupa tumpeng, sedekah bumi, atau santunan yatim.
Meskipun ada perdebatan soal hukum merayakan Maulid Nabi, tradisi sosial ini tetap dipertahankan. Sebagian ulama menilai, kegiatan sosial dalam Maulid justru menghidupkan ajaran Islam tentang kasih sayang, persaudaraan, dan solidaritas.
Di era modern, peringatan Maulid juga mulai dikemas secara kreatif. Beberapa komunitas pemuda di Blitar mengadakan lomba hadrah, festival shalawat, hingga bakti sosial ke panti jompo. Hal ini membuktikan bahwa Maulid masih relevan dan mampu menjawab tantangan zaman.
Generasi muda menjadi bagian penting dari pelestarian tradisi ini. Mereka tidak hanya mewarisi cara lama, tapi juga mengembangkan bentuk baru yang lebih dekat dengan anak muda. Misalnya, membuat konten dakwah di media sosial dengan tema Maulid Nabi.
Meski begitu, esensi Maulid tetap sama: menumbuhkan cinta kepada Rasulullah. Shalawat menjadi pengikat batin, sementara aksi sosial menjadi bukti nyata. Perayaan Maulid akhirnya hadir sebagai kombinasi spiritual dan sosial yang saling melengkapi.
Di tengah gempuran modernisasi, Maulid Nabi justru menunjukkan daya tahannya. Di Blitar dan sekitarnya, ribuan warga masih antusias setiap kali bulan Rabiul Awal tiba. Bagi mereka, Maulid bukan hanya nostalgia masa lalu, tapi juga ruang kebersamaan di masa kini.
Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Sabda ini seakan menjadi ruh dari peringatan Maulid di Nusantara. Cinta kepada Nabi tidak cukup di hati, tapi harus tampak dalam manfaat bagi sesama.
Dengan semangat itu, Maulid Nabi di Blitar dan daerah lain selalu hidup. Ia tidak sekadar perayaan agama, tapi juga pesta sosial yang penuh makna. Santunan anak yatim, gotong royong warga, hingga harmoni antarumat beragama menjadi bukti bahwa Maulid Nabi adalah tradisi yang menyatukan.
Editor : Anggi Septian A.P.